10 November 2017

Keindahan Bunga Pukul Delapan Dimanfaatkan RGE Untuk Membasmi Hama



Komitmen untuk menjaga keseimbangan iklim menjadi salah satu poin filosofi bisnis Royal Golden Eagle (RGE). Hal itu dibuktikan ke dalam banyak langkah. Salah satunya adalah pemanfaatan bunga pukul delapan untuk membasmi hama.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional yang bergerak dalam pemanfaatan sumber daya alam. Mereka memiliki beberapa anak perusahaan, salah satunya Asian Agri yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit.

Lini bisnis RGE ini termasuk salah satu pemain besar dalam industri kelapa sawit di Asia. Asian Agri memiliki kapasitas tahunan sebanyak 1 juta ton. Kemampuan itu tak lepas dari perkebunan dengan konsep terbarukan yang mereka kelola.

Tercatat, Asian Agri menangani 160 ribu hektar kebun kelapa sawit. Dari jumlah itu, 60 ribu hektar di antaranya dikelola dengan sistem plasma. Namun, anak perusahaan grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini juga bekerja sama dengan lebih dari 29 ribu petani swadaya dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

Pengelolaan perkebunan kelapa sawit merupakan hal krusial dalam proses produksi Asian Agri. Jika tidak dikelola dengan baik, hasil kebun tidak akan maksimal. Hal itu bakal berdampak terhadap suplai bahan baku Asian Agri.

Oleh karena itu, Asian Agri selalu serius dalam meningkatkan hasil perkebunannya. Namun, tantangan selalu ada. Salah satu yang sangat mengganggu adalah keberadaan hama.

Ada beberapa jenis hama yang mengganggu kelapa sawit. Ulat api adalah salah satu yang terganas. Hama ini menyerang helaian daun kelapa sawit. Jika dibiarkan, pohon kelapa sawit bisa kehilangan daun sebanyak 90 persen.

Terdapat empat jenis ulat api, yakni Setora nitens, Darna trima, Ploneta diducta, Setothosea asigna. Semuanya harus dibasmi jika tidak ingin perkebunan kelapa sawit rusak.

Ketika menyerang sejak tahap pembibitan, dampak jangka panjang ulat api amat fatal. Kualitas dan kuantitas hasil perkebunan kelapa sawit akan menurun drastis.
Sementara itu, kalau hadir pada masa produktif, ulat api bisa memicu penurunan produksi.
Sawit Indonesia menyebutkan beberapa penelitian mengungkapkan betapa fatal dampak hama ulat api. Pada tahun pertama, hasil perkebunan menurun sebesar 25 persen. Jumlah itu akan meningkat hingga menjadi 50 persen dan 75 persen pada tahun kedua dan ketiga.

Karena sedemikian mengganggu, hama ulat api wajib dibasmi. Asian Agri bisa saja menggunakan pestisida untuk menanggulanginya. Namun, sebagai bagian dari grup Royal Golden Eagle yang peduli lingkungan, Asian Agri berupa mencari solusi yang lebih baik. Mereka mengedepankan penyelesaian hayati dalam menangani problem hama ulat api.

Asian Agri berupaya mencari solusi ramah lingkungan dalam membasmi ulat api. Mereka akhirnya menemukan keberadaan predator alaminya, yakni serangga dengan nama latin Sycanus leucomesus. Jenis serangga ini cukup aktif dalam memangsa ulat api sehingga cocok untuk dikembangkan.

Terkait hal ini, anak perusahaan RGE ini akhirnya menemukan cara terbaik untuk mengembangkan Sycanus. Mereka memanfaatkan tanaman yang dikenal dengan nama bunga pukul delapan.

Tanaman itu juga dikenal sebagai Turnera subulata. Tumbuhan herba ini biasanya mempunyai ukuran 60 hingga 90 cm dengan akar sepanjang panjang 0,3-0,8 m. Daun berwarna hijau dengan panjang dua sampai tujuh cm dan lebar satu hingga empat cm. Bentuk daun elips dengan ujung meruncing dan tepi daun bergerigi kasar. Sedangkan, tulang daunnya cenderung menyirip dan memiliki kelenjar kuncup.

Bunga pukul delapan cukup unik. Pasalnya, mereka memiliki bunga yang cukup indah yang hanya mekar pada saat-saat tertentu. Biasanya bunganya hanya mekar antara pukul delapan hingga 12 siang. Dari sinilah sebutan bunga pukul delapan muncul.
Adapun ada dua jenis bunga di tanaman bunga pukul delapan. Pertama ada yang berwarna kuning, sedangkan satu lagi memiliki warna putih. Bunga ini sangat elok sehingga sebenarnya bisa menjadi tanaman hias.

AREA HABITAT SYCANUS


Selain indah, bunga pukul delapan ternyata memiliki manfaat lain. Tanaman ini merupakan habitat ideal bagi Sycanus. Serangga itu biasa berkembang biak serta tinggal di sela-sela bunga pukul delapan.

Hal inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh Asian Agri. Mereka hendak menggunakan bunga pukul delapan sebagai sarana untuk membasmi hama ulat api.

Logikanya sangat sederhana. Anak perusahaan RGE itu menanam bunga pukul delapan dengan tujuan agar Sycanus berkembang di sana. Sesudahnya, Sycanus akan mengendalikan populasi ulat api karena menjadi predator alaminya.

Oleh sebab itu, Asian Agri menanam bunga pukul delapan di sela-sela perkebunan kelapa sawit yang mereka kelola. Untuk setiap 1,4 hektar kebun, lini bisnis Royal Golden Eagle ini menanam Turnera subulata seluas 18 meter persegi. Perbandingan ini membuat Asian Agri telah menanami perkebunannya dengan bunga pukul delapan di lahan seluas 1,285 meter persegi.

Asian Agri kemudian membuat plot tanaman di pinggir jalan kebun kelapa sawit dengan ukuran bervariasi sesuai keadaan lahan. Di sana bunga pukul delapan ditanam. Biasanya ukuran plot antara tiga sampai empat meter dengan populasi tanaman 300 hingga 400 bibit.

Turnera subulata merupakan sumber makanan dan tanaman tempat tinggal untuk Sycanus, predator ulat api. Jadi, serangan hama bisa ditekan,” ujar Kepala Seksi Hama dan Penyakit Asian Agri, Tumpal Panjaitan.

Langkah ini memang terbukti sukses. Serangan hama ulat api bisa diminimalkan ketika bunga pukul delapan ditanam. Akibatnya hasil produksi perkebunan Asian Agri menjadi maksimal.

Kesuksesan ini akhirnya membuat anak perusahaan grup dengan nama awal Raja Garuda Mas ini hendak menularkannya ke pihak lain. Mereka menganjurkan para petani plasmanya untuk ikut menanam bunga pukul delapan. Belakangan hal serupa juga mereka anjurkan ke para petani swadaya.


Asian Agri menyediakan bibit bunga pukul delapan. Para petani tinggal mengambil dan menanamnya di lahan masing-masing. Kebetulan Turnera subulata tidak sukar untuk dikembangkan. Tanaman ini mudah beradaptasi di berbagai jenis lahan mulai dari yang terkena banyak sinar matahari hingga yang sedikit terlindungi.

Selain itu, hal yang tak kalah penting, bunga pukul delapan memiliki masa hidup yang lumayan panjang. Akibatnya tanaman ini cocok untuk ditanam di perkebunan kelapa sawit.

Turnera subulata bisa cepat tumbuh dan sangat indah. Biasanya bunganya mekar pada pukul delapan pagi. Jika dipelihara dengan baik, Turnera subulata bisa hidup sampai lima tahun,” ucap Tumpal.

Selain indah dan berguna untuk menekan hama ulat api, bunga pukul delapan juga bisa menjadi obat. Daun dan akarnya dapat dipakai untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti perut kembung dan tidak nafsu makan, rematik sendi yang disertai bengkak, bengkak karena memar, dan lemah setelah sembuh dari sakit berat.

Namun, lebih dari itu, pemanfaatan bunga pukul delapan berarti penting dalam keseimbangan ekologi di kawasan perkebunan kelapa sawit. Penggunaan pestisida bisa ditekan sehingga pencemaran bahan kimia di lahan bisa dikurangi.

Langkah ini juga sejalan dengan filosofi bisnis Royal Golden Eagle untuk menjaga keseimbangan iklim. Maka, tak salah jika Asian Agri memanfaatkan Turnera subulata untuk menekan hama kelapa sawit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers