Langsung ke konten utama

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 19]





Sudah lewat tujuh hari. Batas yang diberikan untuk jawaban yang dinanti itu berakhir hari ini. Aku masih belum menemukan keberadaan Polki. Aku sekarang mulai membangun keyakinan baru bahwa memang kami bukanlah takdir yang telah dilukiskan. Aku harus bisa menerima kenyataan ini tanpa ada pertanyaan mengapa yang terus mengganggu. Tak perlu alasan apa pun untuk sebuah takdir karena ini sudah suratan.
            
Aku harus memberikan jawabannya hari ini. Aku tak punya jawaban selain “ya”. Hatiku harus belajar untuk mencintai Habibi. Mungkin bukanlah sesulit yang aku pikirkan sebelumnya. Aku harus menghapus nama “Polki” sampai bersih dan mulai mengibarkan bendera yang baru di sana. Bendera yang lebih indah mungkin. Entahlah, yang jelas sekarang aku menarik napas terpanjang dalam hidupku dan melepaskannya pelan-pelan. Aku berusaha keras untuk menerima kenyataan ini. Sebenarnya kenyataan yang tidak begitu aku harapkan.
            
Aku paling menginginkan Polki datang kehadapanku dan membawaku pergi jauh dari sini. Satu kalimat yang terngiang-ngiang terus terdengar di telingaku. Kalimat yang pernah diucapkan Cempaka untuk menguatkanku. Sepertinya ia tahu ada yang mengganjal dalam hatiku untuk menerima lamaran ini. Ia berulang kali mengatakan bahwa setiap laki-laki yang shaleh diciptakan untuk perempuan yang shalehah pula. 


Memang aku masih ragu dengan pernikahan ini, tapi aku akan berusaha menerima takdir yang Allah berikan padaku. Polki maafkan aku, ini adalah jalan yang telah Dia pilihkan untukku. Aku yakin ada jalan lain yang telah dipilihkan oleh Allah untukmu. Mungkin Allah ingin aku mendapatkan bimbingan yang lebih banyak dari Habibi agar aku sampai di tahap shalehah yang sebenarnya.
            
Aku berada di hadapan keluarga yang sebentar lagi akan menjadi keluargaku. Dan aku duduk di kursi yang berseberangan dengan laki-laki yang mengatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Jatuh cinta yang seperti apa? Aku bingung mengapa ia bisa jatuh cinta padaku. Apakah aku begitu mempesona sehingga ia ingin memperistriku? Padahal aku merasa tak punya kelebihan apa-apa. Dalam Islam saja aku masih sangat terbata-bata. Mencoba mempelajari semuanya dengan hati-hati.            


Habibi menatapku sebentar. Tak ada yang bisa kamu baca dari mataku Habibi. Matamu pasti sudah tak mampu mengartikan setiap kerlingan mataku yang menyiratkan duka. Aku terluka bukan karena cinta yang tak terbalas. Aku merasa terluka lebih dalam karena cintaku yang berbalas. Cinta yang ternyata harus aku biarkan bersemayam dalam sudut hatiku tanpa ada yang tahu.
            
Aku masih tak dipertemukan denganmu Polki. Itu adalah jawaban untuk semu tanya yang pernah singgah dalam kepalaku. Jawaban pasti bahwa aku harus menerima Habibi sebagai suamiku. Aku tak tahu ada rahasia apa yang akan terjadi setelah aku menerimanya. Aku berharap aku akan tenang menjalani hari-hariku yang berikutnya. Semua perempuan pasti menginginkan suami yang dapat membahagiakannya di dunia dan di akhirat. Aku harus meyakinkan hatiku sendiri bahwa Habibi pasti mampu melakukannya. Aku hanya ingin percaya itu.
            
“Jadi?”
            
Semuanya menanti jawabanku yang ternyata hanya dapat aku ungkapkan dengan sebuah anggukan. Begitu berat hatiku mengakui bahwa aku menerimanya. Aku mengalah dengan takdirku sendiri. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak mau lari terus dari pernikahanku. Ini benar-benar harus aku jalani.
            
“Alhamdulillah...”
            
Semuanya yang hadir mengucapkannya bersamaan setelah aku mengangguk. Habibi berkomat-kamit sebentar. Entah apa yang ia ucapkan yang jelas aku melihat cahaya penuh kebahagiaan di wajahnya. Aku senang bisa membalas semua yang telah mereka berikan untukku. Setidaknya aku tak perlu menikahi sahabatku sendiri.
            
“Bulan depan insyaAllah akan kita langsungkan akad nikah bersama dengan akad nikah Annisya.”
            
Abi mengumumkan acara berikutnya yang harus aku lewati dalam keluarga ini.
            
Pernikahan Annisya? Dengan siapa? Aku tak pernah tahu kalau ia juga akan melangsungkan pernikahan. Berarti ini akan benar-benar menjadi suatu momentum yang besar dalam keluarga ini. Anak yang mereka besarkan, hanya dua orang, sekarang akan menikah. Akan membentuk sebuah keluarga yang lebih besar lagi.
            
“Besok kita bertemu lagi. Bersama dengan sepasang mempelai lainnya. Agar lebih banyak yang menyampaikan ide untuk acara ini. Yach... yang lebih muda saja yang mengatur semuanya.”
            
Malamnya aku tak mampu memejamkan mataku sendiri. Aku tak ingin malam ini berlalu dengan cepat karena aku tak mau cepat-cepat menjadi istri Habibi. Aku masih takut untuk berada satu kamar, satu ranjang dengan laki-laki yang rasanya asing bagiku. Apakah aku akan baik-baik saja? Apa aku mampu menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri? Istri yang berbakti kepada suami.
            

Akhirnya aku tertidur juga setelah dengan susah payah mengusir pikiran mengenai pernikahan itu. Sebelum adzan menjelang aku juga sudah bangun. Aku harus bangun walaupun sebenarnya aku masih sangat mengantuk dan ingin menggulung tubuhku di dalam selimutku sendiri. Sayangnya calon istri seorang Habibi akan sangat memalukan apabila melakukan hal seperti itu.
            
“Kak Kayra harusnya senang karena telah mendapatkan calon suami sebaik Bang Habibi. Cempaka lihat akhir-akhir ini wajah Kakak malah murung. Ada apa?”
            
Aku menikmati semilir angin yang mempermainkan jilbab yang melindungi rambutku. Angin yang sangat lembut itu kemudian menyentuh pipiku sedikit. Menyapaku dengan belaiannya. Aku menatap wajah Cempaka. Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya. 


Aku mencintai orang lain walaupun sampai saat ini aku tahu aku bukan tercipta untuk Polki. Begitu juga sebaliknya. Itu sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan untuk aku pahami. Bukan karena aku tak mau menerimanya. Aku masih tak sanggup mencintai orang lain selain Polki. Aku begitu plin-plan dalam hal ini.
           
 “Apakah ada yang mengganggu pikiran Kakak?”
            
Aku menatap jauh ke dalam mata Cempaka. Dulu waktu ia punya masalah ia dengan yakin menceritakannya padaku. Sekarang aku malah ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Apakah ia mampu merahasiakan ini? Aku tak mau kejujuranku menyebabkan banyak orang terluka. Aku hanya ingin mengurangi sedikit beban yang harus aku tanggung sendirian.
            
“Kakak mencintai orang lain.”
            
Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibirku. Aku merasa sedikit lega karena mengeluarkannya. Walaupun mungkin tak akan mengubah apa-apa yang terpenting aku merasa bebanku berkurang.
            
“Siapa?”
            
“Kamu tak akan mengenalnya. Ia seseorang yang berada jauh dari sini. Entah dimana ia berada sekarang.”
            
Aku kemudian menceritakan semua yang pernah terjadi padaku sebelum aku berada di sini. Aku menceritakannya tanpa menutupi apa pun. Aku tak sanggup lagi. Aku tak kuat lagi menahannya sendiri. Aku begitu lelah dengan kenyataan ini. Bukan karena aku mengakui betapa lemahnya aku. Namun aku memang sangat mencintai Polki. Aku tak ingin menikahi siapa pun. Aku hanya ingin seperti ini saja. Sendiri.
            
Aku sudah lelah menyembunyikan diriku dari Rheka. Sekarang disaat aku sedikit tenang dengan hidupku. Aku malah mendapat pernikahan yang lain. Aku tak mau menikah kecuali dengan Polki. Aku tak sanggup menerima keberadaan seseorang yang baru sekarang. Berat. Ini terlalu kuat menekan dadaku. Sampai-sampai semuanya terasa sesak.
            
Cempaka menghapus air mata yang menitik di pipinya dan di pipiku. Sebuah senyuman ia usahakan segera tercipta di wajahnya.
            
“Apa pun yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik untuk kita Kak. Kakak nggak boleh seperti ini terus. Kakak pasti bahagia dengan Abang.”
            
Cempaka memelukku erat-erat. Aku harusnya mensyukuri semua yang telah diberikan ini. Bukannya bermuram durja dan menyesalinya. Cempaka yang sekarang terlihat lebih kuat dengan semua cobaan yang telah lewati. Harusnya aku malu karena ia mampu melewatinya dengan sabar. Aku yang mendapat anugrah kenapa harus seberat ini menerimanya.


***
      

Aku menatap wajah yang begitu aku kenal. Aku tak mengira mempelai laki-laki Annisya adalah Polki. Laki-laki yang selama ini aku cari ternyata hanya berada di pondok sebelah. Ia bermukim di sana tanpa aku tahu sama sekali. Apakah ini memang kehendak-Mu? 


Aku dipertemukan setelah menerima pernikahan yang ditawarkan Habibi. Aku terlanjur menerimanya. Kalau aku tahu aku akan dipertemukan juga denganmu aku tak akan menerimanya Polki. Aku meminta Allah mempertemukan kita lebih dulu jika memang kita ditakdirkan bersama.
            
Aku tak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi. Mengapa aku bertemu dengan Polki lagi? Pada saat yang benar-benar tidak tepat. Aku mungkin sangat merindukannya. Aku mungkin sangat menginginkannya tapi aku berada di posisi yang benar-benar terjepit. Aku terjepit di antara kalian semua. Apakah mereka tahu tentang penyakit yang masih menggerogoti tubuhmu Polki? Apakah keluarganya bisa menerimamu? Tanpa syarat atau diskriminasi apa pun? Apakah mereka tak seperti keluargaku?
           
“Apa kabar?”
            
Polki menyapaku begitu saja di depan semua orang yang pastinya tak pernah tahu kalau kami saling mengenal dan pernah melewati masa-masa indah bersama. Aku sedikit gelagapan karena aku tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Ia kelihatan lebih sehat dan damai. Apakah ia juga mendapat tawaran sepertiku waktu kabur? Apakah ia juga kabur begitu saja? Kemudian ia bertemu dengan Annisya dalam angkutan umum dan jatuh cinta padanya.
            
“Alhamdulillah, aku baik.”
            
Aku rindu dengan kata “sayang” yang selalu ia gunakan untuk memanggilku. Aku bahkan ingin ia memanggilku “istriku”. Aku hampir tak mampu menguasai otakku sendiri karena kata hatiku yang menjerit. Ia menjerit dengan keras. Aku harap semua insan yang ada di sini tak mendengarnya. Aku takut semua isi hatiku menggema terlalu keras. Bisa sangat berbahaya. Itu berarti semua orang ini akan mengetahui siapa aku dan siapa Polki.
            
Akhirnya kita bertemu Polki. Sekian lama aku berdoa untuk bertemu denganmu. Aku ingin menunaikan kata setia yang pernah kita ikrarkan bersama. Aku ingin membagi semua batinku untukmu. Aku ingin menjadi perempuan yang akan melayanimu selamanya. Dalam sakit aku ingin menjadi perawatmu yang setia menjagamu. Apa kau dengar kata hatiku Polki? 


Aku berharap tatapan mataku mampu mengutarakannya padamu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama ini aku mampu mendengar jeritan hatimu. Namun sekarang aku tak mendengar apa-apa? Apakah hatimu sudah tertutup untukku? Aku tak pernah mengkhianati cinta kita.  Kamu harus tahu cinta itu. Cinta yang kita bangun dengan susah payah?
            
“Aku tak tahu kamu ada di sini.”
            
Kalimatmu begitu kaku Polki. Apa karena banyak pasang mata yang memperhatikan kita? Atau kau sudah melupakan cara mengucapkannya? Aku berharap penyebabnya adalah lidahmu yang sudah terbiasa memanggilku dengan kata “sayang”. Harusnya hubungan kita tak perlu terlalu manis Polki. Agar semuanya tak menyakitkan. Agar aku merasa sedikit nyaman untuk menjalin sebuah hubungan yang baru. 


Aku ingin belajar membuka hatiku untuk Habibi. Sudah tak mungkin untuk kita berpaling lagi Polki. Kecuali kita kabur. Bagaimana kalau kita kabur saja?
            
“Sudah beberapa bulan ini aku bergabung di pondok ini.”
            
Aku masih menatap indah matanya. Setengah jiwanya lumpuh dan menghentikan akal sehatku yang harusnya sadar bahwa kami tak hanya berdua di sini. Aku masih cinta padamu Polki. Aku tak tahu bagaimana mengucapkannya. Aku tak tahan lagi menyembunyikan perasaan yang sampai saat ini tak mampu aku kubur. 


Aku lelah Polki. Aku ingin kau dengar semua ini. Aku lelah. Aku ingin bertemu denganmu sejak beberapa bulan yang lalu. Kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Disaat aku tak punya pilihan lagi.
            
“Aku tak pernah tahu kamu tak menikah dengan Rheka.”
            
Aku tersenyum dan menahan air mata yang hampir menitik. Jangan sampai ada yang tahu kita pernah punya janji setia bersama selamanya. Itu adalah hal pertama yang ingin aku katakan padamu Polki. Aku ingin mengatakannya padamu. 


Aku terlambat menyadari bahwa aku sangat mencintaimu tapi aku menusuk hati yang membalas cintaku tanpa perasaan. Aku memang pengecut Polki. Harusnya aku akui semua yang Dagna katakan. Aku harusnya mengakuinya, apa pun resiko yang akan aku terima. Aku sudah dewasa. Aku tak perlu takut dengan apa pun yang akan menghadang cintaku.
            
“Aku kabur. Aku pikir harusnya aku kabur lebih cepat dari itu. Tapi aku terlambat menyadari semuanya.”
            
“Kalian saling kenal?”



Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs