Langsung ke konten utama

Oriflame Itu Bukan Penghasilan Sampingan

Setiap kali ada yang bertanya soal Oriflame mengapa banyak yang dari awal suka menyebutnya sebagai penghasilan sampingan? Harus berapa baru orang akan menyebutnya sebagai penghasilan utama? Padahal di Oriflame itu bisa banget dapat penghasilan utama. Siapa di sini yang penghasilannya 5juta perbulan? Kalau di Oriflame bisa dapat 5juta artinya sudah sama dengan penghasilan utama kamu kan? Semuanya tergantung niat, saat kamu bilang penghasilan sampingan, jadinya ya sampingan beneran. Coba kalau kamu bilang Oriflame penghasilan utama, ngerjainnya bakalan serius seperti ngerjain pekerjaan utama kamu dan bisa banget dapat penghasilan yag setara dengan penghasilan utama kamu bahkan lebih. Bukan nggak mungkin kamu yang awalnya penghasilan utamanya di luar Oriflame adalah 5 juta ternyata di Oriflame bisa dapat 50juta. Memang bisa? Itulah kerennya Oriflame, jenjang kariernya dan juga penghasilannya tanpa batas. Kamu sendiri yang kerjain mau dapat penghasilan berapa setiap bulannya. Tapi kalau nggak mau dapat penghasilan bulanan juga nggak masalah sebenarnya. Karena di Oriflame itu ada tiga tipe member. Tipe pertama, nah dulunya ini tipe saya banget. Gabung karena hanya ingin belanja murah, soalnya dulu kulit saya rusak karena krim abal-abal. Mana dulu mahal lagi belinya. Hanya karena janji cepet putih saya percaya saja dan temen juga meyakinkan kalau itu adalah krim dokter. Nggak tahunya krim abal-abal. Sempat bangga karena kulit langsung putih tapi habis itu malah merah dan hangus terbakar kalau kena matahari. Ternyata karena kulit mengelupas jadinya sensitif kalo kena cahaya matahari. Kulit terlanjur rusak, mau perawatan ke dokter kulit mahal. Akhirnya pas ada uang buat beli Oriflame saya belanja tuh produk Oriflame. Ternyata harganya lebih terjangkau dibandingkan ke dokter kulit. Akhirnya gabung jadi member supaya dapat harga produk yang lebih terjangkau. Tipe kedua, reseller. Nah kalau tipe ini dia gabung memang niatnya mau jualan. Saya yang awalnya gabung karena mau belanja sendiri akhirnya jualan juga karena sering ditanyain temen pake produk apa kok wajahnya sekarang glowing dan sehat. Walaupun nggak putih kayak waktu masih pake krim abal-abal tapi saya suka sekali dengan kulit saya sekarang. Apalagi di sosmed banyak banget yang membuat konten perkara warna kulit, bentuk tubuh, dan lain-lain. Intinya semua orang itu cantik apa pun warna kulit kamu, bentuk tubuh kamu. Paling penting adalah sehat. Sehat di atas segalanya. Jadi jangan main-main sama krim abal-abal. Instant sih putihnya tapi kalau rusaknya jangan ditanya, banyak yang mukanya sampe kayak berkerak atau pake masker wajah warna hitam. Ngeri nggak kalau rusaknya segitu? Kalau kita jualan produk yang tidak hanya bisa mendatangkan penghasilan bagi kita tapi juga dapat menjadi pilihan produk perawatan yang aman bagi semua orang kan seneng ya, soalnya jualan bukan hanya soal untung tapi juga soal berkah. Coba kalo kamu jualannya krim abal-abal yang berbahaya. Apa nggak nambahin dosa tu? Untung sih untung ya, tapi tanggung jawabnya di masa depan itu bagaimana nantinya? Tipe ketiga, pebisnis. Jadi selain orang yang gabung Oriflame buat dapat harga lebih murah setiap belanja, jualan buat dapat keuntungan langsung, ada juga orang yang gabung di Oriflame karena ingin dapat gaji bulanan. Lumayan kan kalau gajiannya bisa menggantikan gaji utama kamu sebelumnya. Siapa tahu nih di antara kamu ada yang dulunya kerja kantoran tapi sejak pandemi menjadi di rumahkan atau ibu rumah tangga yang memutuskan untuk kerja dari rumah saja secara online tapi masih nyari bisnis yang cocok buat dijalankan selama pandemi. Kembali lagi ke judul, Oriflame mau kamu jadikan penghasilan sampingan atau penghasilan utama? Apa pun pilihan kamu, boleh banget ya. Belum gabung? Bisa langsung chat ke WA 085213626011 atau klik di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan