Langsung ke konten utama

Ketika Tidak Menulis


Beberapa minggu terakhir ini saya memang meninggalkan sejenak hiruk-pikuk blog saya. Ah nggak ada yang komentar juga setiap harinya sih. Soalnya saya sendiri juga bukanlah orang yang rajin blogwalking seperti dulu. Sekarang saya lebih banyak menghabiskan belajar online marketing untuk bisnis yang sekarang saya tekuni. Ternyata berat sekali tidak menulis satu artikel setidaknya dalam satu hari. Selalu ada yang kurang. Saya tidak tahan melihat blog ini sepi dari tulisan saya.

Ketika tidak menulis, saya masih mendapatkan ide apa saja yang bisa saya tuliskan di blog dan saya rindu sekali bisa mengetik lebih cepat seperti biasanya. Walaupun sekarang saya lbeih memilih dalam keadaan emosi yang stabil. Saat marah saya menghindari untuk menuliskan apa pun di sosial media atau secara online. Beberapa kali rem hampir blog dan saya hendak menuliskan hal-hal yang membuat saya kesal tapi akhirnya saya tarik napas lebih panjang dan pikirkan ulang.

Ada imej yang harus saya jaga sekarang. Saya bukan hanya membawa nama saya sendiri. Ada nama suami yang saya pertaruhkan. Nama keluarga suami yang juga hendak saya jaga. Saya tidak ingin pandangan jelek orang terhadap mereka timbul gara-gara saya yang menulis dengan penuh emosi. Walaupun saya rindu dengan diri saya yang penuh emosi dan bebas menulis tanpa beban apa pun itu. Perempuan yang tak berpikir soal pandangan orang. Menulis saja tanpa rem tanpa ada saringan. Ah memalukan sekali diri saya yang 5-6 tahun lalu meledak-ledak itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan