Langsung ke konten utama

Ngeblog dengan Kertas dan Pena


Sesekali memang dibutuhkan cara yang berbeda untuk menghilangkan kebosanan berada di depan PC. Menatap layar datar yang dingin. Berbeda dengan kertas dan pena yang rasanya lebih bersahabat pada jemari dan pikiran kita. Tak ada istilah typo apalagi backspace. Kalau memang melakukan kesalahan sebaiknya langsung coret saja dan lanjutkan menulisnya. Jangan bermain dengan type-X. Ah sudah lama sekali tak memegang type-X. Memang saya sendiri bukanlah orang yang terlalu rapi soal menulis. Kalau salah untuk apa sibuk mencari type-X dan membuat waktu sekian detik bahkan menit untuk memperbaiki tulisan tersebut karena memang butuh waktu untuk mengeringkan setiap tetes cat putih tersebut lalu menuliskan tulisan baru di atasnya yang kita anggap lebih benar.

Kali ini saya ingin bermain dengan kertas. Menuliskan semua ide dengan pena seperti dulu pernah saya lakukan bertahun-tahun sejak duduk di sekolah dasar. Ada hal-hal yang saya tinggalkan semenjak digitalisasi merasuk ke Indonesia. Budaya menulis dengan pena dan kertas semakin jarang saya lakukan. Memang sih dengan meniadakan penggunaan kertas menghemat sumber daya alam yang dibutuhkan untuk membuat buku tulis tersebut. Tapi ya karena buku tersebut tergeletak di lantai, ada baiknya saya gunakan untuk menulis.

Ngeblog dulu di kertas dan pena. Nanti barulah memindahkannya ke blog setelah selesai menuliskannya di sana. Sambil mengedit ide yang sudah dituliskan dengan jemari. Tanpa mengetiknya langsung di blog. Cara yang baru barangkali akan menyenangkan untuk dilakukan.


Bagaimana denganmu?

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan