Langsung ke konten utama

Kartini Masa Kini: Mandiri Finansial


Apa kabar perempuan-perempuan hebat Indonesia? Siapa sangka ya dunia sekarang berada di titik ini. Di mana perempuan bisa dengan mudahnya menjadi siapa pun yang mereka mau. Tidak dikekang oleh banyak hal seperti ratusan tahun yang lalu. Banyak-banyak kita bersyukur ya berada di era sekarang. Bayangkan jika kita masih berada di masa-masa perempuan belum memiliki apa yang bisa kita dapatkan seperti sekarang. Untuk sekolah saja kita kesulitan. Dapat diproyeksikan dalam kepala bagaimana hidup kita saat kita lahir sebagai perempuan. Pasti kalian jadi ingat sosok perempuan yang memiliki jasa menerobos kekangan untuk perempuan Indonesia itu kan? Yap! Ibu Kartini.

Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, wanita Indonesia diingatkan untuk terus memperjuangkan cita-cita, kuat, serta memiliki sikap mandiri, seperti sosok Kartini. Terutama kita sebagai Kartini masa kini, wanita perlu mandiri secara finansial. Wanita yang mandiri secara finansial adalah wanita yang bisa menghasilkan uang serta mengelola keuangannya sendiri, sehingga punya kekuatan saat mengambil keputusan. Sedangkan untuk wanita yang sudah menikah, mandiri secara finansial, menjadikan penghasilannya berfungsi sebagai ‘sekoci cadangan’ yang dapat jadi bantuan berarti saat keluarga mengalami musibah yang tak diinginkan dan bisa meringankan beban finansial keluarga.

Cara mengatur uang dalam pernikahan terkadang tak semudah teori sebab membutuhkan kemampuan negosiasi dan juga komunikasi tingkat tinggi. Pembagian budget dari penghasilan sering dirasa kurang adil, terutama pasutri kaum pekerja, sebab double income bukan double power malah jadi double trouble. Oleh karsebabena itu, perlu dipahami kalau menikah bukan kompetisi penghasilan namun bagaimana bergantian dan juga bersama mengemban tanggung jawab supaya bisa mencapai tujuan bersama.

Ada beberapa poin yang harus dipahami untuk jadi wanita mandiri secara finansial ketika sudah menikah:

1. Punya Penghasilan
Wanita mandiri secara finansial harus punya penghasilan supaya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan mendadak, dan risiko finansial yang bisa saja terjadi, serta mempersiapkan kebutuhan di masa akan datang. Penghasilan istri ini bisa membantu penghasilan suami jika rasanya kurang.

2. Punya Tabungan
Jadi ‘manager keuangan’ di rumah tangga artinya harus pintar mengelola keuangan, satu di antaranya dengan punya tabungan. Tabungan ini fungsinya sebagai dana darurat yang bisa dipakai sewaktu-waktu saat ada keperluan mendadak di jangka pendek. Dana siaga ini sebaiknya mudah dicairkan ya!

3. Punya Proteksi Diri atau Asuransi
Untuk proteksi diri dan keluarga dari berbagai risiko finansial, seorang wanita mandiri finansial biasanya paham betul pentingnya proteksi diri dengan asuransi. Sebab dengan memiliki asuransi, pos keuangan yang dikelola tetap di posnya tidak terganggu. Satu di antara produk asuransi dasar yang wajib kamu miliki adalah asuransi kesehatan seperti Asuransi Bebas Handal yang sekarang ini mudah dibeli secara online, di ifwd.co.id.

Asuransi Bebas Handal menyediakan manfaat rawat inap termasuk biaya kamar, biaya dokter, obat-obatan, perawatan saat setelah rawat inap dan biaya tindakan bedah, serta pilihan kontribusi mulai dari Rp75 ribu dan juga pilihan manfaat tahunan hingga Rp100 juta. Produk asuransi syariah ini juga punya Manfaat Khusus Covid-19 tanpa tambahan biaya untuk semua nasabah aktif maupun yang baru bergabung selama periode 1 – 30 April 2021 supaya dapat Manfaat Khusus Isolasi Mandiri (Isoman) serta perlindungan termasuk pengobatan selama isolasi mandiri.

Kamu juga perlu ya melengkapi perlindungan untuk hindari risiko penyakit kritis supaya terhindar dari rasa khawatir tingginya biaya perawatan yang bisa merusak perencanaan keuangan kamu ya.  Satu di antara produk asuransi yang dapat kamu pilih adalah FWD Critical Armor yang bisa dibeli melalui jalur keagenan. Asuransi ini menanggung sampai tiga kali penyakit kritis major dan juga satu kali penyakit kritis minor dengan total manfaat hingga 420% dari uang pertanggungan. Selain  ada manfaat meninggal dunia, nasabah tidak memiliki kewajiban membayar premi sejak pertama kali didiagnosa penyakit kritis major dan juga 100% premi yang sudah dibayarkan dikembalikan saat tak ada klaim sampai akhir masa perlindungan.

4. Menyiapkan Dana Pendidikan Anak
Kemudian untuk wanita yang memiliki anak, hal yang perlu dipikirkan adalah memastikan anak dapat mendapatkan dukungan pendidikan terbaik. Untuk mencapai hal tersebut, kita dapat merencanakan dana pendidikan anak yang sesuai.

5. Pahami Pentingnya Investasi
Wanita yang mandiri secara finansial juga perlu pahami pentingnya investasi. Dengan investasi,  potensi di masa depan yang tentunya lebih cerah. Ini menjadikan posisi keuangan menjadi lebih terukur dan terarah.

6. Siapkan Dana Pensiun
Seorang wanita tidak mungkin bisa bekerja terus-menerus. Ada saatnya masuk usia pensiun atau ingin fokus mengurus anak di rumah. Supaya dapat menikmati hal itu, siapkan dana pensiun sejak dini. 

Itu dia beberapa kriteria wanita mandiri secara finansial. Apakah kamu memiliki satu di antara kriteria tersebut? Atau sudah memiliki semua kriterianya? Jika belum, yuk lakukan mulai dari sekarang!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan