Langsung ke konten utama

Galaxy Express (Bagian 1)


Aku masuk ke dalam kereta setelah membeli tiket sekali jalan. Tas ranselku sedikit memperlambat gerakanku sehingga banyak orang yang berjalan mendahuluiku bisa mendapat tempat duduk lebih dulu. Aku hanya menghela napas saat sadar harus berdiri di antara banyaknya orang yang satu arah denganku. Berbagai macam bau bercampur aduk menjadi satu. Padahal masih belum begitu siang. Baru pukul 9 lewat. Tapi bau keringat di mana-mana. Untung tak ditambah asap rokok sebab di dalam kereta ada pendingin ruangannya.


Lututku menyentuh kaki seorang penumpang yang sedang duduk dengan keras saat seseorang menabrak ranselku yang penuh buku. Referensi untuk aku memulai debut novel pertamaku. Aku ingin belajar dari banyak novel ternama dari berbagai generasi. Sayangnya sampai sekarang aku masih terjebak di toko roti sahabatku. Tak ada satu novelku pun yang diterbitkan. Aku memang belum menyerah namun aku kelelahan.

Maaf...”

Mataku bertatapan dengan sepasang mata lelaki yang dingin. Dia langsung berdiri dan memberikan isyarat agar aku duduk di kursi yang tadinya dia tempati. Ragu-ragu aku bergerak duduk dan mataku tak lepas dari menatapnya.

Alisnya tebal. Bibirnya yang merah kegelapan sesuai dengan kulit sawo matangnya. Rambutnya yang ikal dikuncir rapi ke belakang. Tangannya belepotan cat. Penuh warna. Dia berdiri di dekatku. Di posisi tadi aku berdiri. Kami berhadapan dalam diam. Untuk pertama kalinya darahku berdesir melihat seorang lawan jenis.

Dia yang dingin terlihat sangat menarik. Dia juga baik. Meskipun dia tak mengeluarkan kata-kata. Matanya yang tajam menatap ke depan kuamati dalam diam. Saat aku terus menatap matanya dia tiba-tiba balik menatapku. Tanpa sedikit pun senyuman.

Aku merasa malu dan takut dalam waktu yang bersamaan. Aku akhirnya menundukkan kepalaku. Tak mau lagi mata kami bertemu di waktu yang sama. Bisa-bisa dia akan marah padaku. Tak berapa lama kereta tiba di stasiun yang kutuju. Terburu-buru aku keluar bersama puluhan orang lain. Dia juga keluar. Aku tak melepaskan pandanganku dari punggungnya.

Kulirik arloji di tangan kananku. Masih ada waktu sebelum jam kerjaku dimulai. Aku masih bisa mengikuti langkah laki-laki itu. Aku penasaran dia menuju ke mana. Aku menjaga jarak, jangan sampai dia menyadari aku membuntutinya seperti seorang mata-mata.

Aku masih bisa melihat kotak-kotak yang ada di kemeja yang dia kenakan setelah kaos putih di dalamnya. Tapi aku berusaha menutupi wajahku dengan sesekali menoleh ke belakang saat jarak kami tiba-tiba dekat. Beberapa belas menit berlalu. Ternyata dia berhenti di simpang empat kota. Lalu mengamati gedung-gedung yang baru selesai direnovasi.

Beberapa orang menyapanya. Aku berhenti di bawah pohon akasia. Mengamati gerak-geriknya. Dia bekerja sebagai kuli bangunankah? Aku dengan sabar menanti apa yang dia lakukan hingga akhirnya aku melihat dia mengeluarkan kuas dari dalam tasnya.

Baiklah, dia tukang cat? Tukang cat yang terlalu keren. Aku pikir dia bisa mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan dengan tampang seperti itu. Wajahnya tidak begitu buruk. Tubuhnya juga kekar. Aku bisa melihat tonjolan otot dadanya meskipun tak begitu besar. Setidaknya jangan jadi tukang cat dengan tampang seperti itu.


Aku berbalik dan mengambil jalan pintas menuju toko roti tempat aku bekerja. Tak begitu jauh dari simpang empat ini. Hanya beda beberapa blok.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs