19 Januari 2017

Detektif Bintang



Saya baru sadar bahwa sejak duduk di bangku sekolah dasar, sejak lancar membaca buku cerita saya senang sekali membaca kisah detektif. Memecahkan kasus. Bukan cerita Sherlock Holmes yang dulu memikat saya melainkan sebuah cerita anak-anak yang judul bukunya detektif bintang. Kasusnya pun sederhana. Kisah makanan yang hilang atau pencurian kecil. Paling saya ingat sih tentang dua tersangka yang merupakan saudara kembar dan satu di antaranya merupakan pelaku yang mengambil makanan di dalam lemari.

Ah detailnya tidak perlu saya ceritakanlah ya karena ini memang kisah detektif sederhana dan jauh dari yang namanya kasus pembunuhan. Namun saya terpikat dengan kisah semacam itu. Walaupun saya sempat terpikat pada manga serial cantik dan tulisan Freddy S tapi naluri saya yang sebenarnya tak bisa memungkiri betapa saya senang dengan kasus kemudian memecahkannya akhirnya suka dengan tulisan Agatha Christie lalu terpikat pula dengan tokoh Sherlock Holmes.

Berawal dari detektif kecil si Detektif Bintang, buku cerita yang saya dapatkan dari sekolah tempat Umak saya mengajar. Rindu sekali dengan perpustakaan tempat dia mengajar dan menemukan kembali buku-buku cerita yang saya senangi sampai saya baca berkali-kali. Banyak sekali buku cerita yang membuat saya jatuh cinta di sana. Terkadang saya suka melihat di toko buku dan mengintai buku cerita yang serupa tapi saya tak menemukan lagi buku anak-anak seperti yang saya baca dulu.

Sekarang saya lebih banyak menemukan kisah detektif dan kasus kriminal melalui film atau serial televisi. Memang lebih real sayangnya kita tak bisa banyak berimajinasi mengenai tokoh dan setting tempat yang digambarkan oleh penulis. Ketika kata-kata mengalahkan segala audio dan visual efek.

Era digital memungkinkan kita mendapatkan bahan bacaan dan tontonan dengan sangat mudahnya. Saya yang selama ini hanya mengenal televisi hitam putih dengan siaran dari Malaysia itupun kadang harus bersabar menunggu aki mobilnya diisi ulang di toko kelontong di pasar supaya televisinya bisa menyala. Tak pernah membayangkan akan membaca sedemikian banyak buku secara digital. Bahkan banyak blog bisa dibaca tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membelinya, hanya menggunakan paket data.


Semua yang ada di tangan kita sekarang hanya ada di dalam pikiran beberapa orang yang membuat perubahan di dunia ini, saya? Hanya bagian dari orang yang terkena dampak perubahan itu dan merasa bersyukur berada di masa sekarang. Sehingga bisa melihat dunia dengan lebih luas lagi. Tak sekadar pada dunia yang ada di buku yang saya baca atau dunia nyata yang saya lihat sebagai Jawai. Bahwa dunia ini luas, banyak manusia lain, dengan bahasa yang berbeda, di luar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers