Langsung ke konten utama

Bunuh! (1)


Aku mematikan semua lampu yang ada di dalam kamarku. Membeku di sudut kamar tidur. Tersenyum dalam gelap. Menikmati semua kepekatan itu dalam diam. Tak ada yang memahami bagaimana aku menyukai kegelapan ini. Membuatku buta. Membuatku tak bisa menggunakan pancaindraku dengan sempurna. Sebuah langkah terdengar cepat mendekati pintu kamar yang kutempati. Bukan hanya kamarku. Ini kamar yang aku tempati bersama saudara sepupuku.

“Claudia!” dia berteriak nyaring.

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Sudah letih dengan semua teriakan yang dia keluarkan setiap hari. Langkahnya berhenti di dalam kamar. Pintu terbuka membuat angin dingin masuk dan menyergapku. Pasti di ruang tengah sedang menyalakan pendingin ruangan. Suhu di kamar ini terasa lebih hangat sebelumnya. Sekarang dingin.

“Nyalakan lampunya!”

Aku diam. Tak menjawab dan tak bergerak. Aku tak ingin menyerah dengan teriakannya.

“Apalagi sih kalian ini!” terdengar suara kakak sepupuku yang usianya dua tahun di atas kami terganggu.

Aku yakin dia sedang menonton sinetron favoritnya di ruang tengah. Sendirian. Sebab orang tuanya belum pulang kerja. Terdengar bunyi 'klik' kecil di dinding. Lampu yang tadinya aku matikan sekarang sudah menyala kembali.

“Tinggal nyalakan saja, tak usah teriak-teriak! Ganggu!” kakak sepupuku itu memperingatkan adiknya dengan teriakan yang lebih nyaring.

Aku tersenyum sambil menutup wajahku dengan selimut. Berusaha mencari kegelapan yang lain. Kakak sepupuku, Marsella, keluar dari kamar dan membanting pintu kamar kami. Sepupu yang seumuran denganku itu terlihat dari balik selimut tipis yang kugunakan untuk menutup wajahku. Dia bergerak menyalakan lampu di meja belajarnya. Sekarang semuanya menjadi terang kembali. Padahal aku berharap bisa menikmati suasana dalam kegelapan ini dengan lebih tenang. Tanpa teriakan.

“Rhea...” aku memanggilnya dengan suara bergetar.

“Apa?” dia menyahut dengan kasar.

Aku masih memperhatikannya dari balik selimut. Tersenyum. Tepatnya aku menyeringai.

“Kamu benci denganku?”

“Aku benci kegelapan Claudia...” suaranya entah bagaimana menjadi melunak dalam hitungan detik.

“Kegelapan itu tenang, dengan berada di dalam gelap kita akan belajar untuk menghargai cahaya. Dengan kegelapan pula kita tidak akan menilai orang dari rupanya.”

“Tapi aku tak bisa belajar dalam gelap Claudia.”

“Kamu takut dengan kegelapan.”

“Aku benci gelap...”

“Gelaplah yang menyelamatkan kita hari itu Rhea.”

Sepupu yang usianya sama denganku itu terduduk lemas di kursi. Suara-suara itu. Dia pasti masih mendengarnya.

“Bunuh!”

“Bunuh!”

“Bunuh!”

Aku pun masih mendengarnya. Tapi Rhea menyimpannya sebagai kenangan yang sangat buruk. Dia sering mengigau dalam kegelapan. Aku sendiri mengingatnya sebagai titik balik terbesar dalam kehidupanku. Saat itu aku mendengarnya dengan jelas. Suara-suara orang yang menuju kematian. Suara orang tuaku. Suara saudaraku. Suara pembantuku. Suara pembunuh itu juga masih terdengar sangat jelas. Anehnya aku tak meneteskan air mata sama sekali. Berbeda dengan Rhea yang menangis meraung-raung melihat mayat yang bergelimpangan di ruang tamu dan kamar tidur rumah kami.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan