Langsung ke konten utama

Kisah Perempuan dan WeChat (17)


Akhirnya aku menginstall kembali aplikasi WeChat ke smartphoneku. Berharap aku akan menemukan seseorang yang menjadi jodohku di sana. Setidaknya aku bisa mengenal banyak lelaki yang bisa aku temui dan mengobati sedikit luka hati yang masih mendera. Aku sendirian. Kesepian dan butuh seseorang yang bisa aku ajak bicara secara langsung. Aku tak ingin tenggelam di dalam semua kepatahhatian itu lalu lemas di dalamnya. Aku ingin menjadi perempuan yang lebih kuat.

Beberapa yang mengajak chat di WeChat memang menyebalkan. Banyak sekali yang beranggapan aku bisa diajak melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Aku menarik napas panjang dan merasa bahwa WeChat ini akan menjadi gerbang lelaki selanjutnya yang akan mematahkan hatiku. Membuatku galau. Kemudian hidupku menjadi remuk redam. Tapi aku sudah tak peduli. Aku rasa aku hampir gila. Aku membenci dan mengasari semua yang ada di sana. Berharap emosiku yang tertahan bisa tersalurkan. Emosi yang aku tahan sejak patah hati berbulan-bulan yang lalu.

Penolakan keluarga besar lelaki yang tak kunjung melamarku itu membuatku menjadi buas. Aku menjadi semakin tak peduli lagi. Mau siapa saja yang menyapaku, sifat burukku semakin menjadi. Aku berharap bisa membalas semua rasa sakit hatiku dengan membalas dengan jutek semua orang yang ada di sana. Toh mereka orang-orang yang tak pernah aku kenal. Bahkan kalau perlu aku akan membuat mereka semua jatuh cinta lalu membuatnya patah hati. Hancur berkeping sehingga mereka juga merasakan sakit yang pernah aku rasakan. Lalu aku bisa tertawa di atas penderitaan mereka.

Suatu hari lelaki itu tiba-tiba datang. Lelaki yang kemudian mengubah segala pemikiranku tentang cinta dan sakit hati yang aku rasa. Dia yang tiba-tiba menyapaku dan aku masih saja dengan rasa malas membalas pesannya. Bahkan membalas dengan dingin semua komentarnya di momentku. Aku masih tak peduli. Sampai akhirnya suatu malam dia membuatku penasaran dengan koran yang dia baca dan memuat status di akun twitterku. Padahal selama ini aku tak pernah dimintai oleh koran mana pun untuk mengutip twit tersebut dan memajangnya di koran.

Aku mendatangi kantornya untuk mengambil koran tersebut. Membaca langsung twitku yang terpajang di sana. Aku penasaran. Benar-benar penasaran dengan siapa yang memuatnya di sana. Lalu aku melihat wajah hangat itu. Wajah lelaki yang tiba-tiba membuat hatiku yang sempat dingin terhadap lelaki, sempat menjadi mahluk yang ingin menyakiti semua lelaki yang hadir di dalam hidupku, mencair. Cair lalu berubah menjadi hangat. Aku tak bisa memasang topeng jahat itu lagi. Aku luluh melihat wajah yang menawarkan kehangatan hingga menembus jantungku yang paling dalam.


Sesaat aku merasa ada yang berbeda dengannya. Sejenak aku merasakan hawa panas yang mengalir di dalam tubuhku hingga membuatku tersenyum sepanjang waktu. Aku yang sebelumnya menjutekinya, bahkan lupa pernah menjutekinya sekarang menjadi orang yang sangat hangat padanya. Bahkan saat melihat senyumnya, selamanya aku ingin melihat senyum itu. Tak ada senyuman lain lagi yang ingin aku lihat. Dia yang sederhana dan terlihat tak percaya diri dengan dirinya sendiri meruntuhkan tembok pertahananku untuk tidak jatuh cinta. Perlahan tembok itu runtuh di hadapannya. Aku tersenyum lagi dengan tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia yang berhasil membuatku menjadi diriku yang dulu. Bagian diriku yang sempat terlelap di dalam hawa yang sangat dingin. Sekarang terbangun dari mimpi panjangnya tentang cinta dan taman bunga.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan