19 Maret 2017

Kisah Sebutir Telur yang Dibagi Dua


Sejak kecil saya sudah terbiasa makan bersama di tengah keluarga besar pihak ibu. Saya dibesarkan Uwan dan Aki sejak adik saya lahir. Usia saya waktu itu belum genap 2 tahun. Di keluarga saya belajar caranya berbagi dan berhemat karena memang Aki bukanlah berasal dari keluarga yang punya segalanya. Tapi bukan berarti kami hidup dengan penuh kekurangan ya. Saya merasa hidup kami cukup baik dan masih bisa makan setiap hari adalah anugerah yang sangat besar yang keluarga saya berikan.

Ketika saya mulai berkuliah dan tinggal jauh dari keluarga saya baru merasakan soal porsi makan telur setiap orang. Karena waktu kecil saya selalu dikasih jatah setengah butir telur jika telurnya direbus dan telur dadar akan dibagi empat. Bertahun-tahun itu yang saya alami sampai saya merasa bahwa itu adalah porsi yang benar. Satu orang tidak boleh makan lebih dari setengah telur saat makan. Hemat ya?

Saya tidak tahu jika di keluarga yang lain ada orang yang boleh makan satu dua butir telur sendirian bahkan lebih. Satu butir telur rebus yang kemudian dibelah dua, dikasih kecap asin bagian kuningnya, dimakan dengan nasi yang hangat. Itu kenangan yang tak bisa saya lupakan dari keluarga saya. Kami berbagi banyak hal terutama soal makanan. Uwan juga pintar membuat beragam kue yang saya suka.

Masakan Uwan adalah berkah yang saya rasakan bertahun-tahun sejak lahir menjadi bagian keluarga kami. Saya selalu merindukan rasa di lidah yang saya tahu tak bisa digantikan oleh masakan orang lain di dunia ini. Saya sendiri tidak begitu pinter masak dan tidak terlalu tertarik untuk belajar memasak. Saya masih suka menulis dan membaca buku dibandingkan harus mengerjakan sesuatu di dapur. Jadi akan sangat sulit untuk menemukan orang yang bisa mewarisi rasa masakan Uwan saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers