14 Mei 2018

Bu Momoy




Kalau ada yang mau komen untuk ke sejuta kalinya soal cokelat-cokelat di kepala Momoy, itu sudah mulai berkurang ya. Waktu lahir kepalanya tidak ada cokelat-cokelatnya, pas sudah sebulanan mulai muncul tebal dan sekarang mulai tipis karena saya kasih produk perawatan Oriflame.

Terima kasih sarannya yang seakan-akan menunjukkan Umaknya tidak berusaha menjadikan kepalanya bersih. Harus nahan sakit saat pembukaan aja kuat apalagi cuman merawat kepalanya supaya bersih. Tapi memang saya tidak ingin ngotot memaksa cokelat di kepalanya itu harus hilang dalam 1-2 kali shampooan.

Kalau ada yang sukanya menghilangkan cokelat di kepala anaknya dalam waktu singkat, silakan. Mau yang dengan cara lembut tapi lama ya silakan. Saya kebetulan pilih yang kedua.

Momoy sejak lahir banyak banget dapat komentar tidak enak, walaupun saya juga tetap mengingat yang komentarnya enak-enak. Makasih buat yang meninggalkan komentar tidak menyakiti. Apa saja komentar tidak enaknya? Kalau saya sebutin satu persatu mah capek ya.

Ada yang komentar warna kulitnyalah, iya Momoy memang tidak putih kayak artis Korea. Ya wajar orang Umaknya kulitnya sawo matang.

Cuman saya berpikir, salahkah lahir dengan warna kulit tidak putih?

Ada juga yang komentar hidungnya mirip sayalah, iya hidung saya pesek tapi alhamdulillah masih bisa digunakan untuk mengumpulkan oksigen ke paru-paru saya.

Belum lagi komentar yang lainnya. Untung aja badan Momoy berisi kalau nggak bakalan ada yang komentar air susunya kurang pasti. Mendingan kasih sufor aja. Kemudian disusul dengan saran-saran sesuka hati lainnya.

Waktu Raza dulu saja, orang terdekat suka membanding-bandingkannya dengan sepupunya. Mentang-mentang anaknya belum setahun udah bisa jalan. Mentang-mentang anaknya belum 5 bulan sudah bisa tengkurap. Mentang-mentang anaknya 8 bulan sudah lancar merangkak.

Setiap anak itu lahir dengan sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Karena dengan segala yang dia punya bisa membuat ibunya jatuh cinta dan rela mengorbankan nyawa.

Bisa punya dua anak yang sehat, bagi saya itu adalah keajaiban yang patut saya syukuri. Saya yang takut hamil, takut melahirkan, takut tak bisa jadi ibu yang baik ini dikasih rezeki dua anak. Sementara di luar sana, jangankan dua, satu pun mereka belum tentu punya. Bagaimana rasanya menjadi mereka?

========================

Jika tak bisa berkomentar yang baik, lebih baik diam ya. Jangan menyakiti orang lain. Sayang ngumpulin dosa dari hal yang nggak penting.