Langsung ke konten utama

Buku Apa yang Sedang Kamu Baca?


Saya akhirnya menemukan lagi novel yang sempat lupa saya simpan di mana. Suwung. Pemberian dari tim Republika Online sebagai bingkisan tulisan yang saya kirimkan pada mereka. Dimuat ternyata. Padahal saya sudah melupakannya sejak tulisan tersebut pertama kali dikirimkan. Maklum bukan lomba. Jadinya saya melupakannya begitu saja. Beda cerita kalo menulis buat lomba apalagi kalau yang hadiahnya memang saya inginkan.

Beberapa hari yang lalu saya sudah menyelesaikan novel U-Turn yang saya dapatkan dari Plotpoint di Workshop Menulis yang diadakan Tulis Nusantara. Ternyata begitu caranya menuliskan sebuah novel yang bisa membuat seseorang pada akhirnya memutuskan untuk membaca tulisan dari awal sampai akhir. Bahkan dengan teliti. Ada hal-hal yang tak ingin dilewatkan pembaca sebab berkaitan dengan ending yang akan dia temukan di halaman akhir.

Memang saya tak menemukan dua halaman pertama yang membuat saya bertanya-tanya saat membaca novel Suwung, beda dengan novel U-Turn yang dua halamannya sudah menyedot semua perhatian saya. Walaupun diputuskan sang kekasih adalah hal yang biasa, tetapi saya ingin tahu alasan sebenarnya. Kecerdasan penulisan yang bolak-balik antara masa lalu dan masa depan juga cukup menyenangkan. Sehingga alurnya tidak monoton. Membuat kita mundur sebentar ke masa lampau untuk melihat sebuah tindakan yang pada akhirnya menyebabkan masa depan sang tokoh seperti yang digambarkan penulis di dalam novel tersebut.

Dibandingkan Suwung, U-Turn memang bahasanya cair dan mudah dicerna. Tetapi Suwung sendiri memenuhi kriteria selera buku yang selalu saya sukai sepanjang masa. Bahasa yang dia gunakan itu indah. Penuh dengan cahaya. Membuat saya bisa menikmati setiap baris dengan lambat dan konsentrasi. Memperkaya bahasa yang saya saya miliki. Tapi setiap novel punya ciri khasnya masing-masing. Suwung dan U-Turn punya kelebihannya dan kekurangannya. Saya akan tetap membaca keduanya karena saya sangat suka membaca.


Kamu sedang baca buku apa sekarang?

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan