Langsung ke konten utama

It's All About Deadline


Membuat deadline jangan kepalang tanggung. Kalau bisa sepertiga dari waktu yang kita butuhkan untu menulis. Karena saya pernah membaca bahwa manusia biasanya hanya mencapai setengah dari targetnya. Jadi kalau misalnya kita menargetkan akan kelar membaca Al-Quran dibulan Ramadhan bisa mencapai 6 kali khatam biasanya yang akan terjadi adalah kita akan menyelesaikan 3 kali saja. Syukur kalau memang sesuai dengan yang kita targetkan. Itu lebih baik lagi.

Begitu juga saya pikir mengenai deadline. Semakin panjang yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah tulisan kita akan semakin manja. Merasa waktu masih sangat banyak untuk menyelesaikannya. Padahal coba deadline itu kita perpendek dan kita anggap sebagai sebuah hutang. Bagaimana jika hutang tidak dibayar? Siap-siap ada yang mengetuk pintu kita dan membawa banyak algojo yang siap menyantap kita jika kita tak membayar semua hutang tersebut.

Menulis memang harus kita biasakan dengan membuat deadline, kalau memang punya waktu menulis setiap hari menulislah setiap hari. Setidaknya 30 menit saja dalam sehari. Entah itu dua sampai tiga halaman. Coba bayangkan kita menulis 3 halaman sehari, satu bulan kita sudah menyelesaikan 90 halaman. Novel biasanya terdiri dari 100-150 halaman sudah cukup. Kalau memang ingin menulis lebih panjang tentu saja akan jauh lebih baik. Dengan satu spasi. Cukup rapat memang. Tapi tak ada yang tak mungkin selama kita mau mencoba. Rasanya sayang jika banyak waktu kita yang terbuang sia-sia hanya untuk hal-hal yang tak kita perlukan.


Apa yang kita perlukan untuk menyelesaikan sebuah tulisan? Deadline. Tenggat waktu. Jadwal. Buatlah semua yang kita perlukan untuk benar-benar menyelesaikan tulisan tersebut.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan