7 Mei 2018

Perempuan



Perempuan itu harus kuat, karena tidak semuanya akan menemukan mertua yang baik.

Saya pikir ibu mertua yang memiliki pikiran kolot tidak akan semenyebalkan ibu mertua yang saya kenal. Saya pikir setidaknya ada sedikit upgrade jika mereka banyak mendapatkan informasi. Tapi ada jenis mertua yang memang dicetak untuk menjadi ibu mertua yang kolot-sekolotnya. Ibu mertua yang beranggapan bahwa menantu perempuan itu harus menjadi babu di rumahnya walaupun sang menantu sudah menghabiskan banyak uang untuknya. Bahkan disaat menantu yang lain tidak memberangkatkannya umroh, menantu yang dia anggap menantu pemalas, tetap ingin membayarkan perjalanannya ke tanah suci karena takut saat suaminya sudah punya banyak uang untuk menghajikan mertuanya, tapi fisik si ibu mertua tak lagi memungkinkan.

Saya pikir ketika seseorang sudah dijamin kehidupannya sehari-hari, makan tinggal sebut, mau belanja tinggal tunjuk, tidak akan berpikir untuk membabukan menantunya. Katakanlah misalnya saya jadi mertua dan punya menantu perempuan yang merupakan generasi smartphone. Kerjanya menggunakan smartphone dan cari uangnya juga lewat internet, masih pantaskah saya berharap dia akan bekerja sebagai babu di rumah saya? Padahal makan minum saya juga dibayarkan olehnya. Dari hasil kerja yang di mata mertuanya adalah 'bentuk kemalasan'?

Jangan samakan menantu dengan diri sendiri. Saat diri sendiri pernah jadi babu di rumah mertua coba tanyakan pada diri sendiri, apakah sudah menanggung hidup mertua, apakah sudah memberikan ATM tinggal gesek untuknya, apakah sudah memberangkatkan dia ke tanah suci.

Saya pikir dengan memberikan uang sudah akan cukup untuk menggantikan pekerjaan membabu. Ternyata lebih baik jadi menantu yang pelit uang, daripada pelit tenaga. Sekolot itulah mertua saya. Kamu dapat mertua yang seperti apa?