Langsung ke konten utama

Bisa Nggak Sih Minta Gaji Sama Suami?


Saya sih nggak tahu ya cara orang lain menjalankan rumah tangganya. Tapi kalo saya sama suami selama masih bisa diperhitungkan dalam bentuk uang ya kita hitung yang biar sama-sama ikhlas gitu. Misal tiap hamil saya minta beliin HP baru sebagai "upahnya". Emang boleh begitu? Ya tergantung suami masing-masing. Saya dari kecil otaknya mah emang dagang. Harus ada "keuntungan" yang saling kita dapatkan. Bukan hanya saya ya yang akan untung dalam pernikahan ini.

Dari awal menikah kita memang sudah kompromi dalam banyak hal. Contoh saya nggak minta mahar yang mahal-mahal tapi saya minta dia stop merokok nggak ada tawar-menawar. Harus berhenti karena saya yang minta sebagai syarat menikah. Saya sih berusaha minta sesuatu yang saya pikir suami saya mampu. Jadi walaupun bisa saja melahirkan itu saya patok harga 1 milyar peranak, kalo suami nggak mampu bayar segitu kan percuma.

Jadi saya nggak mau bilang tu suami saya nggak mampu menggaji saya sebagai istrinya. Orang saya "digaji" lho. Ada beberapa yang tidak berbentuk uang yaitu saya memasak suami bayarnya pake nyuci piring. Saya melahirkan dan menyusui suami bantu jaga, saat mereka besar suami antar jemput sekolah. Tinggal dibicarakan dengan suamilah bagaimana rumah tangga kita mau berjalan. Kalau nggak diomongin gimana? Kita bakalan berada di rumah tangga ini paling tidak 50 tahun lah kan? Gimana ceritanya kalo nggak saling terbuka.

Apa yang kamu mau, kasih tahu ke suamimu jangan ke suami orang. Begitu juga sebaliknya. Terus jangan menuntut sesuatu yang suami nggak mampu nanti dia nuntut balik yang kamu nggak mampu juga kan repot.

Jadi pernah suatu ketika, saya waktu itu masih kuliah di STBA. Saya hamil anak pertama dan gampang lapar sedangkan kantin nggak ada di kampus. Adanya KFC jarak 5 menit gitu. Tapi bisa habis banyak waktu kalau makan di situ karena jam istirahat cuma sebentar. Supaya saya tetap bisa makan suami siapkan bekal. Nggak susah ngasih saya makan. Lauk telor dadar pun jadi. Tanpa sayur. Pada hari kejadian suami lupa masukin sendok dalam wadah bekal saya. Saya lapor dan suami ternyata balik lagi nganterin sendoknya yang dititip ke admin kampus di lantai bawah, saya sendiri kuliah di lantai 3.

Pas saya ambil sendok ke admin, ternyata mereka ngomong ke saya "Nyusahin banget Mbak minta antarin sendok sama suaminya."

Pertama, itu suami saya.
Kedua, yang saya minta itu sendok bukan rumah, bukan mobil.

🤣🤣🤣

Ngerti sekarang? Ngerti dong masak nggak ngerti.

Intinya adalah kalau kamu merasa kamu lebih banyak berkorban dalam pernikahan kamu, coba dihitung-hitung bisa diganti pake uang berapa tiap bulan buat menggaji kamu. Biar istri ikhlas suami pun bisa kerja dengan tenang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs