Langsung ke konten utama

Clueless Mom


View this post on Instagram

A post shared by Raza Damilio (@razadamilio) on

Raza, anak sulung saya, usianya 4 tahunan dan sudah disunat atau dikhitan. Saya yang mendaftarkannya di sunatan massal. Acaranya di lokasi Gedung Kantor Gubernur. Waktu saya memegangi tangannya banyak yang melirik karena dia masih kecil. Kebanyakan yang ikut sunatan massal memang sudah sekolah SD. Hanya beberapa yang terlihat di bawah usia 6 tahun. Saya pikir tak ada bedanya dia sunat sekarang atau nanti.

Apalagi mengingat waktu bayi, dokter anak malah menyarankan untuk segera mengkhitan Raza, demi kesehatan. Tak perlulah saya ceritakan detailnya ya. Waktu itu dia baru usia beberapa minggu. Saya waktu itu juga mengiyakan sementara suami dan seluruh keluarga besar mengatakan ‘TIDAK’. Kayak mengindikasikan saya ibu yang tega banget sama anak karena mau menyunatnya disaat masih merah.

Satu hal yang saya tahu adalah banyak yang dikhitan saat masih bayi. Tak ada yang salah dengan itu bukan? Itu yang saya tahu, tapi ada yang tidak saya tahu.

Mengenai after effect sunat gengs. Itu saya benar-benar tidak tahu. Sebab saat 2 adik laki-laki saya disunat saya tidak ada di rumah. Saya di Pontianak. Tak memahami bahwa habis disunat itu yang repot. Merawat lukanya. Merawat perban. Belum lagi saat obat penghilang rasa sakit hilang dan sakitnya bekas disunat itu nyeri. Itu yang membuat saya terlihat seperti seorang ibu yang tega membawa anaknya sunatan massal.

Anyway, sudah terlambat untuk menyesal sih. Raza sudah disunat dan untungnya dia hanya menangis 2 jam setelah pulang sunatan. Malamnya sudah oke. Besoknya aman. Hari ketiga malah dia sudah ingin main bola. Saat tulisan ini diterbitkan, Raza sudah benar-benar sembuh dari luka sunatnya. Sudah sekolah TK juga. Saya bayangkan seandainya saya tahu bahwa habis sunat itu sakitnya membuat menggelinjang mungkin saya tidak tega. Namun karena sudah terjadi, sudah selesai baru saya tahu, ya pas membawanya sunat saya malah merasa saya melakukan hal yang harus dilakukan sebagai orang tua.

Jadi sebaiknya sunatnya kapan? Sebaiknya memang saat masih kecil sih, saat dia tak paham arti sunat, sebab repot ceritanya kalau dia tahu dan kabur dari lokasi sunat. Terdengar tega kan? Masalahnya adalah khitan tetap harus dihadapi sampai benar-benar dilakukan. Tak ada pilihan boleh tidak khitan. Mau bayi, mau usia TK, mau usia SD, ya sama saja judulnya, dikhitan. Siapin mental biar tega. Bukan tega sih sebenarnya. Nanti yang menyunatnya juga tenaga medis, jadi yang penting orang tua punya waktu luang paling tidak 3-4 hari untuk mengurus after effect sunat tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs