Langsung ke konten utama

Rewriter


Sejak duduk di bangku sekolah rasanya kita sering diajarkan untuk menjadi orang yanbg menuliskan sebuah cerita yang sudah kit abaca dengan bahasa kita sendiri. Ternyata di dunia blog juga banyak orang yang menggunakan ilmu yang dia temukan di bangku sekolah tersebut dan memanfaatkannya untuk menghasilkan tulisan baru yang berbeda meksipun terinspirasi dari tulisan yang sudah dia baca. Ada beberapa hal yang terlihat serupa tetapi kata-kata yang dipilihnya berbeda. Tentu ini tidak sama dengan yang namanya copy paster yang tanpa lihat-lihat langsung mengambil begitu saja tulisan dari berbagai blog dan web. Lalu menyatukannya di blognya.

Apakah blog itu seperti sebuah selimut perca yang berasal dari banyak perca lalu dijahit menjadi satu? Meskipun terlihat menarik karena banyak sekali motif di dalamnya, tetap saja selimut tersebut merupakan potongan-potongan dari kain yang sebelumnya merupakan kain yang digunakan untuk membuat pakaian. Melihatnya sekali kita sudah tahu selimut perca tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar ingin dibuat sebelumnya. Namun selimut itu masih memiliki nilai dibandingkan blog yang isinya hanya hasil comot sana-sini tanpa ada usaha untuk menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri.

Rewriter, penulis kembali, orang yang berusaha menggunakan bahasanya sendiri untuk menyampaikan sesuatu yang sebelumnya dia baca. Seperti kita yang sudah membaca koran, tentang berita pembunuhan. Untuk menyampaikannya pada orang lain tentu kita tak perlu menghapalkan semua tulisan yang kit abaca di koran dan membacanya ulang sama persis dengan yang tertulis di sana. Cukup ingat intinya saja dan ceritakan kembali dan gaya bercerita kita. Bahasa kita sendiri.

Before you try to be a writer, maybe you can learn how to be a rewriter.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan