Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki dan Selimutnya (13)


Kamu serius dengan ucapanmu?”

Iya.”
Jawaban singkatnya itu terlalu mudah untukku. Rasanya tidak mungkin ini terjadi. Apakah ini hanya mimpi? Mimpi yang terlalu nyata untuk dikatakan sebagai mimpi.

Tapi....

Tapi apa?”

No ring no wedding.”

Kamu mau cincin?”

Tentu saja, sebagai bentuk kalau kamu memang serius ingin melamarku.

Tidak sekarang.”

Kalau tidak, batal aja deh.”

Dia mempermainkanku.

Kalau cincin perak mau?”

Nggak usah peraklah, emas dong.”

Cincin emas kan buat akad nikah?”

Ya sudah gelang saja.”

Gelang apa?”

Apa aja boleh, besok belikan di Jalan Pattimura.

Aku rasanya tak percaya sedang terlibat obrolan seperti ini dengan gadis pujaan hatiku. Aku berusaha menguasai diri dan mengganti topik pembicaraan.
Oke deh... kamu masih belum bisa tidur?”

Masih dingin.

Memangnya selimut kamu di mana?”

Sedang dilondry.

Mau aku antar selimutku?”

Boleh.

Lagi-lagi jawaban singkatnya yang cepat itu membuatku tak berkutik. Perempuan ini benar-benar menjatuhkanku dengan telak dan aku tak mampu mengelak untuk tidak jatuh cinta padanya.

Aku akan mengantarnya. Tunggu ya.”

Oke.


Pukul 3 pagi lewat sedikit. Aku masih merasakan rintik-rintik hujan. Tapi aku tak peduli. Aku ingin melihat wajahnya sekali lagi dan meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Untuk pertama kalinya ada perempuan yang menerima lamaranku. Aku ingin melihat alisnya yang indah itu sebelum aku tidur. Perempuan itu berjalan terhuyung ke depan pagar gedung kantornya. Dia menerima tas berisi selimut yang aku berikan lalu kembali masuk ke pintu kiri gedung tersebut. Aku lalu pulang dan yakin memang tak sedang bermimpi.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan