Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Mengenang Masa Menjadi Guru

Bagaimanapun senangnya murid-murid dengan metode mengajar saya yang keluar dari jalur umum dan mata pelajaran bahasa Indonesia yang selalu bertabur dongeng dan cerita. Saya harus mengakui saya tidak suka berada di dalam ruang tertutup dan berada di depan. Sama seperti saya pertama kali berada di kelas saat menjadi murid. Saya tidak suka berada di sekolah. Saya memang tidak menyukainya. Saya suka berada di luar kelas dan menikmati pemandangan di langit. Sumber gambar dari sini . Tapi saya pernah menjadi guru beberapa kali. Tepatnya dua kali. Meskipun saya harus mengatakan saya masuk FKIP karena di Pontianak, hanya FKIP Untan yang menyediakan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya masuk FKIP Untan bukan karena ingin menjadi guru kemudian PNS. Melainkan karena saya sangat menyukai bahasa Indonesia. Saya ingin belajar banyak tentang bahasa negara saya. Selain itu karena saya sangat mencintai kegiatan tulis-menulis. Pertama kali menjadi guru itu saat usia saya 22 t

Mainan Honeylizious: Perahu dan Baling-baling Kertas

*Saya pikir kontes ini masih sampai minggu depan. Ternyata hari ini deadlinenya ya?* Mainan masa kecil saya banyak. Terutama dari kertas. Dari kecil saya senang sekali menggunakan kertas sebagai bahan bermain saya. Apalagi ketika sendirian tidak ada yang bisa diajak bermain. Kertas apa pun bisa jadi mainan saya. Mulai dari kertas koran sampai kertas buku yang tidak lagi terpakai. Saya akan membuat berbagai macam permainan dari kertas. Jika kertasnya tipis saya akan membuat perahu tapi jika kertasnya tebal saya akan membuat baling-baling kertas. Gambar pinjam tanpa pamit di sini . Saya suka sekali bermain dengan perahu kertas dan menghanyutkannya ke sungai dekat rumah. Tapi karena kertas yang saya gunakan adalah kertas yang tipis kadang baru beberapa menit perahu saya langsung tenggelam. Padahal saya sudah bersusah payah membuatnya. Pada saat itulah muncul ide saya yang paling spektakuler. Apa itu? Saya melapisi perahu kertas saya dengan plastik bekas kantong es atau

Sruduk Follow Undertwitter

Di hari minggu yang ceria ini saya ingin bercerita mengenai #srudukfollow. Tentang teman-teman yang lebih suka disebut sebagai orang-orang egalite yang ingin mencari teman yang ingin berbagi kesetaraan. Bahwa twitter itu bukan hanya milik-milik orang elite yang lebih mengedepankan menggendutkan follower mereka tanpa mau berbagi bahagia dengan memfollowback teman-teman yang mau ‘mengikuti’ mereka.   #SRUDUKFOLLOW Awalnya saya pikir ini gerakan biasa yang digawangi beberapa orang yang tidak saya kenal sama sekali. Iseng ikutan karena saya ingin mendapatkan banyak teman dan bisa berbagi banyak hal dengan mereka. Saya yakin mereka pun punya sesuatu yang saya tidak punya. Ternyata saya benar. Mereka memang bukan orang biasa yang mengegalitekan diri bersama teman-teman lain yang mau menuliskan #srudukfollow di bio twitter mereka. Pertama kopdar dengan seorang #sruduker tak terbayangkan betapa hangatnya malam yang dingin itu. Di sebuah warung kopi yang sangat ternama di Pont

Kopi Pancong di Pontianak

Beberapa hari ini saya tidak begitu terkontaminasi dengan virus ‘di mana di mana di mana’ yang ditularkan  oleh beberapa sahabat blogger. Karena ternyata saya sudah terjangkit virus yang lebih berbahaya di Pontianak. Pada sibuk menyanyi lagu yang lagi booming. Berikut lirik   Kopi Pancong : Kopi Pancong Cong cong cong kopi pancong Tak beduet kopinye pancong Cong cong cong kopi pancong Mau irit kopinye pancong Kalau maok bang ke sungai raye Singgahlah dulok di kampung bangke Minum kopi bang same susunye Ditambah pisang goreng dan bingke Cong cong cong kopi pancong Tak beduet kopinye pancong (tak punya uang kopinya pancong) Cong cong cong kopi pancong Mau irit kopinye pancong (mau irit kopinya pancong) Naeklah sampan bawa keladi (naik perahu/sampan membawa keladi) Sampannye bucor banyak aeknye (sampannya bocor banyak airnya) Jangan nak labe jangan nak gengsi (janganlah belagu janganlah gengsi) Kalaulah memang kite tak punye (jika memang kit

Abduction Vs Memamah Jantungmu

Beberapa minggu yang lalu sempat bingung mau menonton film apa. Kemudian jatuhlah pilihan pada film  Abduction  yang sebenarnya tidak banyak mendapatkan pujian. Sebuah kisah remaja yang kebingungan ketika usianya sudah belasan tahun ternyata dia bukanlah dirinya yang selama ini dia pikirkan dan rasakan.         VS     Diperankan oleh Jacob-nya Twilight Saga ( Taylor Lautner ). Pasti tahu dong. Di sini dia menjadi pemeran utamanya. Saat pertama menonton sih sepertinya sebuah kisah drama keluarga. Ternyata bukan. Ini adalah thriller. Dan saya sangat menyukai kisah sejenis ini. Jadi menurut saya ini akan menjadi tontonan yang menarik. Menariknya lagi, film ini seperti jelmaan novel  Memamah Jantungmu  versi Hollywood. Meskipun terdapat perbedaan yang menyolok. Seperti benda yang jadi perebutan adalah sebuah ponsel berisi data penting sedangkan di novel  Memamah Jantungmu  yang diperebutkan adalah vaksin HIV. Tapi cara pelariannya lumayan mirip yah. Padahal novelnya ditulis se

[kontes] Saya Kakak dan Ibunya

Lima bersaudara saya adalah anak kedua. Sebagai anak kedua tertua saya memikul tanggung jawab yang tidak kalah besar dibandingkan kakak saya. Sehingga ketika adik saya yang bungsu tidak ada yang menjaga di rumah, saya membawanya ke Pontianak untuk sekolah. Masih 5 tahun. Masuk PAUD tahun ini. Anak bungsu yang nakalnya tidak ketulungan. Terkadang saya hanya bisa menarik napas melihat tingkahnya. Mulai dari memainkan printer yang bisa dijadikan mesin fotokopi hingga membuat mainan dari sabun ketika lagi mandi. Sabun mandi tiba-tiba menghilang kalau dia yang mandi.   Saya sama sekali tidak punya pengalaman menjadi seorang ibu sehingga saya harus belajar dari buku dan televisi untuk mendidiknya. Saya tidak ingin dia terus-menerus begitu. Nah, ada program televisi yang beberapa tahun ini menjadi program favorit saya tiap weekend. Nanny 911 dan Super Nanny yang ditayangkan di MetroTV. Di sana saya melihat bagaimana orang tua belajar membiasakan anaknya untuk melakukan sesua

[kontes] Ayam Kampus: Buku Pertama

Setiap orang punya mimpi. Sebesar atau sekecil apa pun sebuah mimpi itu akan menjadi sebuah harapan yang baru untuk seseorang melanjutkan kehidupannya. Tanpa impian, apa indahnya coba hidup ini? Saya sendiri punya impian yang selalu saya pupuk dan sirami setiap malam di dalam tidur saya. Saya memiliki impian menerbitkan sebuah buku. Buku hasil karya saya. Pastinya fiksi karena kesukaan saya pada cerita. Sebagai seorang perempuan berdarah campuran termasuk di dalamnya melayu saya termasuk orang yang suka bercerita. Bercerita di dalam kebiasaan melayu selalu berbentuk tuturan. Seiring berjalannya waktu dan saya tahu orang yang menghasilkan tulisan adalah orang yang akan dikenang sepanjang masa meskipun dia tak ada lagi di dunia ini. Jadi sebagai pencerita saya mengubah kebiasaan lama tersebut dengan bercerita melalui tulisan. Karena tuturan bisa hilang tapi tidak tulisan. Contohnya blog yang kita miliki. Suatu hari nanti, saat kita menua, mungkin kita akan membagi passwordnya untuk