Langsung ke konten utama

Prioritas yang Berbeda

Dulu, lama sekali, dulu dulu dulu. Saat saya masih duduk di sekolah dasar.

Pertanyaan yang selalu muncul di keseharian saya adalah 'mau jadi apa kamu nanti?'

Anak millenial mungkin akan menjawab dengan mudah 'mau jadi Youtuber!'.

Saya? Dengar kata millenium saja terpikir soal benarkah akan terjadi kiamat? Dunia akan berakhir?

Kemudian pertanyaan yang sama akan terus berlanjut.

'Mau jadi apa kamu nanti?'

Dalam bentuk yang berbeda, tetapi punya arti yang sama. Mempertanyakan masa depan saya. Hanya karena saya suka menulis, suka nonton TV, dan saat kenal HP Nokia, suka sekali main HP. 

Saat anak remaja perempuan lain mahir memasak, rajin membantu ibunya di rumah, dan gampang bangun pagi, I still the same as who I am. 

Bertahun-tahun saya itu dicap sebagai 'pemalas'. Hanya karena saya melakukan yang saya suka dan mau, lalu tidak melakukan yang tidak saya suka dan saya tidak mau.

Kalau sekarang masih ada yang bertanya 'mau jadi apa kamu nanti?'

Saya mau jawab 'saya mau jadi President Director Oriflame yang ketiga sebelum usia saya 36 tahun'.

Terkadang mudah memang menghakimi seseorang buruk hanya karena mereka memiliki prioritas yang berbeda dalam hidupnya. 

Untungnya, dua perempuan hebat dalam hidup saya, Uwan dan Umak, membiarkan saya berkembang sesuai kemauan saya. Menjadi cucu dan anak pemalas kesayangan mereka. 


Tenang Mak, Wan, sudah ada Golife!

*ini bukan promo berbayar GoLife atau Gojek ya 

Wkwkwkwk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan