Langsung ke konten utama

Tentang Hutang


Pernahkah kita berhutang dengan seseorang yang pada akhirnya kita sendiri tak mampu untuk membayarnya? Si teman menagih tanpa henti tapi jawaban kita selalu belum dan belum lagi-lagi belum? Memiliki hutang sebenarnya sesuatu yang cukup menakutkan bagi saya sebab itu artinya ada sesuatu yang menyangkut kita yang harus dilunasi dengan orang lain. Apalagi kalau sampai kita sendiri ternyata kesulitan menyelesaikannya.

Ada cerita tentang seseorang yang memiliki hutang dengan saya dua tahun yang lalu, kurang lebihnya. Saya menagih karena memang itu kewajiban saya untuk mengingatkan bahwa dia lebih baik menyelesaikan semuanya di dunia. Saya tidak ingin ada sangkut paut dengannya di akhirat nanti. Alangkah menyebalkannya nanti jika kita harus membayar hutang di dunia dengan amalan kita yang tak seberapa di akhirat nanti. Itu yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri.

Seseorang ini juga saya ingatkan demikian. Lebih baik baginya untuk menyelesaiakannya di dunia saja dengan jumlah uang yang sama dengan hutangnya. Tak ada pembayaran menggunakan amalan dan menunggu hari akhir nantinya. Lalu kemarin sore seseorang ini ternyata meninggal dunia. Saya sebenarnya tidak begitu menyayangkan jumlah uang yang merupakan hutangnya tersebut. Sebab setiap hari Tuhan selalu menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak lagi. Sangat banyak malahan. Berkali-kali lipat jumlahnya.

Untungnya saya masih ada di dunia ini untuk merelakan kepergiannya dan menyelesaikan semuanya di dunia saja. Kalau memang ada yang ingin melunasi alangkah lebih baik. Kalau memang tidak ada mengikhlaskan tentunya jauh lebih baik lagi. Saya jadi ngeri mengingat pembicaraan kami sekitar setahun yang lalu saat saya mengingatkan dirinya untuk melunasi hutang tersebut. Saya tak akan menyebutkan namanya karena memang seseorang yang memiliki hutang piutang dengan saya ini sudah meninggal dunia dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan betapa pentingnya untuk menyelesaikan semua hutang yang ada di dunia ini dalam bentuk uang saja. Tak perlu menunggu terlalu banyak uang untuk membayarnya. Lebih baik menahan semua keinginan sebelum melunasi semua hutang tersebut. Karena memiliki hutang itu rasanya tak bisa tidur dengan tenang dan makan pun rasanya tak enak. Selalu ada yang mengejar di belakang.

Setiap orang yang meninggal dunia juga akan ditanya apakah si mati ini punya hutang yang belum dibayar? Sehingga dapat kita tangkap bahwa membayar hutang itu bukan perkara yang bisa dikesampingkan begitu saja. Ada sesuatu yang akan terjadi saat kita melupakannya. Jangan sampai urusannya dibawa ke akhirat. Ini akan menjadi masalah yang baru untuk pihak yang berhutang. Apalagi kalau yang menjadi pihak pemberi hutang tak merelakan jumlah uang yang sudah dipinjamkan.

Buat seseorang itu, tidurlah dengan tenang di sana. Kami di sini mendoakan semoga kuburmu dilapangkan dan terang selalu. Semoga malaikat menyambutmu dengan suka cita dan bumi bergembira menerima jasadmu. Pejamkan mata. Biarkan yang di dunia menyelesaikan perkara duniamu. Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu dan mencatat amalanmu. Selamat jalan kawan. Selamat beristirahat untuk selama-lamanya.


Apabila tiba saatnya nanti kami akan menyusulmu di sana dan kita akan bertemu kembali. Semoga kita semua dipertemukan di taman firdaus yang penuh dengan bidadari yang menggandeng kita ke istana yang paling megah di dalam sana. Semua kenangan tak akan pernah terlupakan dan bagaimana pun buruk dan baiknya pertemanan kita, kamu tetap menjadi seseorang yang pernah aku sebut sebagai kawan dan abang. Maaf tak sempat melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Tenanglah di sana.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan