Langsung ke konten utama

APAKAH BEGITU BESAR PENGARUH KOMENTAR DI BLOG UNTUK KITA?

komentar di blog

Pertama kali menulis dan memiliki sebuah blog saya belum sempat untuk memikirkan akan mendapat komentar minimal satu setiap hari. Saya juga awalnya tidak menomorsatukan hal tersebut. Karena saya pikir, saya suka menulis, saya akan tetap menulis meskipun saya tidak mendapatkan komentar di blog saya. Walaupun di lubuk hati yang paling dalam pengen mendapat komentar dari blogger yang blogwalking. Namun demikian saya sekarang bertanya-tanya apakah begitu besar pengaruhnya komentar di sebuah blog? Terutamanya untuk diri kita sendiri. Apakah memang sedemikian besarnya pengaruh komentar tersebut untuk kelangsungan hidup blog kita?


Pertama kalinya saya merasakan manisnya mendapat sebuah komentar di blog memang tak terkatakan indahnya. Saya senang ternyata tulisan saya dibaca. Nah, sekarang saya mengetahui bahwa tidak semua orang yang membaca meninggalkan komentar. Istilahnya ada orang yang lebih senang menjadi silent reader. Tidak meninggalkan komentar sedikit pun. Meskipun sebenarnya jejak mereka terekam di blog kita. Saya juga sekarang sering membaca postingan di beberapa blog tanpa meninggalkan komentar apa-apa. Saya terkadang menjadi silent reader.

Sebelum saya menceritakan tentang besar tidaknya pengaruh komentar di sebuah blog bagi pemiliknya, saya ingin mengatakan saya tidak hanya menemukan banyaknya silent reader di bloggerland ini. Lalu apakah yang saya temukan? Saya menemukan, silent blogger. Dia memang tidak sepenuhnya silent. Dia memiliki tulisan yang seperti berbicara kepada pengunjungnya. Tapi dia tidak menyediakan kotak untuk diisi pengomentarnya. Iya, dia benar-benar tidak menyediakan komentar tertulis di blognya.

Padahal sekarang ini jumlah blogger semakin bertambah dengan kemudahan untuk berinternet. Kepemilikan peralatannya juga tidak semahal dulu. Punya laptop dan modem kini bukanlah hal yang mewah. Semuanya seakan menjadi sebuah kebutuhan.

Kembali ke pokok permasalahan utama. Begitu besarkah pengaruh komentar di sebuah blog bagi blogger itu sendiri? Bagi kita?

Saya tidak memiliki hak untuk menilai diri orang lain. Jadi saya hanya ingin menilai dari sudut pandang saya sendiri.

Pertama kali ngeblog saya tidak mengharapkan akan mendapatkan komentar pada setiap postingan saya. Tidak mengharapkan maksudnya saya tidak yakin ada yang nyasar ke blog saya dan berbaik hati meninggalkan komentarnya untuk menandai dia telah membaca postingan saya. Dulu saya hanya tahu bahwa komentarlah yang menandakan ada yang mampir, tanpa komentar saya tidak akan tahu. Sedikit lamban untuk menyadari bahwa komentar bukanlah tolak ukur utama.

Itu fase pertama saya menjadi penghuni bloggerland.

Setelah saya beberapa lama bergaul lebih dekat dengan blogger di dunia maya. Saling mengomentari balik dan berinteraksi di beberapa jejaring sosial, akhirnya saya merasakan bahwa saya butuh komentar untuk mendorong saya menulis lebih banyak lagi. Beberapa waktu berlalu, itu memang berhasil untuk sementara. Ternyata komentar tetap memiliki dua sisi. Ada sisi positifnya dan pasti ada sisi negatifnya. Komentar yang menyudutkan malah membuat semangat menulis saya turun dan saya takut untuk menulis. Saya merasa ada kesalahan yang saya lakukan dan saya kurang mengalir saat menulis postingan. Beberapa saat saya tertekan dan berniat tidak ingin menulis lagi.

Itu fase kedua.

Sekarang dan seterusnya saya tahu ternyata komentar tidak begitu saya butuhkan untuk mendorong saya menulis. Saya niat awalnya adalah menulis. Berharap besar ada yang baca, bukan mendapat komentar. Karena saya akhirnya sadar, tidak adanya komentar tidak menandakan tulisan saya tidak dibaca. Saya sekarang telah menemukan beberapa cara untuk mengetahui ada yang mampir atau tidak di blog saya. Jumlah pengunjung memang naik turun setiap harinya. Tapi saya melihat memang blog saya tidak sepi lagi. Kehadiran orang-orang ini, kesediaan mereka menyisakan sedikit waktu untuk membaca postingan saya atau sekedar mampirlah yang mendorong saya untuk terus menulis.

Saya mungkin lama-lama tidak akan membutuhkan dorongan dari luar untuk menulis. Buat saya menulis adalah terapi untuk diri saya sendiri. Seperti makan, minum, dan mandi. Dulu harus ada orang tua yang memaksa saya melakukannya jika saya malas. Berbeda dengan diri saya sekarang yang tahu manfaat saya melakukan itu semua, tidak terlepas menulis.

Buat saya menulis itu seperti mengasah sebuah pisau. Kita tidak pernah tahu kapan kita membutuhkan pisau yang benar-benar tajam, tapi saya hanya berusaha untuk tidak memiliki pisau yang tumpul. Pasti ada manfaatnya, terlepas dari semua komentar yang entah mendorong, entah menghalangi motivasi saya untuk terus menulis. Itu fase menulis saya. Bagaimana dengan fasemu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs