25 Oktober 2013

Pemotret Awan


Setiap kali melihat awan yang menggumpal di langit tangan saya akan gatal sekali ingin mengabadikan awan tersebut. Langit yang biru sebagai latarnya dan awan-awan yang membentuk wujud yang kadang serupa dengan sesuatu hal membuat saya ingin memotretnya. Memang tak setiap kali saya menemukan awan yang indah bentuknya dan bisa langsung menjepretnya sebab kadang posisi saya yang tak memungkinkan. Paling sering melihat awan yang indah itu dari atas jembatan tol. Tentu saja tak mungkin bagi saya untuk turun dari kendaraan dan mengeluarkan kamera. Apalagi saya paling sering melewati jembatan itu dengan sepeda motor. Akan mengganggu lalu lintas jika saya memaksa untuk menjepret awan tersebut dari lokasi yang sibuk itu.

Tapi saya selalu suka melihat ke langit dan melihat awan-awan yang berarak. Apalagi kalau sedang berada di tepi Sungai Kapuas. Awan adalah objek pertama yang saya lihat untuk diabadikan. Sebab awan terlihat seperti gumpalan gula kapas yang mengingatkan saya pada jajanan masa kecil yang selalu saya rindukan. Sayang banyak yang menjualnya menggunakan zat pewarna yang bukan untuk makanan. Sehingga saya takut untuk membelinya. Apalagi kalau gula kapas tersebut berwarna merah.


Awan yang berada di langit sana akan terlihat pula oleh orang yang memandang ke langit. Langit adalah tempat saya menambatkan rindu. Sebab saya selalu merindukan orang yang jauh dari sisi saya. Meskipun demikian saya tahu mereka dinaungi oleh langit yang sama. Langit yang kala itu saya lihat dari tempat saya berada.

Related Posts

Pemotret Awan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.