Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Nekad [Bagian 14, Tamat]

Cerita sebelumnya.... Melbourne. Aku memegangi tangan Bryan erat-erat. Semua mata menatap kami berdua. Aku tahu aku pasti terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang sekarang aku kenakan. Bryan juga terlihat sangat tampan. Gambar dari sini . “Liz senyum…” Ayah memanggilku lembut. Bryan menggandengku. Kami menatap kamera yang dipegang ayah sambil tersenyum. “Bagaimana rasanya?” Bryan membisikiku. “Aku masih tidak yakin dengan keputusan kita kali ini, apakah memang ini yang seharusnya kita ambil atau bukan.” Aku balas berbisik. “Aku rasa ini adalah jalan yang terbaik Liz.” “Tapi kamu harus janji tidak akan mengulangi perbuatanmu yang menyebalkan itu ya?” “Janji Tuan Putri Liz.” “ I love you, Bryan.” “ I love you too .” “ As a friend ?” “ As a best friend, Liz.” Adam berdiri di belakang ayah dengan sebotol minuman. Aku segera melangkah ke arahnya. “Bagaimana?” “Melelahkan. Tapi akan segera berakhir. Bryan yang bertan

Nekad [Bagian 13]

Cerita sebelumnya.... Adam menatapku dengan salah tingkah. Aku duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Seandainya tidak ada ibunya mungkin aku sudah meledak. “Sekarang jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya. Jangan bilang kamu adalah Rama.” Gambar dari sini . “Bukan, aku bukan Rama. Aku Adam.” “Lantas di mana dia?” Adam menatap perempuan yang sepertinya seusia ayahku. “Dia sudah meninggal 8 tahun yang lalu.” Jelas Adam. “Apa?” Aku hampir terlonjak mendengarnya. Aku mencintai seseorang yang sudah meninggal dunia? *** Adam berdiri di sisi kanan batu nisan yang bertuliskan nama Rama. Aku menaburkan bunga yang kami beli tak jauh dari komplek pemakaman umum ini. Aku mengenal tulisannya. Jatuh cinta dengan buta dan tidak pernah tahu sebenarnya dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. “Dia sangat suka menulis, dia menulis tentang apa saja yang dia suka. Semua tulisannya tersimpan rapi di buku. Kami menemukannya beberapa tahun yang lalu ketika memb

Love Story: Behind The Scene “Nekad”

Akhirnya selesai juga cerbung yang membuat beberapa teman menjadi galau di twitter. Tapi endingnya besok ya teman-teman. Ah itu semua cukup membuat saya semangat dan ge-er. Saya tidak pernah menyangka saya berhasil menyelesaikannya. Terima kasih buat semua pembaca yang menyempatkan diri untuk membaca cerbung yang saya buat untuk menyelesaikan cinta saya yang bertepuk sebelah tangan. Saya wujudkan di cerbung sebagai cinta yang berakhir bahagia untuk melegakan luka hati saya. Terima kasih buat @rizkirahmadania yang setiap hari menagih lanjutannya. Tapi memberikan cerbung yang belum ada endingnya itu seperti memberikan semangkuk air laut pada orang yang kehausan. Alih-alih menghilangkan hausnya, saya malah membuat orang itu lebih haus lagi. Lalu buat @arr_rian , Ketty Husnia , Dhenok , @anoisme , thekupu , dan semuanya yang menyempatkan diri buat mampir dan meninggalkan jejak di kolom komentar khusus cerbung ini. Seakan menganggap Nekad ini sebuah film, saya memu

Nekad [Bagian 12]

Cerita sebelumnya... Plakkk! Aku melayangkan tangan kananku ke pipi kiri Adam. Beberapa detik kemudian pipinya memerah. Hadiah karena telah menciumku. “Kamu tidak berhak menyentuhku.” “Aku berhak melakukan apa saja, kamu istriku.” Sekali gerakan saja, aku sudah menjadi tawanannya. Adam berada di atas. Aku terlentang di bawah. Kedua tangannya menahan tanganku. “Lepaskan aku!” “Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Selamanya kamu adalah istriku. Ingat itu.” Aku berontak dengan tenaga yang tersisa. Adam meninggalkanku begitu saja. *** Aku tersedu sendirian. Bagaimana sekarang? Aku tidak bisa pulang. Aku tidak mau menikah dengan Bryan. Aku juga tidak mungkin menikah dengan Rama. Aku istrinya Adam. Hanya Adam yang bisa membuatku bebas memilih jalan mana yang bisa kulalui. Aku menatap kertas yang bertuliskan alamat rumahnya Rama. Apakah dengan menemuinya aku bisa mengubah kenyataan? Mungkin setidaknya aku bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku masih bisa

Nekad [Bagian 11]

Cerita sebelumnya.... Aku meletakkan selembaran uang lima puluh ribuan dan meraih kunci kamar. Laki-laki yang menjaga penginapan itu menatapku. Ia tahu aku ingin menanyakan sesuatu. Aku mengeluarkan selembar foto dari saku jaketku. “Aku mencari laki-laki ini.” Aku hanya punya foto itu untuk menemukannya. Foto pertama dan terakhir yang sempat kami ambil bersama. “Adam?” “Kamu kenal dia?” “Dia sering ke sini, dia juga sering ke Malioboro.” “Bisa saya minta alamatnya atau nomor ponselnya?” “Saya tidak tahu alamatnya apalagi nomor ponselnya. Tapi dia selalu ada di Malioboro jika sudah tengah malam.” *** Aku berbaring di ranjang. Menelentang. Menerawang langit-langit kamar yang baru saja kusewa. Masih beberapa jam menuju waktu tengah malam. Aku harus berani buat meminta Adam menalakku. Pernikahan ini tidak perlu ada. Toh dia tidak mengenalku sama sekali begitu juga denganku. Pernikahan ini tidak akan memberikan makna apa-apa dalam kehidupan kami. Dia

Nekad [Bagian 10]

Cerita sebelumnya... Aku termangu di depan cermin. Aku menatap wajah yang rasanya semakin asing. Mata yang semakin sayu dan cahayanya semakin meredup. Jalan mana yang harus kupilih. Aku harus memilih antara dua orang yang kini berada di Indonesia. Apakah aku harus memilih Adam? Atau Rama? Rama, seseorang yang entah bagaimana rupanya. Seseorang yang telah mencuri hatiku sejak setahun yang lalu aku mengenal dunia maya. Tak sengaja membaca tulisannya yang membuat hidupku lebih bermakna. Menjadi seseorang yang bisa mensyukuri apa yang ada. Ternyata dia juga mencintaiku? Bagaimana mungkin? Lantas kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal? Sejak pertama aku mengirim e-mail untuknya? Kenapa? Ada apa denganmu Rama? Apa yang menghalangimu? Kubuka lembaran e-mail yang kukirim untuknya. Dari balik air mataku yang menggenang aku menangkap sesuatu yang aneh di sana. Alamat penerima e-mail itu rasanya berbeda. Bukankah seharusnya alamatnya bukan itu? Apakah Bryan telah mengacau

Nekad [Bagian 9]

Hari kedua dari tujuh hari. Cerita sebelumnya... “ What’s this ?” Bryan menatap benda yang kupegang. Ponselnya. “ Nothing !” Bryan berusaha merebutnya dari tanganku. Aku melempar ke lantai kamarnya. “ That’s why everything going wrong, it’s because of you .” “ I can explain that Liz.” “ No you don’t have to explain it .” “Liz, kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku lakukan.” “Biar aku yang bicara dari sudut pandangku sendiri. Kamu menghubungi Rama kan? Kamu bohong tentang pernikahan kita kan? Kamu telah merencanakan semuanya dari awal. Seseorang yang aku percaya dua puluh tiga tahun mengkhianatiku begitu saja. Apa yang ada dalam kepalamu Bryan?” “ I love you , Liz.” “ It’s not love Bryan . Cinta tidak egois seperti kamu.” “Rama menulis bahwa dia mencintai seorang perempuan yang sedang merencanakan pernikahan dengan orang lain di blognya. Aku pikir itu perempuan lain. Tapi sekarang sepertinya yang dia maksudkan adalah

Nekad [Bagian 8]

Cerita sebelumnya.... Melbourne. Hari pertama dari tujuh hari yang diberikan ayah Liz. “Hey, stop it Liz !” Aku masih memukul Bryan meskipun dia berteriak di telingaku. “Why Bryan? Why?” Tangisanku pecah seketika. “ I love you , Liz.” “Kamu tahu siapa yang kucintai.” “Dia tidak akan membahagiakanmu.” “Kamu tidak tahu apa-apa.” Aku ingin teriak dan bilang: “Aku sudah menikah dengan orang lain Bryan!” Ini bukan hanya masalah aku mencintai Rama. Tapi aku sudah menikah dengan Adam. Walaupun lebih pada paksaan tapi dia suamiku. “Kita tidak boleh menikah.” “ Why ?” “Aku sudah menikah dengan orang lain.” “Siapa?” “ It’s complicated, but I am married .” “Bagaimana mungkin? Tidak ada orang lain yang mendekatimu selain aku.” “Seseorang di Indonesia. Seseorang yang kutemui waktu aku ke Jogja.”  “Rama? Bukannya kamu tidak menemukannya?” “ It’s too complicated .” “ Tell me .” Aku mengulang semua cerita yang ada di kepalaku. Bryan mendengarkan dengan sek

Nekad [Bagian 7]

“Terima kasih buat semuanya, aku pasti akan membalasnya.” Pinjem dari sini . Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Hanya itu kalimat yang aku berikan untuk Adam. Setelah sekian banyak hal yang dia lakukan untukku aku hanya bisa mengatakan itu. Aku tidak sanggup terlalu lama berada di sisinya. Semuanya berawal dari kesalahan. Pernikahan itu juga salah. Adam pasti tidak serius waktu membacakan ijab untukku.

Nekad [Bagian 6]

Cerita sebelumnya..... “Pernah ke Borobudur?” Aku menggelengkan kepalaku. Adam terlihat antusias ingin mengajakku jalan-jalan. Sudah dua hari aku hanya menangis di kamar. Dia setiap hari mengunjungiku. Membawakan makanan yang terkadang tidak aku makan. “Kamu harus tahu kita hanya bisa menunggu. Berdoalah agar kita segera selesai dari masalah ini.” “Aku hampir gila. Jika kamu tahu itu rasanya bagaimana!” “Magelang, naik sepeda motor, Borobudur.” Aku sudah berada di belakang Adam dengan sebuah helm melindungi kepala. Beberapa kali aku harus berpegangan pada bahu Adam agar tidak jatuh. Dia sama sekali tidak memperlambat laju sepeda motornya. Perlahan aku merasakan tangannya menarik tanganku dalam kegelapan. Angin dingin menerpa kulitku. Dia melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. “Jangan sampai lepas. Aku tidak ingin ada yang hilang lagi.” “Tapi…” “Secara hukum dan fisik aku suamimu. Kamu berhak mendapatkan perlindungan dariku.” Aku segera menggerakkan tangan kananku unt