Langsung ke konten utama

Menulislah dengan Buruk


Banyak di antara kita yang suka mentok menulis karena kita pikir tulisan kita buruk atau rasanya tak akan ada satu orang pun yang akan membaca tulisan tersebut. Tulisan kita kalah jauhlah dari banyak orang. Ada saja pikiran buruk yang membuat kita merasa bahwa kita belum layak untuk terus menulis. Ada saja alasan untuk tidak melanjutkan sebuah tulisan. Apalagi kalau sudah menyangkut karya fiksi. Kebanyakan penulis saya rasa akan menghentikan tulisannya itu saat novelnya sudah setengah selesai. Beda dengan puisi atau cerita pendek yang memang lebih gampang diselesaikan.

Novel yang ratusan bahkan siapa tahu ada yang bisa menuliskan sampai ribuan halaman barangkali akan menuntut banyak waktu dan konsentrasi yang tinggi. Tapi tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita bisa konsentrasi dan lebih fokus untuk menuliskannya. Jangan takut tulisan kita buruk. Katakanlah kita memang penulis yang buruk tapi siapa yang mau menghakimi tulisan kita? Siapa yang berhak mengatakan bahwa tulisan itu jelek? Bisakah mereka menulis yang sama? Menyelesaikan tulisan sebanyak yang kita bisa?

Jangan takut dengan ketakutanmu sendiri. Kendalikan perasaan mengenai tulisan saya buruk, tulisan saya tidak akan pernah diterbitkan. Coba intip lemari-lemari buku yang ada di Gramedia, saya yakin saat kamu menghabiskan beberapa halaman pertama dari beberapa judul buku yang ada di sana kamu akan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menulis jauh lebih baik dari orang yang karyanya dipajang di sana. Menulislah dengan buruk kalau memang itu membuatmu tetap menulis. Jangan menulis dengan baik. Karena menulis itu soal latihan. Latihan untuk terus menulis tanpa henti.

Menulis adalah langkah menuju keabadian. Maukah kamu menjadi orang yang menjadi abadi di dunia ini melalui tulisan-tulisanmu? Maukah kamu dikenang dengan banyak sisi oleh banyak orang di dunia ini. Kalau memang tulisanmu nantinya tak akan ada yang menerbitkannya buat blog. Sekarang banyak orang yang bisa menulis satu demi satu postingan untuk diterbitkan sendiri. Tanpa takut ada yang mengatakan: 'maaf tulisan anda belum bisa kami terbitkan'. Jika tujuanmu untuk berbagi dengan orang lain untuk apa mencoba menembus penerbit besar? Terbitkan sendiri dalam bentuk buku elektronik atau blog, ingin lebih besar perjuangannya? Terbitkan secara indie dan tembus pasarmu sendiri.

Kebanyakan penulis hanya takut mendapatkan kecaman betapa buruknya tulisan mereka dan membuat mereka merasa harus berhenti menulis atau selalu menekan tombol 'backspace'. Berhentilah mencoba menjadi penulis yang sempurna. Karena kita hanya manusia biasa. Paling penting adalah tulisan tersebut bisa membuat perubahan di dunia ini. Mau kecil atau besar. Kembalikan lagi pada diri kita. Berikan semangat pada diri yang selalu ingin menulis yang terbaik tetapi berhenti melakukan latihan menulis buruknya.

Semuanya dimulai dengan langkah pertama. Malu pada anak kecil yang bisa berlari padahal sejak awal dia melangkahkan kakinya, berapa kali dia pada akhirnya jatuh dan dia tak pernah berhenti untuk mencoba melangkah kembali. Jangan harap seorang bayi akan menjadi pelari ulung. Begitu juga dengan diri kita. Tak bisa berharap pada tulisan pertama yang akan menjadi tulisan yang bagus, tulisan yang baik, tulisan yang membuat orang lain kagum. Selalu ada tulisan-tulisan yang 'jatuh' dan membuat kita kuat untuk bangkit kembali.


Sekarang mulailah menulis dengan buruk.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan