Langsung ke konten utama

Paling Malas Berurusan dengan Orang yang Pelit



Tak menyangka sebelumnya kalau orang yang saya kenal tersebut adalah orang yang pelit. Tak perlu sata ceritakan kronologis kepelitannya tersebut karena saya hanya ingin menceritakan malasnya saya berurusan dengan orang yang pelit.

Membeli sesuatu sama teman atau orang yang kita kenal apalagi orang yang satu kota tentunya rasanya lebih aman. Tapi bagaimana jika orang yang kita ajak bertransaksi tersebut ternyata pelit? Pokoknya susah dinego. Bukan masalah harga sih sebenarnya. Soalnya saya menawarkan harga yang lumayan. Tapi ada sesuatu yang membuat dia keliatan banget pelitnya.

Akhirnya karena persyaratan dari dia tak ingin saya penuhi padahal sebenarnya jika dia mau menunjukkan itikad baik dan enak dinego, saya mungkin akan kembali padanya dan memenuhi persyaratan yang dia ajukan. Baiklah akhirnya saya mencari dari Kumpulan Emak-Emak Blogger. Siapa tahu ada yang punya sesuatu yang saya butuhkan itu. Ternyata ada. Saya berusaha aja buat meyakinkan diri sendiri bahwa ini aman.

Kalo nggak berani ngambil risiko kita nggak akan pernah tahu bukan?

Jadi saya memutuskan bertransaksi dengan Mak @Oktavina yang sebelumnya tidak saya kenal dekat. Bahkan baru saling follow di twitter. Tapi karena saking kesalnya sama orang yang saya kenal dan pelit itu, akhirnya saya lebih baik mempercayai orang lain deh. Nah, Mak @Oktavina sebenarnya mengajukan cara pembayaran yang sama dengan orang yang saya katakan pelit itu. Tapi cara Mak @Oktavina menyampaikannya itu beda dan jauh banget dari pelit.

Pelit nggaknya seseorang itu keliatan kok dari bahasanya. Cermati aja pilihan katanya. Saya juga tidak suka pedagang yang sepertinya menyudutkan dan menunjukkan dia lebih superior. Kayak dia lebih pintar dari orang lain. Jujur ya, kita semua sama-sama manusia dan menghirup udara yang sama. Mengapa harus merendahkan orang lain sih? Karena merasa penghasilan kamu dari ngeblog lebih gede? Kamu lebih pinter nyari uang online? Kamu udah lama jadi blogger? Kamu udah sering menang lomba?

Jauh dari semua itu, saya tak pernah memandang tinggi seseorang berdasarkan hal yang saya sebutkan di atas. Saya hanya akan menghargai orang yang mau menghargai saya. Sebagaimana adanya diri saya.

Maaf postingan ini curhat semata. Abaikan saja!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan