Langsung ke konten utama

Dari Balik Hati Senja [Bagian 2]


Senja melempar buku yang terpaksa dibelinya ke ranjang. Jenny sudah pulang. Sandy duduk di pinggiran jendela kamar Senja. Wajah mereka ekspresinya sangat bertolak belakang. Senja merengut dan Sandy menahan tawa. Gadis itu mengambil karet dan mengikat rambutnya dengan kasar. Rambutnya terikat seadanya. Mata mereka bertemu beberapa detik.

 9218374206806825_c9xewy15_f_large
“Senang sekarang?” suara Senja yang jernih terdengar sangat ketus.

“Aku tidak memintamu untuk berbohong pada Jenny, kamu sendiri yang bohong. Sekarang semua salahku?”

“Setidaknya kamu bisa cari cara agar aku tidak perlu berada di antara kalian.”

“Ada apa dengan Jenny? Dia salah apa sama kamu?”

“Kamu tahu sendiri Jenny bukan tipe cewek yang cocok buat kamu. Kamu lihat saja, dia hanya mempermainkanmu. Kamu buat ya San? Dia tuh kerjaannya gonta-ganti pacar. Bukan hanya di kampusku tapi di semua kampus universitas kita. Bahkan anak-anak dosen yang berada di kampus lain pun pernah dipacarinya.”

“Berarti dia populer, harusnya aku bangga bisa menjadi bagian dari kepopuleran itu.”

Senja menarik napas sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kamu tahu? Aku tidak peduli kamu mau pacaran sama siapa, mau sama Jenny atau cewek lain yang sepuluh kali lebih player dari Jenny juga tak ada masalah. Sekarang pulang sana.”

“Kamu cemburu?”

Senja melotot mendapat tuduhan semacam itu.

“Bicara apa kamu?”

“Akuilah kalau memang kamu cemburu. Kamu tidak ingin aku dekat dengan orang lain karena sekarang kamu jomblo dan kamu iri aku punya pacar.”

“Kamu bisa baca wajahku, kamu bisa lihat sendiri aku cemburu atau tidak.”

Sandy mendekat. Duduk di sebelah Senja dan memperhatikan wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Beberapa puluh detik yang terdengar hanya detak jantung mereka. Entah kapan terakhir kalinya mereka berdua saling menatap sedekat ini. Tapi bukan begini rasanya. Bukan.

“Sudah?” Senja mendorong tubuh Sandy agar menjauh darinya.

“Kamu sedang memikirkan sesuatu yang lain tadi. Apa?”

“Kamu sendiri yang bilang bisa membaca ekspresi wajahku. Kamu sendiri yang jelaskan apa yang ada di dalam kepalaku.”

Sandy menatap mata Senja lekat-lekat.

“Kalau kamu tidak suka aku dekat dengan perempuan mana pun kamu tinggal bilang Nja. Detik itu juga aku tidak akan dekat dengan Jenny atau cewek yang lain.”

“Maksud kamu?”

Sandy terlihat gugup. Ia tak bisa mengatakan apa yang dia lihat di mata Senja. Dia melihat sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya. Apakah ia telah membacanya dengan benar?

“Pulang sana. Ini kamar cewek. Tidak baik berlama-lama di sini.”

“Akhir-akhir ini kamu selalu mengatakan hal seperti itu. Kamar cewek. Privasi. Aturan yang bermacam-macam. Sejak kapan ada jarak antara kita Nja?”

“Sejak kita sudah duduk di bangku kuliah dan aku sadar kita beda jenis. Bisa diterima penjelasanku?”

“Bukan itu yang aku lihat.”

“Apa yang kamu lihat San?”

“Kamu bukan iri karena kamu jomblo dan aku punya Jenny. Kamu cemburu sebagai perempuan. Kamu menyadarinya sekarang, bahwa kita lawan jenis, itu yang membuat jarak antara kita akhir-akhir ini.”

“Omong kosong macam apa itu San? Mana mungkin aku punya perasaan semacam itu. Kita sahabatan dari kecil. Tidak mungkin ada yang bisa mengubah itu semua. Aku tidak suka Jenny itu saja.”

“Jujur Senja.”

Senja menggelengkan kepala berkali-kali dengan cepat sambil tertawa. Sandy berpikiran terlalu jauh. Jenny memang bukan pengaruh yang baik untuknya. Harusnya sejak awal dia sudah mengingatkan Sandy tentang siapa Jenny bukannya malah menghindari untuk bertemu bertiga. Akhirnya Sandy sudah memiliki hubungan khusus dengannya.

Sandy memegang belakang leher Senja perlahan membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Sekarang mereka bahkan mendengar dengusan napasnya berdua. Hidung Senja hampir menyentuh hidung sahabatnya itu. Ia tak menarik wajahnya. Dibiarkannya Sandy menatapnya dalam jarak sedekat itu. Mereka bertatapan lama.

 420931_370903856271019_226262497401823_1355650_1478279915_n_large-453x300_large

“Jujur dengan dirimu sendiri Senja.”

Sandy melepaskan lehernya dan meninggalkannya begitu saja. Melangkah pulang. Ke rumah sebelah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs