Langsung ke konten utama

Wisata Kuliner: Ayam Dower


Singgah lagi ke Warung Sotong Pangling karena pelayanannya yang sangat memuaskan dan rasa sotongnya yang enak.

Awalnya tertarik dengan kuliner yang satu ini karena banyak yang ngetwit tentangnya. Ayam Dower dengan tagline: ‘Keringat anda kepuasan kami’. Tetapi sedikit menciut gara-gara pertanyaan saya di twitter yang dicuekin. Saya memang menanyakan sesuatu yang bisa jadi tak semua tempat makan berani jawab. Tetapi saya yakin setiap koki pasti akan menjawab iya, jika dia yakin dengan apa yang dia jual.

Pertanyaan saya: “Yakin nggak makanannya enak nih?”

Tidak dijawab. Sebelum menuliskan pertanyaan tersebut yang ditujukan pada akun @ayam_dower, sudah yakin 90% tidak akan dijawab. Banyak yang bilang pertanyaan seperti ini sesuatu yang absurd. Tidak pantas ditanyakan. Nah, kalau mau tahu makanannya enak atau tidak ya tinggal mampir dan makan di sana.

But, hey, setiap pertanyaan yang saya ajukan tentu saja ada maksudnya. Saya hanya ingin menguji keberanian seseorang untuk menghargai makanan yang mereka jual. Beranikah mereka mengakui makanan yang mereka jual adalah sesuatu yang enak? Mampukah mereka membuat orang lain datang karena penghargaan makanan mereka terhadap apa yang akan mereka sajikan di meja pelanggan.

Lantas bagaimana kalau seorang pedagang berani mengatakan makanan yang mereka jual enak, ternyata menurut pembeli tidak enak.

Penilaian setiap orang akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namanya juga selera makan. Pasti bergantung pada siapa yang makan. Apa yang disukai dan tidak disukai oleh pelanggan yang datang dipengaruhi pada seleranya. Seenak apa pun, kalau tidak sesuai selera, tentu saja akan menjadi sesuatu yang tidak enak.

Jadi, setidaknya, anda yang menjual makanan di rumah makan anda sekarang memiliki keyakinan bahwa makanan anda enak, anda sedang memberikan ‘kekuatan’ pada makanan tersebut.

Saya pikir saya akan menghargai makanan yang dihargai oleh penjualnya, bahkan kokinya sendiri.

Lantas bagaimana dengan @ayam_dower? Mereka tidak menjawab pertanyaan saya sehingga di dalam kepala saya terbayang makanannya pasti TIDAK enak. Sehingga saat datang ke sana, saya menjadi sangat teliti dengan apa yang ada. Inilah penilaian saya.

1. Tempat

Tempatnya sederhana, lebih ke arah warung lamongan. Hanya ada satu deret meja yang rapat antara satu dengan yang lainnya. Jadi, apabila berharap dapat privasi, anda harusnya tidak memilih makan di sini.



Mejanya empat.

Tetapi saya tidak keberatan untuk makan dengan kelengkapan seperti ini. Rata-rata warung lamongan juga seperti ini. Saya berikan 6 bintang dari 10.







2. Pelayanan

Lihat kertasnya yang disobek seenaknya dan meninggalkan
sisa yang cukup merusak pandangan.
Pelayanannya saya pikir harus ditingkatkan lagi. Mulai dari kami datang hingga membayar dan 
pulang, saya tidak merasakan mereka berusaha untuk melayani sebaik mungkin. Saya pernah nongkrong di warung minum sederhana dengan sebuah gerobak bersih, tetapi pelayanannya sangat memuaskan.

Kita akan disambut dengan senyuman dan langsung ditanya dengan keramahan yang luar biasa.

Tetapi di warung ini, jangankan senyum, cara mereka menyajikan makanan yang dijual juga kurang layak. Nasinya memang ditaroh di atas kertas nasi yang ditempatkan di atas piring anyaman rotan, menarik konsepnya, tetapi mereka tidak membawakannya dengan nampan ke meja anda. Sayang sekali bukan, padahal dengan membawa makanan di atas nampan akan memberi nilai jual lebih pada makanan tersebut.

Belum lagi minumannya yang disajikan dengan gelas plastik. Mengapa harus gelas plastik? Apakah karena memang tidak ada gelas kaca? Padahal gelas kaca yang biasanya digunakan oleh pedagang bukanlah sesuatu yang harganya sangat mahal. Membeli selusin atau dua sepertinya bukan sesuatu yang memberatkan. Setidaknya ini akan membuat minuman yang anda jual terlihat lebih baik.

Baiklah, pelayanan dan penyajiannya buruk, wajar mereka tidak berani mengatakan makanan mereka ‘enak’ dengan yakin saat ditanya. Penghargaan mereka terhadap dagangan memang kurang. Saya hanya bisa beri 5 bintang dari 10.








3. Rasa

Sebenarnya rasa masalah selera, bukan sebuah kemutlakan seperti kopi yang memang pahit dan gula yang manis. Sejak awal saya memang mengingat mereka kurang respek dengan makanan yang mereka jual sehingga saya tidak berharap banyak. Jujur, apabila saat itu mereka mengatakan makanan mereka memang ‘enak’ saya akan menilai makanannya dari sisi mencari enaknya.

Sayang, mereka tidak menjawab, sehingga saya tetap memegang nilai ketidakenakan.



Lalu? Apakah enak? Sebenarnya bisa diterima rasa ayam yang disajikan. Tidak buruk tapi juga tidak begitu sesuai selera saya. Sambalnya kurang pedas. Saya masih memegang pada Ayam Penyet Bu Nina untuk sambal ayam yang enak dan pedas. Padahal saya sudah siap-siap kepedasan dan berkeringat saat melihat sambalnya. Jangankan kepedasan berkeringan saja tidak. Apakah sambalnya mengandung lada lebih banyak bukan cabai? Saya tidak tahu. Ayamnya digoreng dengan bumbu ketumbar, jelas sekali, bukan selera saya, meskipun masih bisa saya terima. Lapar mungkin.

Nilai tambah yang membuat saya menikmati ayam bumbu ketumbar ini adalah terong yang dipotong bundar dan digoreng tepung. Renyah, terongnya enak. Kolny juga digoreng, jadi tidak ada kol yang berwarna putih dan renyah, melainkan kol yang lembek dan matang. Kolnya enak.

Kobokan



Saya berikan 7 bintang dari 10 untuk rasa.

Penilaian yang saya lakukan ini setelah mencoba satu kali. Sayang saya tidak punya alasan untuk kembali makan di sini. Pedagangnya tidak yakin dengan rasa makanan yang dijualnya sih, coba dia lebih percaya diri untuk mengatakan ayamnya enak. Toh, saya yang tidak suka ayam ketumbar saja bisa menghabiskan ayam gorengnya.

Buat teman-teman yang ingin makan ayam goreng dengan varian yang berbeda dari warung lamongan boleh mencoba menu ini. Setidaknya tidak semembosankan nasi warung lamongan yang banyak sekali tersebar di Pontianak.

Akhirnya malah singgah ke warung Sotong Pangling
Pesan buat yang dagang, kalau mau memberikan uang kembalian pembeli sebaiknya bukan mengeluarkan dompet dari saku. Itu kasar menurut saya. Biasanya pedagang punya laci uang di sebuah meja kasir, setidaknya jika tidak punya, memberikan jarak antara pedagang dan pembeli itu lebih baik. Menunggu seseorang mengeluarkan uang kembalian dari dompetnya dengan jarak sangat dekat kesannya tidak enak banget.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs