13 Februari 2017

Kamu Pikir Saya Mau Selingkuh?


Sejak dulu suka banyak sekali lawan jenis yang mudah salah paham dengan sikap saya. Entah sikap saya yang salah atau merekanya yang mudah sekali ge-er. Entahlah. Tapi sebelum segalanya lebih jauh saya akan langsung jaga jarak dengan berbagai cara sih. Sekarang sih saya tahu saya orangnya ‘terlalu ramah’ dibandingkan kebanyakan orang. Nah kalau ada yang menganggap keramahan saya sebagai bagian dari ‘merayu’ itu yang bahaya. Ujung-ujungnya ada lawan jenis yang akan mendekati saya seakan-akan saya yang menginginkan menjalin hubungan dengannya.

Situ sehat?

Baik sebelum dan sudah menikah pun saya tidak merasa bahwa orang harus menyimpulkan keramahan saya sebagai sinyal bahwa saya ingin menjalin hubungan dengan ‘Anda’. Apalagi kalau sekarang saya statusnya sudah menjadi istri orang ya. Waktu belum menikah pun saya ramah sama siapa saja. Bukan hanya kepada lawan jenis. Tapi yang saya tahu adalah orang yang punya tingkat kecerdasan tinggi tidak akan salah mengartikan keramahan saya. Mereka akan berusaha menginterpretasikan perilaku saya perlahan-lahan. Bukannya langsung menangkap sinyal dengan cara yang salah.

Apakah saya sedemikian cintanya sama suami saya sampai harus menuliskan ini di blog biar pada baca dan meminta orang untuk tidak salah paham dengan sikap saya? Bukan itu sih alasannya. Saya hanya merasa bahwa selingkuh itu salah dan saya tidak berada dalam kondisi untuk mengkhianati diri saya sendiri yang sudah memilih seseorang menjadi pasangan hidup saya. Setidaknya saya ingin menghapus ‘perselingkuhan’ sebagai alasan retaknya hubungan rumah tangga saya yang saya harap tidak sampai terjadi.


Saya mencintai anak saya. Saya ingin dia punya orang tua yang lengkap. Bukan orang tua yang berpisah karena memiliki alasan yang bisa mengalahkan cinta kami pada dia.

Ongol-Ongol


Warnanya ungu kehitaman, sekelilingnya penuh dengan parutan kelapa. Waktu saya masih kecil Uwan sering membuat ini. Sepertinya sih mudah dan menggunakan tepung sagu. Saya tidak yakin itu tepung sagu sih tapi kayaknya tepung sagu. Nanti saya konfirmasi deh ke Uwan atau Umak saya soal bahan yang digunakan untuk membuat ongol-ongol, saya ingat betul sering membeli tepung dengan kemasan kertas ini di warung dekat rumah.

Kue ongol-ongol ini rasanya manis dan gurih karena luarnya ada parutan kelapa yang dikasih sedikit garam. Bentuknya abstark sih suka-suka Uwan mau buat bentuk seperti apa. Saya sebenarnya tidak begitu suka tapi entah mengapa saya rindu sekali dengan kue ini. Mungkin bukan kuenya yang saya rindukan tapi kebersamaan yang saya rasakan saat makan kue ini dengan keluarga. Ada Uwan dan Aki, paman, bibi, sepupu, orang tua saya dan saudara saya.


Begitu cepat waktu berlalu dan ongol-ongol itu sekarang hanya bagian dari kenangan masa kecil saya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design