Langsung ke konten utama

Bersiap Terima Penolakan


Dari dulu mengirimkan naskah langsung ke penerbit mayor sebenarnya adalah hal yang rasanya sangat menakutkan. Belum lagi waktu yang harus dihabiskan untuk menunggu. Sia-sia. Kadang merasa lebih baik naskahnya diterbitkan ke blog saja dan mendapatkan pembacanya secara online, tetapi sekarang saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah yang sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu buat lomba dan ternyata hanya selesai 30 halaman dihari terakhir.

Saya rasa Tuhan punya janji yang lain buat saya. Bukan janji untuk mengikuti lomba. Tapi mengirimkan naskahnya langsung ke penerbit mayor. Kalau ditolak satu penerbit saya rasa bukan hal yang buruk. Sebab masih banyak penerbit lainnya yang mencari naskah untuk diterbitkan. Bisa jadi naskah tersebut cocok di penerbit yang lain jika memang ditolak oleh penerbit pertama yang menerima naskah saya.

Kalau ditanya apakah saya cukup percaya diri? Jujur saya sama sekali tidak percaya diri dengan tulisan saya akhir-akhir ini. Rasanya masih banyak yang kurang yang harus saya perbaiki. Menulis nonfiksi memang jauh lebih mudah. Tetapi impian saya selama ini adalah menerbitkan novel di penerbit mayor. Bukan hanya menerbitkan kumpulan cerita pendek di Transmedia.

Mengingat kembali buku kumpulan cerpen Cinta yang akhirnya terbit di penerbit mayor, Transmedia adalah hal yang tak pernah diduga. Sebab saya sudah melupakan karya yang saya kirimkan waktu itu. Senang pada akhirnya buku tersebut terpajang di Gramedia.


Sekarang memberanikan diri lagi untuk mengirim karya yang lebih panjang dan lebih kompleks. Novel. Sudah saatnya untuk menerima penolakan dari berbagai penerbit hingga akhirnya akan benar-benar tembus dan terpajang di toko buku besar. Mohon doanya ya. :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan