26 Februari 2017

Bandung, Kota Magis untuk Lahan Bisnis Properti yang Laris




Meski tidak memiliki gugusan pantai seindah Bali atau kental dengan sejarah budayanya seperti Yogyakarta, nyatanya Bandung sejak lama telah menjadi destinasi wisata. Kota kembang ini memiliki daya magis yang luar biasa dalam menarik minat pelancong. Tujuan kedatangan mereka yang tidak berasal dari kota ini pun macam-macam. Ada yang murni hanya urusan bisnis, ada yang datang jauh-jauh merantau untuk mengenyam pendidikan, ada yang sekadar ingin berbelanja, dan lain-lain.

Bandung Lautan Api Properti
Memang, jika diperhatikan, rasanya semua yang dibutuhkan ada di Bandung. Keindahan alam dengan udara yang masih sejuk alami. Pusat bisnis sebagai ladang mendapatkan rezeki dan penggerak roda ekonomi. Pusat perbelanjaan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Tempat wisata dan hiburan sebagai pelepas penat dan kumpul bersama keluarga. Belum lagi tata kotanya yang kini semakin menarik dan mengedepankan hak-hak pejalan kaki.

Buka saja salah satu situs pemesanan penginapan secara online dan lihat seberapa banyak penginapan—termasuk hotel, apartemen, dan vila—yang ada di Bandung. Jawabannya: sangat banyak. Tentu saja hal ini sangat wajar. Bahkan hingga kini pun, para pengembang properti masih tidak bosan-bosannya menggali keuntungan bisnis dengan mendirikan bangunan hunian baru.

Lahan Baru Potensi Bisnis Properti di Bandung

Kemajuan suatu daerah, termasuk pula dari sektor pariwisata dan bisnisnya, tidak bisa lepas dari peranan pemerintah. Sebagai nakhoda arah perkembangan dan kemajuan wilayahnya, setiap pimpinannya harus mampu berpikir secara logis dan visioner. Dan Bandung kini tengah berada di bawah kendalinakhoda yang sangat baik. Program pemerataan pembangunan yang tengah dijalankannya selain berdampak pada kesejahteraan dan kepuasan masyarakat, juga berimbas kepada para pengembang properti.
Keterkaitan properti tidak bisa dipisahkan oleh dua hal yang sangat mendasar,yakni infrastruktur dan kondisi alam. Kini, Walikota Bandung tengah berupaya melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur di kawasan Bandung Timur dan Bandung Selatan. Di kawasan Bandung Timur misalnya, rencana pembangunan fly over Pasteur-Ujung Berung, intercharge Gedebage, dan monorel serta tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan tentu akan semakin menguatkan kawasan ini terintegrasi secara bisnis. Selain itu, dengan kondisi Bandung Timur yang juga merupakan pusat pendidikan, pendirian bisnis properti di sini diprediksi akan sangat benderang.
Sementara itu, Bandung Selatan saat ini masih lebih banyak dikenal sebagai wilayah wisata alam dan bumi perkemahan. Sebut saja Ciwidey, Kawah Putih, Ranca Upas, dan Situ Patenggang. Wisatawan yang datang mengunjungi tempat ini pun cukup banyak, khususnya golongan muda. Berbagai kegiatan outbound dan kelompok pun kerap diadakan di kawasan ini.

Kesempatan Berinvestasi Properti Sangat Terbuka Lebar
Tidak ada salahnya jika Anda ingin mencoba berbisnis properti di Bandung. Sampai saat ini, dan jika melihat perkembangannya ke depan, investasi properti di Kota Kembang ini masih sangat berpotensi dan menjanjikan.

Berkembangnya pariwisata di berbagai wilayah di Bandung

Mau mencari jenis wisata apa saja, semua ada di Bandung. Mulai dari wisata alam, wisata belanja di factory outlet dan distro, wisata kuliner, wisata museum, agrowisata, dan yang lainnya, semua ada. Bahkan bisa dikatakan, hampir di setiap daerah memiliki lebih dari satu buah destinasi wisata yang menarik.

Contohnya saja Lembang—daerah yang akan menjadi sangat macet kala akhir pekan atau musim libur tiba. Jajaran hotel dan villa di Bandung cukup tumpah ruah di kawasan ini. Pasalnya, Lembang tidak lagi hanya menjual suasananya yang sejuk, tetapi juga menghadirkan berbagai tempat wisata menarik. Salah satunya adalah Farmhouse, sebuah tempat wisata berkonsep pertanian ala Eropa dengan desain bangunan menyerupai arsitektur Eropa klasik. Bahkan di tempat wisata ini tidak perlu menunggu akhir pekan untuk menjadi ramai pengunjung.

Selain Farmhouse, masih ada lagi De Ranch, The Lodge Maribaya, Floating Market, Rumah Sosis, Tahu Susu Lembang, dan lain-lain. Bahkan biasanya, wisatawan yang datang ke Lembang tidak akan menyia-nyiakan untuk sedikit naik lagi menuju Gunung Tangkuban Perahu. Dan untuk menikmati seluruh tempat-tempat ini, tentu waktu satu hari tidak akan cukup. Wisatawan akan memilih untuk menginap di penginapan terdekat sebelum melanjutkan perjalanan.
Semakin tingginya peminat perguruan tinggi dari luar daerah
Institut Teknologi Bandung. Universitas Padjadjaran. Universitas Telkom. Universitas Parahyangan. Universitas Kristen Maranatha. Ini hanyalah lima contoh perguruan tinggi yang ada di Bandung dari total puluhan yang ada. Tentu saja, mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ini pun tidak semuanya berasal dari Bandung.

Dilihat dari kacamata bisnis properti, fenomena ini adalah peluang yang amat sangat menguntungkan. Pengembang properti besar dapat mendirikan apartemen di kawasan-kawasan pendidikan tersebut. Masyarakat yang memiliki lahan atau rumah dapat memfungsikannya sebagai indekos atau kontrakan. Jika Anda memiliki properti yang dapat dimanfaatkan, jangan sia-siakan kesempatan ini.

Fokus peningkatan pertumbuhan dalam kota

Seperti yang dapat kita amati, pemerintah Kota Bandung tidak main-main dan sangat fokus dalam meningkatkan pertumbuhan berbagi sektor di dalam kotanya. Penataan ruang publik, kreasi dengan mengajak seluruh masyarakat terutama golongan mudanya, hingga memajukan UKM-UKM penduduknya dan memasarkan produk lokal di kancah internasional, membuat seluruh mata tertuju pada kota ini. Dampaknya, penduduk di kota lain menjadi begitu tertarik dan ingin menjadi bagian—atau setidaknya merasakan sejenak—kehidupan di kota ini.

Daya magis Bandung tidak hanya menarik perhatian dan minat wisatawan, tetapi juga para investor dan pelaku bisnis, termasuk pula di sektor properti. Seperti penjabaran di atas, ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk berinvestasi properti—rumah, apartemen, hotel, dan vila di Bandung. Tertarik mencoba?

Menyanyi di Depan Kelas


Waktu duduk di sekolah dasar ada mata pelajaran kesenian yang biasanya mengharusnya siswa menyanyi di depan kelas atau menggambar. Saya lebih merasa aman jika diminta menggambar. Tidak peduli gambar yang saya buat nanti tidak jelas bentuknya. Menyanyi bukan passion saya sebenarnya dan suara saya jauh dari yang bakalan bikin orang ternganga atau berdecak kagum. Bahkan saya pernah diminta ikut lomba menyanyikan syair melayu lalu digantikan sama teman saya karena ternyata suara saya susah sekali untuk terdengar merdu menyanyikan syair-syair tersebut.

Entahlah…

Saya suka menyanyi di rumah atau di kamar mandi. Waktu kecil saya bahkan punya tempat duduk buat menyanyi. Banyak sekali lagu anak-anak yang saya nyanyikan di kursi kayu yang panjang itu. Milik tetangga sebelah rumah Uwan. Saya tak punya impian untuk menjadi penyanyi juga sih. Menyanyi itu sekadar saya mengeluarkan suara untuk menghibur diri sendiri mengingat tidak banyak hiburan yang bisa saya dengarkan di kampung yang lama sekali baru ada listrik.

Paling saya akna sedikit berbahagia dengan adanya orkes kampung yang datang karena dipanggil oleh keluarga yang menikahkan anaknya. Memanggil orkes ke kampung kami dulu itu adalah prestasi besar yang bisa dibanggakan. Karena itu sebagai tanda bahwa yang punya acara orang yang berduit. Lagunya kebanyakan lagu dangdut.

Saya bahkan ingat nama-nama orkes yang terkenal dulu. Sekarang saya sudah tak pernah menyaksikan orkes dangdut yang banyak digunakan sebagai hiburan di malam hari setelah paginya ikut undangan pernikahan. Hal-hal sederhana yang dulunya terasa hebat dan mengesankan. Sekarang? Youtube berpesta setiap menit. Kita kelebihan sumber informasi dan hiburan. Waktu 24 jam seakan tidak cukup untuk dihabiskan menyaksikan semua hiburan itu.

Gadis kecil yang berdiri di depan kelas dengan seragam putih merahnya yang kekecilan karena sudah lama tidak diganti menyanyikan lagu Bagimu Negeri yang selalu diingatnya sebagai Padamu Negeri sekarang sudah besar. Tak lagi memilih lagu pendek itu untuk dinyanyikan di depan teman-temannya dengan malu dan ingin segera selesai. Saya tidak tahu apakah ada yang menikmati nyanyian saya atau ada yang suka dengan kegiatan menyanyi di depan kelas. Seharusnya pelajaran kesenian siswa bebas memilih seni yang dia sukai atau setidaknya yang dia bisa. Menyanyi is not really my thing.


Walaupun ada beberapa lagu yang bisa saya nyanyikan dan tidak terdengar seperti kucing kejepit pintu. But still, writing is really my thing.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design