Langsung ke konten utama

Berjualan Modal Kecil



Beruntunglah kita yang lahir di era teknologi sudah berkembang sangat pesat dan tak perlu terlalu khawatir soal lowongan kerja. Sebab untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri kita sendiri sekarang ini bukanlah hal yang rumit. Untuk buka usaha juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Berbagai gempuran market place terbentang lebar kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi dropshipper. Risiko rugi tentu ada tetapi jauh lebih kecil dibandingkan kita harus modal stok barang atau membuka toko konvensional. Dari kecil Hani sudah terbiasa berdagang dan sampai sekarang juga masih melintang di dunia perdagangan. Meskipun sekarang dagangnya bukan lagi yang kayak dulu. Bukan jualan barang orang terus untung 20%.

Bagi Anda yang aktif ngeblog jualan konten atau postingan tentu sudah lama sekali dilakukan. Saat pertama membangun blog dan personal branding itulah yang akan kita kerjakan. Menulis. Saya bahkan pernah menulis ribuan postingan dalam setahun. Dapat dilihat perbandingannya sekarang semenjak menjadi ibu dan istri. Produktivitas menurun drastis walaupun kesukaan saya menulis dan membaca masih seperti dulu. Memiliki anak yang usianya masih di bawah 6 bulan tentu butuh tenaga ekstra untuk menyusui setiap sejam sekali bahkan tanpa henti saat dia tak melepaskan bibirnya dari puting kita.

Kalau Anda aktif menggunakan sosial media seperti facebook atau instagram atau twitter, Anda tentunya jualan konten juga, jika main sosmednya dilakukan secara serius. Saya sudah lihat banyak yang bisa dapat uang dari sosial medianya. Bukan hanya dengan aktif ngevlog dan dapat dollar ya. Banyak juga yang di luar Youtube yang bisa 'jualan konten' bahkan di facebook. Terpenting banyak follower dan banyak yang akan dicapai dengan berbagi status di sana. Ada beberapa facebooker yang saya kenal menerima endorse di facebooknya. Jadi bukan hanya lewat instagram bisa dapat endorse berbayar ya. Selama yang dibagikan bermanfaat atau malah sebaliknya mendatangkan debat tak berujung, ya bakalan banyak yang follow. Percaya deh. Tinggal kita sendiri yang ingin memilah ingin jadi netizen yang seperti apa.


Menjual konten di blog, youtube, facebook, twitter, instagram, dan sosial media yang lain modalnya kecil. Paling utama modal smartphone dan kuota internet sudah bisa dijalankan. Hanya butuh latihan untuk menghasilkan konten yang sesuai. Sesuai dalam arti menjual. Menjual konten tidak akan menghabiskan banyak uang, tidak perlu stok barang, tak perlu gudang penyimpanan. Semuanya ada dalam kepala kita. Tinggal kita yang mengolah data yang bisa kita jadikan barang jualan. Kadang sedih melihat orang yang menggunakan sosial medianya untuk berbagi hal yang negatif. Energi yang seharusnya bisa disalurkan untuk hal yang baik malah dibuang percuma begitu saja.

Sekarang Hani nerasa sedang merintis semua lagi dari awal. Mengisi blog juga harus lebih teratur supaya postingannya tak sesepi sekarang ini. Banyak cerita yang sekarang tak dapat diceritakan. Kayaknya Hani sudah berada di titik awal menjadi manusia yang berpegang oada akal sehat dan kewarasan di mana tak segalanya harus dituliskan di blog. Melihat lagi ke belakang dan sadar satu hal, dulu kok bisa-bisanya banyak curhat tak begitu penting di blog ini? Berceruta hal-hal yang sepertinya mempermalukan diri sendiri dengan mudahnya. Banyak pula tulisan yang isinya kemarahan. Marah dan menulis dengan penuh emosi. Kombinasi yang sangat buruk kemudian menghasilkan banyak sekali tulisan dalam waktu singkat.

Yuk jualan konten! Kalau tak mau jualan konten bisa jualan produk Oriflame juga, modalnya hanya Rp49.900 sudah bisa jualan semua produknya dan bisa punyanpenghasilan bulanan kalau memang mau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan