Langsung ke konten utama

Shopee ID: Berikan Predikat Pembeli Terpilih untuk Temukan Reseller atau Realseller?



Segalanya berawal dari cinta. Dalam sebuah hubungan yang diawali dengan cinta tentunya harus ada rasa saling percaya antara satu sama lain. Begitu pula dengan e-commerce yang kita ‘cintai’. Kita mau tidak mau harus percaya dengan e-commerce tersebut dan penjual yang ada di dalamnya. Namun ketika kepercayaan itu tidak digunakan dengan baik maka hancurlah sebuah hubungan antara pembeli dan penjual di sebuah e-commerce.


Bagaimana sebuah kepercayaan terhadap sebuah e-commerce bisa dijaga? Selama yang bertransaksi di dalamnya tidak ‘menipu’ tentunya perjalanan sebuah e-commerce akan semakin panjang di pasar online. Namun ketika ada pelanggan atau pembeli yang merasa tertipu, bukan hanya penjual yang akan kehilangan pelanggannya tetapi e-commerce tersebut akan kehilangan usernya. Karena satu user bisa mengakibatkan dampak yang beruntun, baik atau buruk.



Orang akan percaya dengan orang yang dekat dengannnya. Ketika seorang teman memberikan saran untuk belanja di sebuah e-commerce, biasanya saran tersebut akan dia percaya begitu pula sebaliknya, saat seseorang tidak menyarankan untuk berbelanja di sebuah e-commerce, ini juga akan jadi pertimbangan yang mendapatkan sarannya tersebut.



Penipuan yang paling sering terjadi di dalam e-commerce adalah penipuan tidak langsung. Bukan jenis penipuan yang mengatasnamakan perusahaan tertentu lalu menyedot uang Anda sampai habis. Tetapi penipuan ini lebih halus karena tidak benar-benar terasa seperti penipuan. E-commerce menjadi perantaranya. Sebagai e-commerce yang ingin terus maju dan membesar lebih lama di pasar online, tentunya tidak mau menampung banyak penipu di e-commerce-nya bukan?



Penipuan ini dilakukan oleh reseller yang mendaftar di berbagai situs yang menyediakan produk yang bisa dia jual kembali di berbagai e-commerce, biasanya ribuan bahkan puluhan ribu produk. Reseller bisa menggunakan tools tertentu yang dapat mengunggah ribuan produk sekaligus ke e-commerce. Dia akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dengan harga beli produk tersebut. Dia hanya perlu ‘menalangkan’ harga produk tersebut sementara uang dari pembelinya akan masuk ke e-commerce dulu. Sampai di sini tidak terlihat seperti penipuan bukan? Sama sekali tidak ada yang aneh dengan transaksi ini. Memang beginilah reseller.



Satu hal pokok yang menjadi masalah dari penjualan produk oleh reseller ini adalah dia sendiri belum tentu mengetahui kualitas produk yang dia pajang. Karena dia hanya melihat gambarnya. Bukan hal yang baru jika banyak reseller sebenarnya menggunakan gambar yang tidak sesuai dengan produk yang dia jual. Salah siapa? Biasanya reseller hanya mengambil gambar yang disediakan oleh penyedia produk untuk reseller ini. Tempat reseller mendaftar yang memberikan gambar yang bukan merupakan produk asli dari barang yang dijual tersebut. Paling rawan adalah produk fashion dan yang paling mungkin tertipu dengan transaksi ini adalah pembeli perempuan.


Reseller tidak dapat mengontrol kualitas produk yang akan dikirim oleh pemilik produk dan bahkan tidak jarang pembeli mendapatkan produk yang kualitasnya jauh dari gambar ditambah lagi kadang warna produk yang datang tidak sesuai dengan yang terlihat di gambar atau yang dipesan. Sebeda-bedanya sebuah produk dengan gambar setidaknya tidak sampai seperti jauh panggang dari api. Pembeli memilih produk karena melihat gambar yang dipajang, jadi ketika gambar yang dipajang bukanlah gambar sebenarnya, bukankah penjual dan e-commerce sedang menipu pembeli?


E-commerce akan ikut terkena dampaknya dan akan ikut dianggap menipu pembelinya. Memang sih sebuah e-commerce bisa menampilkan penilaian dari pembeli yang akan jadi tolok ukur pembeli lainnya untuk memilih produk tersebut atau tidak. Shopee sebagai satu e-commerce yang cukup pesat perkembangannya karena tahu betul dengan kebutuhan pembeli yang ingin gratis ongkos kirim sudah sangat pintar mencari celah supaya banyak orang mau menjual dan membeli di e-commerce mereka.

Sayangnya untuk masalah produk yang tidak sesuai dengan gambar belum mendapatkan perhatian cukup besar di berbagai e-commerce terutama Shopee yang memang menjadi tempat paling sering saya berbelanja online, sebab saya bisa mendapatkan free ongkir dengan minimal belanja tertentu. Melalui iPrice juga bisa tahu harga produk tertentu di berbagai e-commerce tanpa perlu cek satu-satu di e-commerce.
Harapan saya terhadap Shopee ID adalah menyediakan pilihan bagi pembeli setia untuk memberikan penilaian tanpa bintang dan alasan memberikan penilaian seperti itu beserta gambarnya dan jika setidaknya ada tiga penilaian tanpa bintang yang didapatkan produk tersebut, maka e-commerce berhak mengkarantina produk. Saat sebuah produk dikarantina, produk tersebut tidak akan tayang di e-commerce sehingga pembeli yang lain tidak dikecewakan. Apabila penjual mendapatkan sampai 10 produk yang dikarantina maka e-commerce berhak membekukan akunnya atau minimal menarik pemberikan free ongkir di toko tersebut.








Penjual di Shopee bisa mendapatkan predikat ‘terpilih’ seharusnya pembeli juga bisa mendapatkan predikat ‘terpilih’ tersebut dan mendapatkan keistimewaan untuk memberikan penilaian yang benar-benar memengaruhi keberadaan seorang seller di e-commerce Shopee ID. Dengan adanya predikat pembeli ‘terpilih’ Shopee ID akan mampu mencegah reseller yang dengan sadar atau tidak sadar menjual produk yang tidak sesuai dengan gambar yang mereka tampilkan di akunnya. Pembeli juga tidak akan dirugikan lebih banyak lagi oleh penjual yang seperti ini. Shopee ID dapat memberikan predikat ini pada pembeli yang setidaknya sudah 1 kali berbelanja di tiap 10 seller yang berbeda.



Jadilah reseller yang benar-benar realseller ya guys! Jangan sekadar reseller yang tidak tahu dengan produk yang dijual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma