Langsung ke konten utama

Komunitas Ideal [Bagian 3]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Di dalam komunitas untuk terus membuatnya terus awet dan kokoh sebagai sebuah komunitas yang menaungi anggotanya sama seperti orang yang sedang membangun rumah tangga. Dibutuhkan kejujuran di dalamnya. Jadi saat ada masalah yang menimpa sebuah komunitas atau ada anggota komunitas yang ingin menyampaikan sesuatu sebaiknya memang disampaikan secara terbuka.

Terbuka maksudnya tidak ada yang ditutup-tutupi. Ketika semua orang menjadi jujur di dalam komunitasnya untuk membahas sebuah masalah akan mudah pula menemukan jalan keluarnya. Sebab banyak kepala akan berpikir untuk memecahkan hal yang sama. Berbeda ceritanya saat sebuah kenyataan ditutup-tutupi oleh seorang atau sebagian anggota lainnya dari anggota yang lain.

Ketidakjujuran akan membuat kepercayaan di dalam sebuah komunitas akan menghilang begitu saja. Pada akhirnya akan timbul perasaan saling curiga antar satu dengan yang lainnya.

Saat membangun sebuah komunitas tentunya bukan hal tersebut yang ingin kita capai bukan? Seharusnya kejujuran menjadi modal yang cukup mendasar untuk membangun sebuah komunitas yang kokoh. Karena setiap anggota harus saling mempercayai anggota komunitas lainnya.

Jangankan dalam forum yang sebesar komunitas, saat kita bersahabat dengan seseorang pun kita tidak ingin dia menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya bisa dia bagi kepada kita sebagai teman. Apalagi jika sesama perempuan atau sesama lelaki. Menyembunyikan kenyataan itu seperti menyembunyikan bangkai. Awalnya memang tak akan tercium bau busuk tapi pada akhirnya dari kebusukan yang ditimbulkan akan ketahuan juga.

Coba kalau sejak awal bangkai tersebut sudah diperlihatkan dan dibuang tentunya tidak akan ada orang yang kehilangan kepercayaannya pada orang lain. Lalu orang yang merasa dibohongi tersebut pun akan mulai mereka-reka apa yang akan disembunyikan selanjutnya. Rasa curiga menjadi hal yang tak terhindarkan lagi.

Tentu saja perkembangan komunitas itu tidak akan maju-maju karena isinya adalah orang-orang yang saling tak percaya satu sama lain. Kalau sudah demikian ceritanya, tinggal tunggu saja kapan komunitas tersebut harus dibubarkan.

Komunitas yang seharusnya menaungi anggotanya yang saling memiliki keterkaitan bisa jadi malah jadi momok yang menakutkan di antara mereka. Apakah memang itu yang kita inginkan sejak awalnya? Tentu tidak bukan?

Sejak saya bekerja di sebuah warung kelontong saya hanya diajarkan satu hal oleh bos saya. Satu hal itulah yang akhirnya membuat dagangan saya hingga sekarang laris dan tidak mengalami masalah kehilangan kepercayaan. Sebab bos saya mengatakan kita hanya perlu jujur di dalam kehidupan ini supaya orang selalu percaya dengan kita. Sekali saja kita melanggar kepercayaan orang, seumur hidup orang akan enggan bekerja sama dengan kita.

Waktu itu saya hanya menyimpan kata 'jujur' di dalam kepala saya sebagai pemaknaan untuk tidak mencuri di dalam warung yang saya jaga. Saya selalu mengatakan berapa jumlah uang yang saya gunakan selama bos saya tidak ada di tempat. Waktu itu memang bos saya kehilangan seorang kuli kesayangannya yang ternyata diam-diam mengambil uang dagangan di warungnya. Sehingga dia tak ingin kuli berikutnya, saya, ikut menghilang dari warung setelah mengambil sejumlah uang.

Saya memang tidak pernah berniat untuk mengambil uangnya tanpa permisi sedikit pun, sebab bagi saya kita hidup bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan. Kita hidup bertahun-tahun. Sedikit uang haram bisa saja menghancurkan masa depan kita. Bahkan orang tua kita akan mendapat malu karena anaknya mencuri di dalam warung tempatnya bekerja. Tidak hanya kepercayaan bos yang akan hilang tapi semua orang yang mengetahui ceritanya akan mengingat kita sebagai seseorang yang tidak jujur. Sebagai orang yang tak bisa diberi kepercayaan.

Sederhana memang pikiran saya waktu itu. Semakin dewasa saya semakin mengerti betapa pentingnya kejujuran itu dipegang di dalam kehidupan kita. Masih ingat dengan pepatah lama: 'Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak akan percaya'. Pepatah itulah yang selalu saya ingat hingga hari ini untuk menjaga kepercayaan yang sudah diberikan orang lain. Sebab tak semua orang sama seperti orang tua kita yang mau memberikan kesempatan berkali-kali. Bisa jadi kesempatan yang kita punya hanya kali itu. Satu-satunya. Tak akan ada kedua kalinya jika kepercayaan itu kita rusak dan tidak dijaga baik-baik.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs