Langsung ke konten utama

Kamu Pikir Saya Mau Selingkuh?


Sejak dulu suka banyak sekali lawan jenis yang mudah salah paham dengan sikap saya. Entah sikap saya yang salah atau merekanya yang mudah sekali ge-er. Entahlah. Tapi sebelum segalanya lebih jauh saya akan langsung jaga jarak dengan berbagai cara sih. Sekarang sih saya tahu saya orangnya ‘terlalu ramah’ dibandingkan kebanyakan orang. Nah kalau ada yang menganggap keramahan saya sebagai bagian dari ‘merayu’ itu yang bahaya. Ujung-ujungnya ada lawan jenis yang akan mendekati saya seakan-akan saya yang menginginkan menjalin hubungan dengannya.

Situ sehat?

Baik sebelum dan sudah menikah pun saya tidak merasa bahwa orang harus menyimpulkan keramahan saya sebagai sinyal bahwa saya ingin menjalin hubungan dengan ‘Anda’. Apalagi kalau sekarang saya statusnya sudah menjadi istri orang ya. Waktu belum menikah pun saya ramah sama siapa saja. Bukan hanya kepada lawan jenis. Tapi yang saya tahu adalah orang yang punya tingkat kecerdasan tinggi tidak akan salah mengartikan keramahan saya. Mereka akan berusaha menginterpretasikan perilaku saya perlahan-lahan. Bukannya langsung menangkap sinyal dengan cara yang salah.

Apakah saya sedemikian cintanya sama suami saya sampai harus menuliskan ini di blog biar pada baca dan meminta orang untuk tidak salah paham dengan sikap saya? Bukan itu sih alasannya. Saya hanya merasa bahwa selingkuh itu salah dan saya tidak berada dalam kondisi untuk mengkhianati diri saya sendiri yang sudah memilih seseorang menjadi pasangan hidup saya. Setidaknya saya ingin menghapus ‘perselingkuhan’ sebagai alasan retaknya hubungan rumah tangga saya yang saya harap tidak sampai terjadi.


Saya mencintai anak saya. Saya ingin dia punya orang tua yang lengkap. Bukan orang tua yang berpisah karena memiliki alasan yang bisa mengalahkan cinta kami pada dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan