27 Oktober 2016

Selamat Hari Blogger Nasional: Blogger dari Waktu ke Waktu




Pernahkah Anda, termasuk saya, membayangkan kita akan berada pada masa sekarang ini. Ketika blog bukan hanya menjadi ajang tempat kita merangkaikan kata atau sekadar tempat curhat saja? Pernahkah membayangkan akan menjadi seperti ini? Banyak yang akhirnya menemukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya dengan media blog. Bahkan banyak yang menemukan jodohnya. Bukan itu sih yang mau saya bahas, bukan soal jodoh. Kasihan nanti yang masih galau soal jodoh malah mewek-mewek di kotak komentar.

Saya bukan blogger pemula lagi tapi saya juga bukan blogger profesional yang benar-benar memberikan 100% waktunya hanya untuk blog. Dulu pernah ada masa hanya ada saya dan blog saya. Jalan yang sunyi kami lampaui sampai akhirnya menjadi seperti yang sekarang ini. Saat menjadi seorang ibu dan anak menjadi hal yang berada di atas segalanya.

Dulu, masih terekam dengan baik bagaimana pertama kalinya saya dihubungi karena saya seorang blogger. Usia blog ini baru beberapa bulan dan ada yang menemukan saya dan menyebut saya sebagai 'blogger'. Sensasinya waktu itu sedemikian istimewanya. Detak jantung menjadi lebih cepat dan mirip sekali dengan debaran cinta pertama.

Beberapa tahun ke belakang, saya iri sekali dengan teman-teman blogger lain yang bisa menghasilkan uang dari blog, bisa jalan-jalan karena dia memiliki blog yang punya kekuatan. Saya merasa seperti seekor kutu di bawah tumpukan jerami. Itu mengapa saya senang bukan main ada yang menghubungi saya karena saya blogger dan memberikan job pertama saya sebagai seorang blogger walaupun ternyata saya bukan menulis di blog saya sih.

Entah bagaimana dia menemukan saya waktu itu.

Beberapa tahun sudah berlalu dan sekarang saya sudah menjadi lebih dewasa dalam menulis, bukan lebih baik atau lebih keren, rasanya masih sama seperti dulu hanya berkurang ledakan emosinya. Saya tidak menulis dalam keadaan marah atau gundah lagi. Posisi saya sekarang juga sudah bukan sebagai orang yang tak punya pelampiasan segala amarah.

Saya sudah menikah dan itu mendewasakan saya. Saya pikir keputusan untuk menikah adalah keputusan terbaik saya disaat saya tidak bisa berpikir dengan jernih. Sebab pernikahan banyak sekali mengubah saya menjadi saya yang sekarang. Terutama soal mengendalikan emosi. Saya memang sangat emosional orangnya. Pernikahan adalah terapi yang menenangkan.

Fase pemula sudahs aya lewati dengan segala emosi yang berkecamuk di dalamnya. Fase blogger yang mencari uang melalui blognya masih dan sedang saya jalani sekarang. Tahu apa yang akhirnya saya rindukan? Padahal waktu masih jadi pemula saya ingin sekali bisa menghasilkan uang dari blog. Sekarang saya malah ingin menulis lebih banyak, lebih bebas, dan tidak ada embel-embel uang lagi di dalamnya.

Menulis lebih jujur pakai hati.

Itu yang paling saya inginkan. Sekarang saya masih merintis bisnis di luar blog saya ini untuk bebas secara finansial dan benar-benar tak menerima job review di blog yang berbayar. Saya ingin mereview sesuatu karena saya memang ingin memberikan ulasan, bukan karena saya dibayar. Itu saja.

Bertahap sih ya, ada beberapa yang saya review karena memang saya tertarik mengulasnya dan ada juga yang mau tak mau saya ulas karena ada embel-embel uang di dalamnya. Siapa yang tak mau mendapatkan penghasilan dari blog? Apalagi kalau penghasilannya lumayan buat menambah uang tabungan.

Lucu sekali rasanya fase yang saya alami ini. Satu hal yang jelas, saya tak begitu bangga lagi bisa mendapatkan banyak job review atau bisa memenangkan lomba. Fase itu sudah lewat. Saya rasa saya akan lebih bangga jika suatu hari benar-benar menjadikan blog ini sebagai ladang amal untuk saya sendiri. Bukan berisi duniawi.

Lebih dari lima tahun sudah saya menulis di blog ini. Banyak hal yang saya alami saya catat satu demi satu. Tangis, tawa, dan luka ada semua di sini. Catatan yang akan saya tinggalkan ketika suatu hari nanti saya sudah tak ada di dunia ini lagi.

Ngomong-ngomong soal mati saya sudah memikirkan tentang nomor HP kesayangan saya yang sudah lebih dari 10 tahun saya gunakan. Mungkin saya akan memberikannya pada anak saya sehingga nomor ini tetap akan aktif meskipun saya sudah tak ada.

Apa pun fase kamu sekarang saat ngeblog saya hanya ingin mengucapkan selamat hari blogger nasional ya!

Asus Zenpower Ultra 20100mAh Powerbank Cocok Buat Traveling dan Mati Lampu





Suka traveling? Bertahun-tahun sebelumnya kita tak terlalu banyak memikirkan soal gadget saat bepergian apalagi daya yang terisi di dalamnya. Beda banget sama sekarang. Sedikit-sedikit pasti ngecek batre HP dulu. Sudah full atau belum untuk diajak berkeliling dan bisa cukup selama perjalanan menuju rumah.


Bagaimana jika tempat yang akan kita datangi tidak punya listrik? Semacam Temajok di Sambas yang tak punya listrik sama sekali. Penerangan berasal dari mesin-mesin solar dan beberapa ada yang menggunakan panel surya yang bersusun rapi di atap. Saya jadi ingat saat masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Tak ada listrik di Jawai kecuali di Desa Sentebang. Di mata saya yang masih kecil, Sentebang itu seperti surga. Kemajuan menjamahnya lebih dulu dan banyak hal bisa dilakukan di sana. Banyak hal pula yang dapat ditemukan.

Hal-hal yang tak ada di desa-desa lainnya. Saya iri sekali dengan orang yang lahir, tinggal, dan membesar di Setebang. Mereka seperti punya segalanya. Desa yang harus kami datangi dengan mengayuh sepeda 20-30 menit adalah surga kecil yang bukan milik saya.

Sesekali saya mampir dengan Aki yang membonceng saya di sepedanya. Kaki saya terikat di batang sepeda, sapu tangan biru muda yang Aki gunakan untuk menahan kaki saya di sana. Supaya kaki saya tidak terjepit lidi sepeda. Duduk di sepeda Aki selama 30 menit bukan hal yang menyenangkan. Walaupun saya bisa memeluk pinggangnya lebih lama sambil menyandarkan kepala tapi bokong saya sangat tersiksa.



Jalan yang berbatu, aspalnya masih sangat tipis, sepeda bergetar membabi-buta. Menyiksa orang yang dibonceng dengan sepeda yang dudukannya terbuat dari besi. Sepatu putih adalah hal yang berkelebat setiap kali saya mengingat Aki, sepedanya, dan Sentebang. Kenangan memang selalu membuat kita rindu pada msa lalu. Apalagi ketika seseorang yang penting itu sudah tak ada lagi di dunia ini. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya dengan kenangan yang tak pernah bisa dilupakan.

Lain dulu lain sekarang, dulu kita tak pernah terpikirkan akan ada daya portabel yang bisa kita bawa ke mana pun untuk mengisi gawai kita. Smartphone selalu dengan mudah kehabisan daya selama dibawa bepergian. Apalagi jika kita memutuskan untuk pergi ke tempat yang tak ada listriknya. Penting sekali membawa powerbank seperti Asus Zenpower Ultra.



Dulu pertama kali kenal powerbank, bisa sekali mengisi penuh daya di smartphone sudah super canggih. Sekarang Asus Zenpower Ultra ini bisa saya gunakan sampai 6-7 kali isi sampai penuh smartphone saya. Jika saya butuh dua kali mengisi daya sampai penuh dalam sehari, saya bisa ke mana pun tanpa merisaukan soal daya smartphone selama setidaknya tiga hari. Aman berkeliling sambil liburan dan tak perlu repot memikirkan tempat ngecas HP.

Asus ZenPower Ultra ini juga sudah mendukung fast charging, sehingga kita tak perlu repot lama ngecas dayanya. Punya dua gawai? Tenang, ada dua colokan USB sehingga bisa mengisi batre dua gawai sekaligus.

Ajaib ya! Itu yang akan kita katakan jika menemukan benda ini 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Saat listrik masih menjadi sesuatu yang mewah bagi orang di pedesaan seperti saya. Saya bersyukur sekali menjadi bagian drai banyak keajaiban yang sekarang bisa kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nanti saat Raza, anak saya yang setahun lebih usianya, sudah besar entah keajaiban apalagi yang ada di masanya. Ketika baginya segala yang terjadi tak lebih ada hal yang biasa atau dia sebut sebagai perkembangan zaman saja. Ada yang datang ada yang menghilang.

Hal-hal yang saya alami saat masih kecil tentunya bukanlah sesuatu yang mungkin dialami anak saya, sebab dia lahir sebagai generasi digital. Segalanya hanya seperti menggerakkan telapak tangan saja. Seakan istilah 'tak semudah membalikkan telapak tangan' tak lagi berlaku buat generasi mereka.

Iya, sekarang pun kita melakukan sesuatu hanya dengan membalikkan tangan kita. Dengan senjata gawai yang terkoneksi dengan internet, seisi dunia seakan sudah di dalam tangan kita. Apa yang tak bisa kita cari di dunia digital? Selama gawai itu masih terisi daya, dia bisa melakukan banyak sekali hal yang tak terbayangkan oleh kita.

Itu sebabnya mengapa kita tak bisa bertahan menggunakan gawai yang sama lebih dari dua tahun. Kita akan ketinggalan jika teknologi terbaru tak berada di tangan kita. Seperti powerbank. Saat orang terus-menerus memiliki gawai yang tak kehabisan daya, kita yang hanya memiliki gawai tanpa daya sama sekali tak akan bisa melakukan banyak secara digital. Meskipun dunia digital tak sepenuhnya yang harus kita isi namun sekarang sudah masanya kita mendigitalkan banyak hal.

Seorang traveler yang suka bepergian ke mana-mana tentunya tak ingin terikat oleh ruang dan waktu hanya demi mengisi daya di smartphonenya. Asus ZenPower Ultra menjawab semua kebutuhan kita akan pengisian batre berkali-kali sampai penuh.

Padahal banyak sekali powerbank yang beredar di pasaran yang muncul dengan angka yang fantastis tetapi harga yang sangat terjangkau. Tapi tak sesuai dengan angka yang tertera di powerbank tersebut. Sama sekali tak sesuai. Makanya saya agak ngeri beli powerbank sembarangan. Ada rupa ada harga sih. Jadi berharap harga powerbank murah dengan kemampuan yang super ya susah.

Jadi Asus ZenPower Ultra mahal?

Saat kita merasa bahwa pengisian daya berkali-kali berhari-hari adalah kebutuhan, harga yang disodorkan oleh Asus bukanlah harga yang mahal. Melainkan harga yang sepantasnya, mengingat angka yang dipasang Asus ZenPower bukanlah angka yang main-main. Angka yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan klaim abal-abal demi mendongkrak angka penjualan.

Ingin beli powerbank super dari Asus? Coba cek di beberapa e-commerce yang memberikan potongan harga dan free ongkir. Lumayan untuk menekan harga sebenarnya. Banyak kok e-commerce yang jual. Beli produk yang asli ya, jangan tergiur dengan penawaran yang terlampau murah. Takutnya malah kecewa karena pesanan tak dikirim oleh penjual atau malah yang datang hanya sabun batangan.

Sudah pernah dengar kan soal penjual produk elektronik yang ternyata mengirimkan sabun batang ke pelanggan yang membeli produk sama mereka. Sudah bukan cerita baru tetapi tetap saja maraknya penipuan online semakin bertambah di mana-mana.

Sejauh ini, Asus ZenPower Ultra dengan kemampuan mengisi 6-7 kali smartphone yang batrenya 3000mAh adalah yang paling cocok buat diajak traveling keliling ke tempat-tempat yang tak ada listriknya. Berkemah di hutan atau atas gunung misalnya. Karena daya powerbank ini adalah 20100mAh. Bisa digunakan juga untuk menyalakan lampu USB. Dibandingkan dengan membeli lampu yang bisa diisi ulang dayanya, mendingan pake powerbank Asus ini untuk menyalakan lampu saat di rumah listrik putus.

Ngomong-ngomong soal lampu mati, di Pontianak sering mati lampu sih. Di lokasi tempat tinggal saya juga suka meledak gardunya. Ah benar-benar menyebalkan kalau seperti itu kejadiannya. Kipas angin mati, kamar gelap, dan smartphone lowbat. Apalagi yang lebih horor dari itu? setidaknya dengna menggunakan powerbank Asus kita bisa menyalakan lampu USB dan juga kipas angin yang menggunakan colokan USB. HP batrenya kritis? Tinggal cas saja dan tetap bisa menikmati waktu di rumah tanpa rasa khawatir karena tak bisa melakukan banyak hal.


Milikilah powerbank super ini, setidaknya satu.Bisa digunakan untuk melakukan banyak hal, nggak hanya ngecas HP atau tablet. Hal paling standar yang kita lakukan pada powerbank kita. Sekarang sudah banyak beda yang menggunakan colokan USB kok, jadi menggunakan powerbank sebagai sumber listrik di rumah juga bisa dilakukan. Lumayan kan? Daripada harus beli genset dan beli bensin hanya untuk menyalakan lampu di rumah agar punya penerangan.

Selamat traveling dan selamat menikmati waktu di ruumah meskipun sedang mati lampu.

 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design