4 Februari 2017

Menjadi Penulis Novel Romance Dewasa


Sudah lama rasanya sejak terakhir kali saya membuat cerita bersambung di blog ini. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa di Indonesia ada penerbit yang menerima tulisan romance dewasa dalam bentuk novel. Harusnya saya mencoba mengirimkan tulisan ke sana. Sudah lama sekali saya tidak menulis novel dan merasa bahwa mungkin saya tidak ditakdirkan untuk menjadi penulis fiksi lagi. Padahal dulu saya suka sekali menulis fiksi.

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya beberapa tahun terakhir ini dan saya akhirnya menemukan kembali passion untuk menghasilkan tulisan ‘dewasa’. Ah bukankah dulu saya kenyang membaca tulisan yang jauh lebih vulgar semacam Freddy S dibandingkan tulisan ‘dewasa’ jaman sekarang yang lebih halus cara menjelaskan cerita dan adegannya. Saya rasa saya bisa menulis novel dewasa menggunakan bahasa yang lebih ‘aman’ dari sensor.

Sayangnya saya tidak akan bisa menggunakan nama asli untuk tulisan novel dewasa saya nantinya dan kemungkinan saya akan menggunakan jenis kelamin laki-laki untuk menghasilkan sosok ‘penulis’ tersebut. Bukan apa, nama saya lebih cocok dihadirkan pada karya novel Islami dibandingkan novel dewasa. Jadi nanti saat menemukan tulisan yang mirip dengan gaya bercerita saya, tapi dengan nama laki-laki, masuk genre novel romance dewasa, bisa jadi itu adalah tulisan saya.

Memikirkan bahwa saya tidak akan menggunakan nama asli, ada banyak hal yang menyenangkannya. Pertama saya tidak perlu takut dengan cap yang diberikan pembaca setelah mereka membaca tulisan saya. Sebab mereka tidak tahu saya yang menuliskannya. Saya merasa aman dengan ketidakadaan saya secara nyata. Saya bisa menjalani kehidupan nyata dan tidak nyata saya tanpa perlu mencampuradukkannya.

Saya tidak akan ‘diserang’ secara langsung oleh pembaca yang tidak suka dengan tulisan saya dan rasanya itu membuat saya bisa menulis fiksi dengan lebih bebas. Bukannya saya tidak suka dengan kritik dan saran sih ya, tapi kadang cara orang menyampaikannya itu bisa sangat ‘menyakitkan’. Setiap individu memiliki tingkat penanganan yang berbeda saat menerima kritikan dan saran. Ada yang cuek saja namun saya pribadi adalah orang yang hipersensitif. Saya lebih memilih tak mendengar apa yang orang bicarakan tentang saya, baik dan buruknya. Sebab rasanya itu bisa sangat menyakitkan dan terlampau menyenangkan.



Saya menuliskan ini hanya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya wajib menulis fiksi lagi seperti dulu dalam genre dewasa dan mengirimkannya ke penerbit khusus novel dewasa yang selama ini belum pernah saya kirimi karya. Catatan untuk diri saya saat suatu hari tidak semangat untuk menulis dan butuh suntikan semangat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers