Langsung ke konten utama

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 18]




Abi tersenyum bersamaan dengan Umi. Mereka membiarkan rasa penasaran sejenak menguasaiku.
           
 “Ini Mbak, ada yang ingin kami kenalkan.”

Annisya memberikan isyarat padaku lewat matanya tentang siapa yang ingin mereka kenalkan sebenarnya. Laki-laki itu. Wajahnya memiliki beberapa kemiripan dengan Annisya. Kalau tak salah memandang, menurutku ini pasti saudara laki-lakinya Annisya yang kemarin dijemput Abi dan Umi.
         
“Kenapa harus sampai memanggil ke sini? Bukankah bisa langsung dikenalkan nanti rame-rame dengan yang lainnya?”


Aku tak bisa mengerem ucapanku sendiri karena aku merasa terlalu aneh. Aku bukanlah siapa-siapa yang berhak mendapat keistimewaan seperti ini. Apalagi aku hanya menumpang tinggal di sini. I still stranger. Aku bukanlah siapa-siapa.
          
“Yang lainnya sudah mengenal Bang Habib kok.”


 Jadi namanya Habib? Habib apa? Kenapa harus kenalan di sini? Jangan bilang kalau kita pernah kenal sebelumnya karena aku yakin tak pernah ada perkenalan antara kita jauh-jauh hari. Atau jangan-jangan kamu membawa titipan dari keluargaku? Tapi bagaimana mungkin keluargaku bisa mengenalmu. Tempat ini begitu jauh. Tempat terpencil begini siapa yang tahu?
           
“Sebenarnya begini Nak. Habibi ini sudah merasa cukup untuk menjalankan ibadah berikutnya. Jadi Nak Kayra dipanggil ke sini untuk membicarakan masalah ini. Habibi selama ini tak pernah menyetujui setiap perempuan yang kami tawarkan untuk menjadi istrinya.”
            
Abi berhenti sampai di kalimat itu. Aku menarik napasku agak panjang. Tahan sebentar. I have to take my breath. Jangan sampai asmaku kambuh dengan kalimat berikutnya karena aku mulai memahami arah pembicaraan ini. Jadi namanya Habibi? Bukan Habib? Nama yang indah seindah rupa yang ia miliki.
            
“Kemudian semalam saat melihat penyuluhan dari Nak Kayra dan teman Nak Kayra ia merasa tertarik dengan kepribadian Nak Kayra. Ia merasa siap untuk membimbing Nak Kayra menjadi istri yang sholehah.”


            
Stop! Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Aku datang ke sini karena aku lari dari pernikahanku sendiri. Aku datang bukan untuk mencari pernikahan berikutnya karena aku terlanjur mencintai Polki.
           
“Kalau Nak Kayra tidak keberatan, Habibi ingin melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat ini.”


Dalam waktu dekat? Kenapa begitu tiba-tiba? Kenapa tak memberiku kesempatan untuk berpikir? Aku butuh waktu panjang untuk menentukan pilihan hidupku sendiri karena aku tak mau terpasung dalam rumah tangga yang menyiksaku. Menyiksa dalam tanda kutip maksudku. Ini masalah hati. Dan masalahnya lagi hatiku dibawa kabur oleh Polki. Aku ingin ia mengembalikannya dulu agar aku dapat belajar mencintai orang lain.
          
“Kenapa harus Kayra?”


Tatapan Annisya yang tadi terlihat berbinar sekarang meredup karena aku menyatakan penentangan terhadap pernikahan ini. Aku belum yakin ini adalah yang terbaik. Kalau memang sudah ditakdirkan Habibi adalah jodohku pasti Allah akan memberikan jalan untuk kami bersama.
           
“Inilah yang namanya jatuh cinta. Aku tak tahu kenapa tapi aku rasa aku jatuh cinta padamu.”


Aku memegangi ujung jilbabku sambil menatap Habibi. Menahan deraan yang terus datang tanpa henti. Ya Allah apakah aku mampu menghadapinya? Tuntun aku. Aku merasa goyah dengan ujian-Mu. Aku tak tahu harus menolaknya dengan cara apa. Mereka begitu baik padaku. Dan pernikahan ini pastinya bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka mengulurkan tangannya disaat aku kehilangan pegangan untuk melanjutkan hidupku. Apakah ini adalah cara terbaik untuk membalas semua budi yang telah aku terima.
            
“Nak Kayra boleh memikirkannya dulu. Toh semuanya kembali lagi pada kalian berdua untuk berkompromi. Kami yang mengurus semua pelaksanaannya. Abi berikan waktu seminggu untuk memutuskannya.”
            
Suara Abi begitu yakin. Begitu yakin bahwa aku akan menerima pernikahan ini. Memang Habibi bukanlah penawaran yang buruk. Aku tak akan menolaknya dengan alasan dia adalah sahabatku. Aku belum mengenalnya sama sekali. Aku juga yakin keluargaku akan menerimanya. Habibi adalah penawaran terbaik sepanjang hidupku. Tapi aku harus balik lagi masalah hati. Hati diciptakan Allah bukan untuk disia-siakan. Pasti memang ada gunanya kan? Untuk mencintai seseorang yang memiliki hati yang memang diciptakan dalam satu ikatan.
            


Aku kembali ke pondok untuk mengikuti pelajaran pagi ini. Pasti yang lainnya sudah berada di sana. Aku yang paling terakhir tiba. Untungnya belum terlambat. Aku duduk di samping Cempaka yang terlihat semakin ceria. Pastinya ia mulai menikmati semua kegiatan yang ada di sini. Syukurlah. Usahaku ternyata tak sia-sia. Apalagi aku tak sanggup melihat pendiskriminasian yang terjadi di depan mataku.
            
“Cempaka dengar Habibi melamar Kakak ya?”
            
Gadis itu berbisik pelan di telingaku. Aku terkejut. Secepat itukah berita ini menyebar? Siapa lagi yang sudah mengetahui perihal lamaran ini? Jangan sampai ada yang mendiskriminasikanku. Yach... aku sadar dengan sangat jelas kalau laki-laki itu terlalu mempesona. Wajahnya sempurna dan bercahaya. Tak mungkin perempuan di sini tak ada yang jatuh cinta. Kalau aku masih berusia 15 tahun mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Aku tak akan memikirkan masalah masa depan yang akan aku hadapi. Berbanding terbalik dengan sekarang. Sekarang aku sudah dewasa. Banyak hal yang harus aku pikirkan.
            
“Cempaka seneng banget mendengarnya. Itu berarti kita akan menjadi keluarga. Anak Cempaka akan mendapatkan tante yang sangat baik.”
            
Aku menolaknya berarti aku menghancurkan hati keluarga Habibi yang berharap aku segera menerimanya. Aku juga pasti akan mengecewakan satu hati lagi sekarang. Hati Cempaka. Apakah aku memang harus menerimanya. Aku harus shalat istikharah. Itu yang sering teman-temanku lakukan kalau ingin mendapatkan petunjuk yang lebih meyakinkan dari Allah. Berarti malam ini aku harus melaksanakannya. Aku ingin hatiku yakin terlebih dahulu agar aku tak menyesali keputusan apa pun yang akan aku ambil. Apa pun itu.
            
Aku merasa beberapa mata menatapku agak sinis. Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah lagi? Apakah ada perlakuanku yang tak sesuai dengan aturan? Aku tak merasa ada yang salah dengan tingkahku selama beberapa hari ini. Toh aku selalu berusaha mengingat peraturan yang telah diberlakukan. Terutama larangan. Itu yang paling aku camkan baik-baik.
            
“Kak Kayra!”
            
Bina memanggilku dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya. Aku merasa sudah cukup menghadapi banyak hal di sini. Memang berat beradaptasi tapi ternyata aku masih baik-baik saja. Aku menghentikan langkahku yang diiringi Cempaka.
            
“Ada apa?”
            
“Dipanggil Bu Nur di ruangannya. Sekarang.”
            
Aku mengangguk tanda terima kasih. Cempaka memberi isyarat agar aku segera menemuinya. Ia dan Bina meneruskan langkah menuju pondok.
            
Ruangan Bu Nur terpisah dengan pondok kami. Letaknya di dekat kamarku dulu. Aku terburu-buru ke sana. Mengetuk sambil mengucapkan salam.
            
“Waalaikumsalam, masuk saja Kayra.”
           
Aku langsung masuk dan langsung duduk begitu saja di kursi. Aku capek dengan kegiatan hari ini. Lumayan menguras tenaga. Apalagi dengan banyak pikiran yang terus menggangguku. Aku benar-benar lelah dengan semua ini. Aku ingin menuntaskannya segera. Kenapa jalan hidupku dituliskan serumit ini? Ada apa dengan hidupku sebenarnya? Aku ingin semuanya segera berakhir bahagia. Karena aku rasanya tak mampu lagi.
            
“Ada apa Bu?”
            
Aku masih bingung kenapa aku dipanggil ke sini.
            
“Kamu sudah tahu tidak kalau masalah lamaran yang terjadi tadi pagi menjadi topik terhangat hari ini. Ada yang senang mendengarnya namun yang menjadi masalah banyak yang kecewa karena mereka sudah lama menaruh cinta pada Habibi.”
            
So that is the problemo everybody! Aku sudah memikirkannya sejak tadi. Laki-laki yang begitu rupawan pastinya akan sangat mempunyai banyak penggemar. Dan penggemarnya akan sangat kecewa dengan keputusannya. Mereka ia sangat menginginkan posisi yang sekarang aku miliki. Aku harusnya mensyukuri semuanya. Bukannya menganggap ini beban yang harus segera berakhir. Banyak orang yang menginginkan posisi yang aku miliki sekarang. Buat mereka adalah mimpi apabila mendapat lamaran dari sang kekasih pujaan hati.
            
“Jangan terlalu lama menjawabnya. Bersikaplah yang seharusnya di tempatmu berada. Jangan sampai yang kecewa semakin sedih dan marah.”
            
“Menurut Ibu, Kayra harus bagaimana?”
            
“Temui yang merasa kecewa dan minta maaflah dengan mereka.”
            
Aku tak percaya ini! Aku meminta maaf atas sesuatu yang bukan merupakan sebuah kesalahan. Habibi, aku tak percaya ini. Aku tak mau melakukan itu sebenarnya. Apakah aku memang harus menjaga perasaan mereka? Bagaimana kalau yang merasa kecewa tak hanya mereka? Masih banyak lagi di luar sana yang aku tak tahu keberadaannya? Apa aku tetap harus meminta maaf? Aku juga kecewa tanpa sepengetahuan mereka. Aku tak pernah berharap akan menikah selain dengan Polki. Jika memang aku tak menjadi istrinya aku tak berharap menjadi istri siapa pun lagi. Apakah aku terlalu berlebihan dalam mencintaimu?
            



Aku tak tahu kekuatan mana yang memintaku untuk melakukan permohonan maaf itu. Aku ternyata melakukannya. Aku mengumpulkan semuanya di taman bunga yang selalu indah dengan bunga-bunga yang bermekaran. Aku menatap mereka satu persatu dan membiarkan mereka menumpahkan kekecewaan mereka. Aku mengutamakan kelegaan hati mereka. Semuanya selalu masalah hati. Hati. Hati. Hati. Tak ada cerita lain yang menuntun hidupku.
            
Hatiku yang membuatku berada di sini. Lari dari pernikahanku sendiri karena hatiku menolak untuk hidup dengan hati Rheka. Hati Habibi yang memilih hatiku untuk selamanya. Hati Habibi memusnahkan semua harapan dan cinta dari penggemarnya. Aku harap masalah hati ini tidak terlalu larut dan membuat semuanya menjadi semakin runcing. Aku ingin mengobati luka hatiku sendiri.
            
Sampai detik ini hatiku belum memberikan keputusan apa pun. Karena hatiku masih milik Polki. Polki kenapa ada cinta sedalam ini untukmu. Sementara aku tak pernah tahu keberadaanmu dimana? Aku ingin segera bertemu denganmu dan mengambil hatiku yang telah kau curi. Aku ingin menatanya kembali. Karena sepertinya tak pernah ada jalan untuk kita bersama. Mungkin kita memang saling mencinta tapi bukan untuk selamanya.
            
Polki...mungkin ini memang jalan takdir kita berdua. Aku hanya ingin kamu bahagia dalam hidupmu walaupun bukan bersamaku. Semua yang telah aku lewati terlalu berat Polki. Aku melewati sendiri tanpamu dan aku rasa Allah memang bukan menakdirkan kita untuk menjadi jodoh yang seharusnya. Seberapa keras pun aku berusaha aku tak tahu kamu berada dimana. Aku tak bisa menghubungimu dengan cara apa pun. Takdir memang tak bisa kita tulis sendiri Polki.
            
Apakah di tempat yang kamu berada sekarang kamu memikirkan hal yang sam denganku? Hal yang selalu aku simpan sendirian sekarang karena aku tak tahu harus mengatakan semuanya pada siapa. Sebenarnya aku bisa mencurahkannya lewat sms pada Mopty tapi aku tak ingin terlihat sebagai perempuan yang lemah. Aku sudah kabur dari pernikahanku sendiri sebagai pertanda aku siap menghadapi semua resiko yang ada di depan mata. Aku harus kuat. Meskipun aku sendiri. Aku yakin aku akan baik-baik saja.
            
Aku hanya tahu setiap aku menatap langit yang penuh awan di atas sana kamu juga akan menatap sama sepertiku. Dimanapun kamu berada kamu akan dinaungi oleh awan yang sama. Disinari matahari yang sama garangnya dengan matahari yang sekarang menerpa wajahku. Menghirup oksigen yang sama. Tak berwarna seperti yang aku hirup sekarang.
            
Aku menadahkan tangan dalam balutan mukena. Aku begitu lemah di matamu ya Allah. Tak ada satu kekuatan pun yang mampu menandingi kebesaran-Mu. Aku hanya ingin mendapat sebuah kepastian. Aku masih belum yakin dengan jalan yang aku pilih. Aku butuh dukungan-Mu. Aku ingin memberikan kebahagiaan pada semua orang yang telah memberikan kebaikannya padaku. Apakah memang harus sesakit ini? Apakah aku harus mengorbankan cintaku yang tulus untuk Polki? Cinta yang entah ada dimana.
            
Polki apakah aku harus mengubur semua cinta yang pernah kita bangun berdua dan menerima Habibi? Aku belum rela memberikan seluruh sisa hidupku untuknya. Aku tak mampu mempersembahkan hati ini untuknya karena telah ada namamu terpatri di sana. Masih ingatkah dengan lagu Vina Panduwinata yang sepotong liriknya berbunyi: “di dadaku ada senyummu”? Aku masih belum bertenaga untuk menghapus setiap senyum yang tercipta di wajahmu setia aku bersamamu.
            
Ya Allah aku hanya ingin sebuah kepastian. Aku hanya ingin tahu apakah memang Habibi belahan jiwa yang diciptakan untuk membahagiakanku? Aku hanya ingin sebuah keyakinan bahwa aku harus melupakan Polki dari setiap memori kenangan di hatiku. Hatiku sakit mengingat itu semua. Jika memang Polki bukan takdirku aku mohon jauhkan dia dari hidupku dan hatiku. Tapi kalau ia memang orang yang harus memilikiku aku mohon pertemukan aku dengannya sesegera mungkin. Aku tak kuat lagi menahan beban ini sendiri.
            


Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs