Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki dan Gelang Pengikatnya (14)

Dia bilang dia mau gelang. Permintaan yang aneh. Dia mengiyakan ajakanku untuk melanjutkan masa depan bersama-sama dan hanya meminta sebuah gelang. Setelah aku tak bisa memberikan sebuah cincin yang dia inginkan. Bagaimana mungkin aku membelikan sebuah cincin emas sedangkan jemarinya sangat kecil. Aku masih bisa merasakan sentuhan tangannya saat pertama kali aku bersalaman dengannya. Tangannya terlalu kecil untuk ukuran seorang perempuan dewasa dan jemarinya itu. Aduh membuatku gemas dan ingin mengecupnya. Jemarinya seperti jari anak-anak. Aku yakin tak akan mudah menemukan cincin yang cocok dengan jari manisnya. Jari yang akan mengikatnya menjadi pendamping hidupku selamanya.

Aku ingin dia untuk selamanya. Selama umur masih mempersatukan kami berdua. Memiliki banyak anak yang lucu dan manis seperti dia. Dia yang telah membuat bara api cinta di hatiku menyala dalam sekejap. Katakanlah ini cinta pada pandangan pertama. Aku memang mengalaminya dan dia telah mencuri segenap hati yang aku punya. Untuk pertama kalinya aku tergila-gila seperti ini dan kehilangan akal sehatku. Seakan-akan dia telah membacakan mantra untuk membuatku mencintainya dalam waktu sekejap. Berikan aku satu kehidupan dan akan aku cintai dia untuk selamanya.


Dia memilih gelang di sebuah toko oleh-oleh Khas Kalimantan Barat yang ada di Jalan Pattimura. Sebuah gelang yang sangat murah. Tak akan kuberitahukan harganya padamu. Karena cukuplah aku dan dia saja termasuk pedagangnya yang tahu. Terlalu murah untuk melamar seorang perempuan. Perempuan seperti dia. Dia berbeda. Gabungan dari banyak perempuan yang pernah hadir dalam kehidupanku. Bahkan dengan beberapa tambahan di banyak sisi. Apalagi satu hal yang sangat penting. Dia mengiyakan lamaranku begitu saja. Seperti seseorang yang membalas ucapan terima kasih dengan sebuah ‘sama-sama’. Semudah itu. Seperti sambil lalu. Membuatku bertanya-tanya. Apakah perempuan ini serius dengan ucapannya? Sebelum aku mencubit tanganku dia sudah menyunggingkan senyumnya sesaat setelah gelang itu berada di pergelangan tangan kirinya. Dia menatap mataku dengan tajam. Tatapan yang tak bisa kumengerti. Tapi aku bahagia. Bisa mendapatkannya. Perempuan bermata cokelat dan beralis indah itu.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan