31 Mei 2012

100 Kencan Buta: Prolog

100 Kencan Buta: Prolog

Masih ingat sama Maura? Kisah cinta dengan 100 kencan buta? Sebenarnya harusnya prolog duluan nih baru masuk episode 1. tapi karena belakangan dibuat mau tak mau sekarang dimunculkan.
Selamat membaca.


100 Kencan Buta
Prolog
Selama ini aku beranggapan aku adalah seseorang yang tidak dilihat oleh orang lain. Bahwa apa pun yang aku lakukan tak akan ada yang peduli. Seakan-akan aku transparan. Tembus pandang. Bahkan suara yang aku perdengarkan bisa jadi hanya Taga yang mendengarnya.
Penasaran siapa Taga? Dia pembuat kopi terbaik yang aku kenal. Selama ini hanya dia yang bisa membuatkan aku kopi. Sampai-sampai untuk mendapatkan kopinya yang enak aku harus menjadi pengunjung setia di cafe tempat dia bekerja. Jika Taga tak ada tak ada satu orang pun yang berani membuatkanku kopi.
Hai, kita belum berkenalan sebelumnya. Iya, itu aku. Perempuan dengan cepol di kepalanya. Berpenampilan ala balerina. Duduk di kursi sudut cafe dengan secangkir kopi dan sebuah laptop berwarna putih. Jangan tanya mereknya. Aku seorang penulis. Peminum kopi. Pecandu tepatnya.

Ingin percaya cinta. Ingin jatuh cinta. Ingin dicinta. Seperti orang lain pada umumnya. Adakah yang akan menerima seorang perempuan yang bahkan tak terlihat sepertiku? Rasanya aku tak nyata di sini. Tak ada yang melihat apalagi peduli denganku. Bagaimana rasanya menjadi perempuan seperti aku? Tentu saja kamu harus melihatku lebih dekat. Lebih nyata.


30 Mei 2012

Kutipan Amoy 3

Kutipan Amoy 3

Orang biasa berpikir di dalam kotak. Orang cerdas berpikir di luar kotak. Orang bijaksana tak akan melihat adanya kotak. - Rohani Syawaliah, 25 tahun, baru selesai mengotak-ngotakin barang.

29 Mei 2012

Fahd: Wajah Pagi

Fahd: Wajah Pagi


Paling susah diajak bangun pagi.

Hani: "Fahd bangun, sekolah. Udah pagi."
Fahd: "Nanti aja."
Hani: "Kok nanti? Telat lo."
Fahd: "Masih PAUD nggak papa telat. Kan belum SD."
Hani: "Mehhhhh... -_______-"."

28 Mei 2012

TEATER: HARUSKAH VULGAR?


Saya sejak tahun 2005 sudah suka sekali dengan yang namanya pementasan teater. Hampir tiap bulan saya akan menonton teater dan pulang dengan perasaan senang. Bagaimana tidak? Saya menonton pementasan secara langsung. Seperti anda yang pernah nonton OVJ secara langsung pula. Sensasinya pasti beda jauh dengan nonton dari kotak segi empat yang tak pernah saya miliki di Pontianak sini. Apabila disuruh memilih nonton film di bioskop atau nonton pementasan teater, saya lebih memilih yang kedua.

Beberapa teater terakhir yang saya tonton saya merasakan bahwa dialog yang digunakan dalam pementasan terasa vulgar. Baiklah, saya memang berusia 25 tahun tak ada masalah bagi saya untuk mendengar kalimat seperti itu. Tapi, hey, saya selalu membawa adik saya Fahd yang berusia 6 tahun untuk menyaksikan pementasan sejak tahun kemarin.

Vulgar di sini tidak hanya kalimat yang menurut saya menceritakan tentang aktivitas ranjang baik dengan lawan jenis atau sesama jenis, tetapi juga kalimat makian yang digunakan. Bahasa Melayu Pontianak itu sangat banyak menyediakan diksi yang bisa digunakan untuk memancing tawa penonton.


Gemes Bond N Cat Woman, Demo Para Hantu

Itu judul pementasan terakhir yang saya tonton. Saya tidak akan membahas pementasan sebelum-sebelumnya. Beberapa kali, bisa jadi belasan atau puluhan kali saya mendengar kalimat makian: “Perempuan laknat.”

Lucu sih memang karena cara menyampaikannya dengan ekspresi yang mendukung. Tetapi tak dapat dibayangkan ya apabila saat seseorang yang baru pertama kali menonton sebuah pementasan dan tidak melihat dengan jelas ekspresi pemain yang menyebutkan kalimat makian tersebut. Apa yang akan bersarang di kepala mereka?

Terus bagian yang paling mengganggu adalah kostum yang dikenakan oleh Lee Minh Ho (benarkah penulisannya seperti ini?). Bagian celananya terlalu sempit sehingga bagian kejantanannya menyembul. Tak perlu saya sebutkan perkiraan ukurannya karena memang terlalu jelas terbentuk di sana. Entah itu ukuran 'tidur' atau 'bangun' saya juga tidak tahu. Sayang, harusnya penonton lebih fokus pada pemain tersebut jadi beralih melihat bagian 'bawah'. Saya tidak mengatakan semua pemain melakukan itu, tetapi saya akui jujur, beberapa kali saya jadi tidak konsentrasi dibuatnya. Maklum posisi saya di bangku baris kedua dari depan, di tengah.

Belum lagi obrolan seputar 'lendir' dan main belakang. Sekali lagi saya tegaskan, saya pribadi tidak terganggu, cuma saya tak bisa membayangkan dengan remaja-remaja yang masih di bawah umur. Apakah mereka memahami maksud candaan tersebut? Atau malah merasa bingung?

Apakah lucu itu harus vulgar?

Saya beruntung karena beberapa pemain sempat mampir ke Radio Volare untuk promosi pementasan teater ini. Sehingga saya tahu bahwa bagian-bagian yang vulgar atau kasar biasanya adalah bagian dari improvisasi pemain sendiri. Bukan asli dari naskah. Tetapi tak dapat dibedakan sih mana yang improvisasi sama yang dari naskah. Semuanya dibawakan dengan penghayatan. Apakah saya harus ambil bagian di bagian penulisan naskah?

Jadi ingat dulunya pernah beberapa tahun ikut bergabung di Sanggar Kiprah, sanggar teater anak Untan (Universitas Tanjungpura), khususnya anak FKIP. Pernah berman di beberapa pementasan. Terakhir pementasan di Taman Budaya dan hanya menjadi bagian pengisi suara. Prolog. Hadeh, kurang menarik buat dijadikan pemain utama sepertinya. Ujung-ujungnya diberdayakan sebagai penulis naskah.

Satu hal yang selama ini selalu saya kagumi dari pemain teater bahwa mereka selalu bisa bermain hingga selesai tanpa kesalahan. Saya yakin pasti ada dialog yang terlupakan atau yang lain tetapi bisa langsung mereka improvisasi dengan hal yang lain. Sehingga melakukan kesalahan pun tak terlihat ada yang salah. Itu bedanya pementasan teater dengan pemain film.

Akhir kata hanya bisa bilang, selamat ulang tahun yang ke-14 buat Teater Topeng. Semoga semakin eksis dan jaya selalu.

27 Mei 2012

26 Mei 2012

Original Flame dari Oriflame 2

Original Flame dari Oriflame 2


Satu hal yang paling mencolok dari tim yang saya ikuti sekarang di Oriflame adalah dari awal kami diajarkan untuk memahami produk dan menggunakannya sesuai dengan jenis kulit. Beberapa kali saya hampir tergelak ketika bertemu dengan tim yang lain ternyata mereka hanya sibuk berdagang dan menutup poin tanpa memahami produk bahkan sama sekali tak menggunakan.

Prinsip saya dari awal adalah bagaimana caranya kamu menjual sesuatu yang sama sekali tidak kamu percaya manfaatnya untuk dirimu sendiri?

Lucu, sebar katalog dan promo besar-besaran tapi tidak menggunakan. Itu sama saja penipuan dan percaya deh orang yang ditawari saat mengetahui konsultan yang berhadapan dengannya sekarang tidak menggunakan produk perawatan Oriflame akan dengan mudahnya menolak produk yang anda jual. Biasanya pembeli akan tanya sama konsultannya begini: “Kamu sendiri pake produk yang mana?”

Bayangkan jika anda, sebagai seorang konsultan yang sama sekali tak paham produk, menjawab: “Saya menggunakan produk A untuk perawatan dan produk B untuk tata rias.”

Detik berikutnya siap-siap menerima kenyataan, produk Oriflame yang anda jual tidak akan dibeli. Kalaupun dibeli orang hanya akan membeli tata rias atau parfum. Anda saja tidak percaya dengan produk yang anda jual, bagaimana anda akan meyakinkan orang lain untuk menggunakannya?

Ada juga yang beralasan bahwa produk Oriflame itu mahal. Itu lebih lucu lagi. Bagaimana anda dengan mudahnya bilang produk Oriflame mahal jika anda belum pernah membeli dan menggunakannya? Anda menilai produk Oriflame itu mahal karena anda hanya melihat harga yang tertera dan membandingkan dengan produk yang dijual di pasaran. Padahal secara kuantitas sudah beda apalagi kualitas, jauhhhhhhhhh banget.

Semakin banyak belajar, semakin banyak berhadapan dengan orang banyak pengalaman sih. Bahkan semakin banyak yang menolak, semakin saya kuat.

25 Mei 2012

Original Flame dari Oriflame

Original Flame dari Oriflame


Sudah berapa lama jadi konsultan Oriflame? Apa saja yang anda tahu dari produk yang ada di Oriflame? Selama ini menggunakan produk perawatan yang mana? Mengapa memilih menjadi konsultan Oriflame?

Saya pengen cerita sedikit nih tentang awal mulanya saya terjeblos ke Oriflame dan tak pernah menyesal. Hari itu saya diajak untuk mencoba produk Oriflame secara gratis oleh Dina, yang sekarang menjadi upline saya. Saya yang memang sama sekali tak memahami fungsi dan cara merawat wajah tentu saja sangat ingin tahu produk yang sesuai untuk kulit wajah saya.

Sejak awal kulit wajah saya memang kusam dan banyak banget masalahnya. Maklum tak paham cara merawatnya.

Setelah menggunakan produk dan diajari secara lengkap oleh tim saya akhirnya berminat untuk gabung sebagai konsultan Oriflame. Niat awalnya hanya ingin belanja murah dan bisa merawat wajah. Jadi sebagai pengguna dulu. Ingin tampil cantik dan luar biasa. Waktu itu kebayang dalam pikiran saya, akan ada satu hari saya akan bertemu dengan mantan-mantan-dan-mantan-mantan saya dan wajah saya udah kinclong. Niatnya pengen nunjukin cewek-yang-dulu-kamu-campakin-udah-cantik-lo. *eh

Meskipun sekarang niat itu masih ada, sekarang saya tidak hanya sebagai pengguna produk Oriflame. Mulai dari perawatan dan tata rias. Bahkan samphoo, sabun mandi, dan deodorant termasuk parfum saya menggunakan produk Oriflame. Soalnya ada beberapa produk yang diskon besar-besaran dan banyak pula yang saya dapatkan secara gratis. Sekarang sudah punya dua set tas cantik dari Oriflame. Selain sebagai pengguna sekarang saya juga aktif menyebar katalog dan berjualan. Lumayan buat nambah uang jajan.

Dagangnya berawal dari kepercayaan terhadap produk Oriflame setelah menggunakan secara aktif beberapa bulan awal bergabung. Sekarang saya sudah merambah ke membangun jaringan untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak lagi. Niatnya? Masih berdekatan dengan niat pertama gabung. Pengen manasin mantan dengan wajah cantik, CRV gratis, dan penghasilan puluhan juta.

Saya yakin saya bisa, see you on the top!

24 Mei 2012

100 Kencan Buta (Bagian Khusus) Taga Jatuh Cinta

100 Kencan Buta (Bagian Khusus) Taga Jatuh Cinta



Buat teman-teman yang mengikuti kisah Maura dan Taga dan sudah saya selesaikan, ada yang tidak puas dengan endingnya? Tidak tahu deh ada yang berpikir bagian-bagian mendekati akhir terkesan dipaksakan atau semacamnya. Tapi jujur, saya memang memaksakan diri untuk menyelesaikan beberapa episode terakhir. Dari awal saya memang tidak menyiapkan banyak episode sehingga pas sibuk berat dan tak ada koneksi internet selain ponsel ceritanya sempat terbengkalai. Entah ke mana alur yang ingin saya jalin. Apa pun alasannya yang paling penting saya sudah menyelesaikannya. Itu saja.

Ini adalah bagian terpisah dengan tokoh yang sama. Semoga bisa membuat teman-teman suka. Ingin memuaskan, sayangnya saya bukanlah pemuas, *eh.
Tumblr_m4ikyzl8t91rnjqcto1_500_large
Hari itu aku melihat seorang perempuan dengan penampilan serupa balerina duduk di kursi sudut cafe milikku. Wajahnya berubah-ubah seiring detik yang ia lewati. Jemarinya menekan tuts papan ketik laptop yang tadi ia jinjing. Bersinnya yang keras mengundang senyum hampir semua pengunjung. Sayangnya ia tak menyadari itu. Gadis itu memesan kopi biasa dengan sedikit gula. Harusnya aku tak melayaninya hingga dia tidak menganggapku sebagai pelayan dan selalu meminta kopi denganku sepanjang tiga tahun ini.

Kalau waktu itu kamu tak membawakan kopi untukku bagaimana kita bisa seperti sekarang?”

Waduh, aku mau cerita dengan pembaca Maura malah protes. Iya, iya. Aku tidak menyesal melayaninya hari itu. Karena di sanalah segalanya dimulai. Ketika untuk pertama kalinya kami bertemu pandang dan dia tersenyum sangat manis. Meruntuhkan semua egoku dan sikap tertutupku pada lawan jenis. Untuk sekali saja aku berpikir bahwa dialah perempuan yang selama ini aku cari. Perempuan yang harusnya menjadi tulang rusukku yang hilang.

*uhuk* Maura terbatuk.

Tumblr_lrm1s0cbcz1r0lzy8o1_500_large
Selama tiga tahun aku hanya berani menjadi pembuat kopinya. Tak pernah ada keberanian untuk melakukan lebih dari itu. Bahkan ketika malam itu Maura menciumku, aku bingung harus bersikap seperti apa. Bahkan saat memintanya untuk kencan dengan 100 lelaki, aku hanya bisa menyimpan namaku di bagian akhir. Berharap dia jatuh cinta pada orang lain dan menyerah sebelum kencan itu benar-benar berakhir. Tapi Yuna mengacaukan segalanya.

Saat Maura kecelakaan, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana selain menunggu. Menunggu dia bangun dari koma. Hari itu aku baru sadar harusnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya sejak awal. Setidaknya untuk menyatakan perasaanku. Jika waktu itu dia tidur untuk selamanya, aku pasti akan menyesal seumur hidupku karena tak mengatakan apa yang aku rasakan terhadapnya. Aku juga tak akan pernah tahu tentang perasaannya padaku.

Aku beruntung mendapatkan kesempatan kedua. Di sinilah aku sekarang. Menggenggam cinta yang semestinya aku pegang sejak pertama. Tak ingin aku lepaskan selamanya.

Tumblr_lro7zufrie1qeomo7o1_500_large
Ah yang bener Taga kamu nggak bakalan ngelepasin aku?”

Detik berikutnya bibirku telah menyatu dengan bibirnya. Membawanya ke dalam pelukanku yang paling erat.

Bagaimana mungkin aku melepaskan istriku?”

Maura tersenyum. Senyum yang paling menenangkan hatiku. Senyum yang sama ketika kami pertama kali bertemu. Dia adalah orang yang akan aku bawa menuju masa depanku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Bahkan menjadi nenek untuk cucu-cucuku nanti.

Anakmu nanti jadi anakku ya, Kak? Cucumu juga ya?”

Yunaaaaaaaaa....”

23 Mei 2012

Masih...


Kadang kita jomblo bukan karena kita belum menemukan lawan jenis yang bisa dijadikan pasangan, melainkan karena orang yang kita temukan bukan orang yang akan berjalan beriringan hingga akhir di jalan yang kita pilih. - Rohani Syawaliah, 25 tahun, tidak galau lagi karena belum punya pasangan. Saya hanya menemukan lelaki mental pekerja.

22 Mei 2012

Kutipan Amoy

Ingat untuk selalu dandan yang cantik karena kita tidak pernah tahu kapan kita ketemu mantan-mantan-dan-mantan-mantan kita. - Rohani Syawaliah, 25 tahun, masih belum mengoleksi pacar.


Postingan sebenarnya banyak. Tapi jaringan internet ponsel belum bisa dibagi untuk hotspot laptop. Jadinya posting pendek begini deh.

21 Mei 2012

Ayo, Donor Sekarang!

Saya sih belum pernah donor. Paling sering bantuin mencari pendonor. Maklum mahasiswa Universitas Tanjungpura ada puluhan ribu. Otomatis mudah mencari darah di asrama mahasiswa Untan. Mengapa saya belum pernah donor? Bukan saya tidak mau. Berat badan saya tidak cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai pendonor.

Updatenya telat banget. Baru saja ingat belum update.

20 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 18: SELESAI) Satria Sitaga

100 Kencan Buta [Bagian 18: SELESAI) Satria Sitaga

Bagian 18
Satria Sitaga

Jika mencinta adalah awal dari saling melukai, aku siap melihat ceceran darah dari hatiku. - Maura, 25 tahun, masih di rumah sakit.

Aku melihat ruangan yang sama yang sebelumnya aku tinggalkan. Taga berdiri dekat pinggiran jendela menatapku. Aku membaui aroma bunga mawar putih di ruangan ini. Di meja bunga indah itu berdesak-desakan di dalam vas. Infus sudah terpasang lagi di lenganku.

“Bisakah jangan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini lagi?”

Mata Taga yang bening menusuk hatiku. Aku membencinya. Sangat. Tapi kurasa paling menyakitkan aku mulai menyadari aku menyukainya. Dia telah ada di ruang kosong hatiku yang selama ini ditinggalkan lelaki yang menghuninya. Kemudian semuanya malah jadi seperti ini. Menyakitiku.

“Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku peduli denganmu, Ra.”

“Kamu saja senang mempermainkanku.”

“Aku mempermainkanmu bagaimana sih Maura?”

“Untuk apa kamu kasih aku seratus kencan buta dan menjadikan aku pertaruhan? Darimana kamu dapat banyak uang untuk melakukan itu? Apakah dari pacarmu yang cantik itu?”

“Pertaruhan? Pacar? Kamu bicara apa, Ra?”

“Akui saja kalau kamu telah menganggap semua ini permainan.”

“Kamu tahu, Ra. Butuh bertahun-tahun buatku menemukan cara untuk menebak isi hatimu. Bahkan untuk mengumpulkan keberanianku sendiri. Berapa lama aku mencoba membohongi diriku sendiri bahwa aku tak pernah mencintaimu? Bahwa kamu sama saja seperti perempuan lain yang aku kenal? Bahwa tak akan ada yang bisa membuat aku tergila-gila.”

“Cukup Taga!”

“Aku belum selesai.”

Taga mendekatiku dan duduk di pinggir ranjang. Aku membuang wajahku ke samping. Tak ingin bertatapan dengannya.

“Aku hanya ingin tahu hatimu Maura. Apakah kamu selama tiga tahun ini hanya menganggapku pembuat kopi yang akan melayanimu setiap hari atau seorang lelaki yang istimewa di dalam kehidupanmu.”

“Untuk apa kamu pertaruhkan aku? Untuk apa?”

Perlahan air mataku mengalir. Membasahi bantal yang menopang kepalaku.

“Aku yang mempertaruhkan sejumlah uang untuk yang berhasil mendapatkan hatimu. Jangan salahkan Taga.” Suara seorang perempuan bergema.

Gadis cantik yang kemarin membuatku cemburu karena bergelayut di lengan Taga muncul di depan pintu. Selalu cantik dan anggun meskipun wajahnya sinis.

“Yuna, apa yang kamu lakukan? Kakak sudah bersusah payah menyusun 100 nama untuk kencan Maura. Kenapa harus ada pertaruhan segala macam?”

“Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku, Kak.”

Kakak? Mereka saudara?

“Dia saudaramu?"

“Kembaran tepatnya.”

“Saudara kembarmu?”

“Pokoknya aku nggak mau tahu, Taga hanya milikku!”

Gadis itu mulai menangis kemudian berlari meninggalkan kami.

“Taga, dia tidak apa-apa?”

“Dia selalu begitu. Dia tak ingin ada yang mendekatiku. Apalagi perempuan. 
Dia akan sangat cemburu. Dia takut akan kehilanganku.”

“Dia membuat pertaruhan agar tak kehilanganmu?”

“Bisakah kali ini saja jangan membicarakan orang lain. Aku hanya ingin bertanya satu kali. Apakah kamu memiliki perasaan yang sama denganku?”

Taga mencintaiku? Bahkan tak pernah membuat pertaruhan apa pun untuk mempermainkanku?

“Kenapa kamu menyimpan namamu di nomor terakhir?”

“Karena aku takut, kamu akan menolakku. Aku tak pernah punya keberanian untuk mendekatimu lebih dulu.”

Aku bangkit dan duduk berhadapan dengannya. Aku sangat lelah. Aku langsung memeluknya. Menangis di bahunya.

Selesai...

19 Mei 2012

Fahd: Bahagia Itu Sederhana

Usia 6 tahun bukan berarti Fahd susah memahami keadaan. Sering dia menginginkan mainan ketika jalan ke pusat perbelanjaan tetapi saya bisa membuat dia mengurungkan niatnya untuk membeli mainan, bahkan apa pun. Saya tidak perlu marah atau membentak. Cukup bicara baik-baik.

"Fahd tahu uang kakak tidak banyak. Kita bisa beli mainan yang Fahd mau. Tapi Fahd mau makan apa kalau uangnya tidak digunakan buat beli beras? Apa mainannya bisa dimakan kalau Fahd lapar?"

Fahd kecewa. Tidak menangis. Dia diam beberapa saat kemudian melupakan mainan yang dia inginkan.

Itu cara saya.

Beberapa hari ini dia menginginkan burger. Harganya tidak mahal. Hanya Rp6.000. Tapi beberapa kali saya lupa menarik uang di ATM sehingga tak bisa membelikannya. Saat dia melihat isi dompet saya, Fahd tak banyak tanya mengapa "crabby patty" yang dia inginkan tak datang-datang. Dalam pikirannya dia menganggap saya sedang tak punya uang.

Malam ini saya sudah membelikannya karena malam ini mau tinggal di rumah dengan menonton film di laptop saya. Fahd baru 6 tahun tapi lancar menggunakan ubuntu. Tiga jam dia bersabar menunggu. Segelas jus buah naga juga saya bawakan. Dia sangat senang. Kebahagiaannya malam ini bisa saya bayar dengan Rp11.000. Jusnya pun masih harus berbagi dengan saya. Fahd tetap senang.

Sudah setahun lebih kami hidup bersama. Semuanya karena kekacauan di keluarga kami. Sepuluh tahun yang lalu saya telah mengambil keputusan yang paling tepat dengan meninggalkan semuanya. Saya tidak kuat lagi hidup bersama ayah yang tidak pernah memberi nafkah untuk keluarganya. Suka menang sendiri. Tak pernah bisa disalahkan. Saya tidak mampu melihat ibu saya harus berjuang memberi kami makan. Mengajar pagi hari. Jual bakso dan mie ayam di sore hari. Menjadi tukang pijat. Bahkan membuka usaha agen minyak.

Belum lagi kakak saya yang menggerogoti keluarga. Sejak kecil dia selalu ingin jadi orang kaya dan gaya hidupnya seperti itu. Tidak dipenuhi? Dia akan mengacaukan seisi rumah dan tak ada yang bisa menghalangi keinginannya.

Keluarga saya seperti bukan keluarga. Tak ada ketenangan di sana. Jangankan buat saya, buat Fahd pun tak ada. Saya membawanya ke sini karena saya tidak ingin kakak saya menyiksa Fahd, seperti dia menyiksa saya dulu. Cukuplah tubuh dan jiwa saya yang terluka. Jangan Fahd.

Jadi di sinilah kami berdua. Makan seadanya dengan bahagia. Saya jarang sekali pulang. Bahkan tiap saya tanya pada Fahd apakah dia ingin pulang, dia akan menjawab dengan gelengan kepalanya. Cukup kenangan buruknya tentang ayah dan kakak yang suka menyakitinya.

Di sini, dia bahagia bersama saya yang terus belajar mendidiknya. Bahagia itu sederhana.

18 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 17) Satria

100 Kencan Buta [Bagian 17) Satria

Bagian 17
Satria

Kubiarkan cinta menetaskan rindu. Membesar di sarang-sarang hati. Malam ini kumasih merindukanmu. - Maura, 25 tahun, 
merindukan siapa ya?

Langkahku masih sedikit lemah. Tapi terus kupaksakan untuk mendatangi cafe tempat aku bertemu Taga. Aku berharap ada Taga di sana. Sedetik aku merasa sangat sakit di dalam hatiku. Mengapa aku jadi begini? Apakah Yo memang benar? Bahwa selama ini aku telah jatuh cinta pada Taga? Bahwa Taga satu-satunya orang yang telah memiliki hatiku? Tak ada yang lain?

Aku menemukan kursiku dan duduk di sana. Mataku bertemu dengan sepasang mata yang sangat kukenal. Taga? Mengapa sekarang dia ada di kursi lelaki yang terakhir harus aku kencani? Bukankah Satria yang aku tunggu?

“Kenapa kamu ada di sini sekarang? Bukannya kamu masih harus dirawat di rumah sakit?”

“Taga?”

“Satria Sitaga, yang kamu kenal dengan nama Taga. ”

Taga mengulurkan tangannya berharap aku menyambutnya dengan hangat. Aku tak kuat lagi menahan diriku. Tangan yang harusnya menjabat tangan Taga aku fungsikan untuk menamparnya detik itu juga.

“Aku tidak akan pernah lupa semua yang sudah kamu lakukan untuk mengacaukan hidupku.”

Pipi Taga memerah. Dia menatapku tak percaya.

“Kenapa Maura?”

“Itu untuk membuat 100 kencan buat bualanmu selama ini.”

Tanganku melayang sekali lagi menerpa pipi yang sebelahnya.

“Itu untuk mempertaruhkan perasaanku pada orang lain.”

Aku, Maura. Hanya seorang perempuan. Aku punya satu hati. Satu cinta. Sekarang semuanya hancur berkeping-keping. Kurang apalagi coba? Sudah gagal dalam percintaan. Dibohongi untuk 100 kencan buta. Kecelakaan. Sekarang? Aku rasa aku mencintai orang yang paling salah di dunia ini. Taga, mengapa harus begini?

Langkahku setengah berlari. Taga mengejarku, memanggilku. Tapi aku tak peduli dengan suaranya. Pandanganku mengabur. Tubuhku yang lemah rasanya hampir jatuh. Aku berpegangan di kaca-kaca butik dan deretan toko di pusat perbelanjaan itu. Entah berapa banyak suara yang menyapaku. Beberapa tangan menggapaiku. Kemudian, aroma yang sangat aku kenal. Aroma Taga. Menyeruak di antara banyak aroma itu.

Lengannya meraihku. Mengangkatku dengan kedua tangannya. Semuanya kemudian menjadi lebih gelap. Pekat. Tak terlihat apa-apa.

17 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 16) Taga

100 Kencan Buta [Bagian 16) Taga

Bagian 16
Taga

Setiap inci hatiku perlahan melangkah menuju pintu hatimu, aku hanya butuh kunci untuk membukanya. Akankah kamu berikan anak kunci itu? -
Maura, 25 tahun, pindah profesi jadi tukang reparasi.

Mataku membuka, melihat cahaya mentari yang menyusup melalui gorder yang ditiup angin perlahan. Jendela terbuka sedikit. Aku melihat ruangan yang aku tempati. Putih. Semuanya putih. Seorang perawat tersenyum padaku. Dia sedang memeriksa infus yang terhubung di lenganku. Aku di rumah sakit?

“Saya panggilkan dokter dulu ya Mbak Maura.”

Bayangan kecelakaan itu bekelebat di kepalaku. Sebuah truk. Beberapa sepeda motor. Suara rem. Kemudian semuanya menjadi gelap. Kepalaku masih nyeri. Saat tanganku bergerak memegangnya ada perban melilit di sana. Pusing. Sudah berapa lama aku di sini?

Seorang dokter masuk disertai beberapa perawat. Termasuk perawat yang tadi memeriksa infusku.

“Sekarang tanggal berapa?” aku menatap dokter yang memeriksaku.

“Tujuh belas.”

“Tujuh belas Mei?”

“Tujuh belas Juli.”

“Juli?”

Aku mengumpulkan ingatanku sementara mereka melakukan tugas mereka sebagai dokter dan perawat. Aku masih ingat sebelumnya aku berada di bulan April. Bukan Juli. Bagaimana mungkin sekarang aku sudah berada di bulan Juli?

“Anda koma lebih dari dua bulan.”

Aku mendengar ucapan dokter yang kemudian berlalu dari hadapanku. Dia berusaha menjawab pertanyaan yang ada di dalam kepalaku. Aku hanya tersenyum pahit. Telah dua bulan aku berada di kamar ini? Koma?

“Meskipun Mbak Maura koma, selalu saja pacar Mbak setia menunggu Mbak bangun. Padahal dua bulan lebih itu waktu yang panjang.”

“Pacar?”

“Saya pikir dia pacar Mbak Maura soalnya dia yang selalu menunggu Mbak setiap hari.”

“Setiap hari?”

“Biasanya dia datang pukul 1 siang. Sebentar lagi juga dia datang.”

Aku tak bertanya lagi. Sudah cukup banyak yang aku tanyakan. Terlalu banyak informasi yang aku terima. Aku lelah mengumpulkan informasi yang aku lewatkan lebih dari dua bulan ini.

Perawat itu meninggalkanku setelah merasa semua pertanyaanku terjawab. Aku membiarkannya pergi. Jendela di sebelah kananku memperlihatkan bunga-bunga yang bermekaran. Saat aku menoleh ke arah pintu kamarku mataku bertumbuk dengan wajah Taga. Apakah perawat itu menceritakan tentang Taga?

“Kamu bangun juga akhirnya.”

Taga mendekat dan meletakkan bunga mawar putih di mejaku.

“Kamu datang setiap hari untukku?”

“Siapa lagi yang akan mendatangimu, Ra?”

Aku tersenyum getir. Taga benar. Tak akan ada satu orang pun yang akan datang untuk menjengukku di rumah sakit. Teman? Hampir tak punya. Hanya beberapa kenalan yang tak begitu dekat. Aku baru sadar. Hanya Taga yang benar-benar menjadi sahabatku.

“Aku rindu dengan kopimu.”

“Kamu harus sehat dulu.”

Banyak yang ingin kutanyakan tapi semuanya buyar ketika Taga benar-benar sudah ada di sini. Tidak ada yang ingin kudengar lagi. Cukup Taga saja.

“Kok lama?”

Seorang perempuan muncul di depan pintu. Cantik. Rambut panjang bergelombang. Mata besar dan hitam. Gaunnya manis. Dia melangkah ke arah Taga dan langsung bergelayut manja di lengannya. Pacarnya?

“Aku harus pergi. Maaf kemarin tak memberikan nomor ponselku padamu. Besok aku datang lagi. Kalau butuh apa-apa hubungi aku ya.”

Taga meletakkan sebuah kertas yang bertuliskan nomor ponselnya di meja. Aku tak sanggup melihat kemesraan mereka. Air mataku hampir mengalir. Aku tahan. Tahan. Tahan terus hingga Taga berlalu di hadapanku.

***
Aku berdiri dan mendekati kalender yang bergantung di dinding. Infus sudah kulepas dari lenganku. Aku mulai menghitung hari pertama kali aku kencan hingga hari ini. Aku harus tahu lelaki ke berapa yang akan aku temui hari ini. Butuh beberapa lama untuk menghitung hari-hari 100 kencan tersebut.
Hari ini ke-100?

Aku melangkah hati-hati. Aku harus pergi. Aku tak mau di sini. Malam ini malam terakhir kencan buta yang Taga susunkan. Aku harus bertemu dengan lelaki yang bernama Satria itu. Dia harus mempertanggungjawabkan semua kencan yang harus aku jalani sekarang. Aku butuh penjelasan darinya. Mengapa dia lakukan semua ini padaku?

Tubuhku masih sangat lemah tapi aku tak punya pilihan lagi. Aku hanya bisa menemui Satria hari ini.