7 Januari 2017

Hamil Kembar, Kenapa Tidak?



“Sudah isi?” - satu dari banyak pertanyaan paling horor di dunia.

Saya setidaknya akan selalu menahan diri untuk tidak mempertanyakan seseorang sedang hamil atau tidak, terutama jika umur pernikahan mereka baru beberapa bulan. Sebab pasangan pengantin baru paling tidak akan selalu mendengar soal pertanyaan kapan hamil sekitar satu tahun setelah pernikahannya berlangsung. Seakan-akan adalah sebuah kesalahan kalau belum hamil setelah menikah. Banyak sekali yang mengatakan soal berkah jika ‘langsung isi’. Okelah, sudah hal yang biasa sih di Indonesia. Tapi saya punya beberapa teman yang memang bertahun-tahun menikah belum dikaruniai seorang anak bahkan ada yang puluhan tahun menanti tak kunjung dapat buah hati.

Nanti kalau mereka mendapatkan pertanyaan ‘sudah isi’ kemudian hati mereka tercabik bagaimana? Siapa yang bertanggung jawab atas luka yang ditinggalkan sebuah pertanyaan sederhana (menurut kita) itu?

Soal pertanyaan ‘kapan hamil’ itu sudah satu masalah. Masalah lainnya lagi adalah banyak sekali orang yang berharap (termasuk saya) dianugerahi anak kembar. Hamil kembar itu kayak durian runtuh. Tanpa pernah saya bayangkan bagaimana nantinya kebutuhan janin yang dalam perut jika isinya dua bahkan tiga. Apakah Lactamil saja sudah cukup? Apa saja yang harus kita siapkan jika kita ternyata mengandung dua janin di dalam rahim kita?

Saya sempat terpikir bahwa saya hamil kembar gara-gara kehamilan saya ukurannya besar sekali. Saya berjalan saja susah sekali. Untuk turun-naik tangga saja rasanya sudah tak sanggup. Namun ternyata hamilnya hanya satu bayi. Meskipun demikian bukan berarti kebahagiaan saya berkurang. Sebab saya merasa bahagia sekali ternyata saya bukan hamil kembar. Hamil satu saja rasanya saya sudah tak sanggup melakukan banyak hal. Tak dapat saya bayangkan isinya dua dan saya harus mengejan dua kali karena mengeluarkan mereka satu demi satu.

Walaupun hamil kembar itu seakan-akan menjadi jalan pintas bagi ibu yang tak ingin hamil berkali-kali untuk mendapatkan dua anak atau lebih. Tapi membayangkan membawanya selama sembilan bulan saja saya tak sanggup. Sebab mengandung Raza saja ukuran perut saya seperti balon yang mau pecah. Bagaimana kalau sekaligus saya mengandung anak kedua di kehamilan yang sama? Ada senang dan susahnya sih. Bagian senangnya itu yang seperti sudah saya kabarkan sebelumnya. Bahwa untuk mendapatkan dua anak lebih cukup hamil satu kali saja. Susahnya ya membayangkan sembilan bulan akan mengandung dua janin sekaligus dan melahirkannya berjuang dua kali saat masih letih harus mengejan sekali lagi demi anak kedua.


Jika memang ingin mendapatkan kehamilan kembar, sebaiknya Anda membaca lagi banyak artikel atau buku yang membahas tentang kehamilan kembar. Apalagi ternyata di keluarga kita tak ada satu pun yang kembar. Jadinya akan sulit mendapatkan yang namanya hamil kembar. Sebab kebanyakan yang bisa mendapatkan anak kembar adalah orang yang kembar juga. Namun bukan tak mungkin kita akan mendapatkan hamil kembar saat Tuhan yang memberikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers