Langsung ke konten utama

#1 MENERBITKAN SEMUA TULISANKU



Ini adalah mimpi yang telah aku miliki saat aku mulai belajar menulis. Waktu itu aku masih SD. Baru menginjak usia 8 atau sembilan tahun. Kelas tiga. Aku membaca dongeng-dongeng yang ada di majalah Sahabat Pena. Sebenarnya aku sangat terpesona dengan majalah Bobo. Sayangnya waktu itu Bobo tidak ada di kampungku. Keluargaku juga tidak mampu untuk berlangganan Bobo.
Aku mengenal Bobo saat bermain ke rumah adik nenekku yang jaraknya sekitar dua jam. Untuk ke sana harus menyeberang lautan. Alhasil aku sangat menghargai waktu yang aku miliki saat ada acara menginap di sana. Dulu kami memang sering menginap di sana. Nenek dan kakek selalu membawaku ke sana. Aku selalu asyik dengan majalah itu. Aku bisa menghabiskan banyak majalah dalam satu hari. Aku terobsesi untuk membaca semuanya. Sayangnya waktuku sangat singkat sehingga aku tak pernah bisa menghabiskan semua majalah Bobo yang tersedia.

Majalah itu sampai sekarang masih menyisakan kenangan manis tentang masa kecilku. Ya, aku pernah memiliki impian bahwa suatu hari aku akan memiliki majalah tersebut. benar-benar miliki. Ternyata aku sekarang mampu membelinya.

Dari banyak bahan bacaan yang aku lahap aku kemudian mencoba untuk menulis. Tulisan pertamaku adalah dongeng. Iya, aku menulis dongeng. Mencoba menuliskan kembali beberapa cerita yang pernah aku baca dalam versiku sendiri. Lalu membuat akhir yang aku inginkan. Aku memang menemukan beberapa dongeng yang ingin aku akhiri dengan caraku sendiri. Aku menambah beberapa cerita baru di dalamnya. Lama kelamaan aku terbiasa untuk menulis.

Dulu aku selalu menulis menggunakan kertas bekas. Banyak kertas bekas di rumah yang bisa aku gunakan karena bibiku adalah guru. Dia selalu memberikan kertas yang tidak dipakai lagi itu untukkku. Entah telah berapa kertas yang aku gunakan untuk menuliskan cerita yang lewat di kepalaku.

Aku dulu pernah mendapatkan pertanyaan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

“Apakah yang akan kamu tulis itu akan muncul saat ujian nanti?"

Kakekku pernah menanyakan hal tersebut saat aku berusia 11 atau 12 tahun. Aku hanya tersenyum waktu itu karena aku tidak pernah membayangkan apa-apa saat aku masih di bangku sekolah dasar. Aku hanya menjalani apa yang membuatku senang dan teman-temanku senang. Teman-teman sekolahku dulu sering membaca cerita-cerita yang aku tuliskan.

Beranjak SMP aku mulai menulis cerita yang sekarang bisa dikategorikan sebagai teenlit. Bahasanya cair dan sangat remaja. Aku sangat suka bertukar cerita dengan teman-temanku sesama penulis waktu itu. Aku memang menemukan seseorang yang memiliki hobi yang sama denganku. Bahkan aku masih ingat. Kami punya buku yang berisi surat saat kami berbeda kelas. Sebuah buku seperti diary bersama yang bisa kami tulisi bersama-sama secara bergiliran.

Semua itu memberikan kontribusi yang sangat besar pada proses menulisku sekarang. Bukan masalah memberikan sumbangan untuk membuat tulisanku menjadi sekelas sastrawan dunia. Melalui banyak kegiatan yang kami lakukan untuk menulis tersebut akhirnya aku menjadi seseorang yang sangat suka menulis. Menulis mengingatkanku pada kenangan masa kecil dan semua teman-teman yang pernah menjadi pembacaku.

Setelah belasan tahun belajar aku kemudian memiliki keinginan untuk menerbitkan tulisanku. Aku ingat tahun 2006 aku bergabung dengan sebuah komunitas wartawan kampus di Untan. Di sana aku benar-benar menulis dan menerbitkan tulisanku. Berbentuk berita. Aku yang selama ini sangat terbiasa menulis fiksi agak keteteran waktu itu. Semuanya memang bisa aku tangani dengan banyak belajar pada senior. Sayangnya aku harus mengejar banyak mata kuliah sehingga aku mengundurkan diri dari sana.

Proses belajar menulis itu belum selesai. Aku masih aktif menulis di rumah sejak memiliki laptop pertamaku. Dulu waktu SMA aku terobsesi untuk memiliki sebuah mesin tik sederhana. Aku pikir itu adalah alat tercanggih yang mampu aku beli dengan uang tabunganu. Ternyata Tuhan berkata lain. aku malah diberikan laptop saat aku berusia 22 tahun. Menyenangkan walau akhirnya laptop itu rusak.

Keinginanku sekarang hanya menerbitkan semua tulisanku. Sudah ada beberapa yang terbit di kampus dalam bentuk kumcer, sekarang aku telah menerbitkan satu di antara sekian banyak novelku. Aku telah mewujudkan keping mimpiku, masih tidak utuh karena masih banyak lagi yang akan aku terbitkan. Aku hanya harus bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu. Inilah mimpi pertama yang ingin aku kejar. Mimpi ini tidak akan pernah berhenti sebelum aku berhenti menulis. Berarti ini adalah mimpi seumur hidup karena aku tak tahu sampai kapan aku akan menulis. Sampai tulisan terakhirku harus diterbitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs