22 Oktober 2016

Kaldu Ikan Teri





Dari Uwan (nenek) saya belajar banyak hal. Terutama kreativitas saat memasak di dapur. Uwan adalah koki paling hebat di mata saya. Selalu bisa masak enak. Selalu membuat saya rindu dengan masakannya. Walaupun sekarang dia sudah jarang masak. Dia sudah terlalu tua untuk melalukannya.

Makanan yang tak bisa saya lupakan dari Uwan adalah kaldu ikan teri. Jadi dia menyiapkan sarapan itu biasanya memang nasi. Jarang makanan lain. Selalu membuat sendiri. Karena di rumah banyak orang dan butuh banyak uang kalau setiap pagi beli sarapan.

Uwan biasanya merebus ikan teri dengan bawang merah dan putih. Saya tak pernah tahu berapa lama dia merebusnya. Tapi ikan teri yang direbusnya tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Entah mengapa setiap pagi saya bisa makan nasi hanya dengan kuah dari ikan teri rebus tersebut. Saya jarang makan ikan terinya. Karena ikan teri rebus, saya kurang suka. Saya cukup makan dengan kuahnya saja.

Berapa kali saya mencoba membuat kaldu ikan teri seperti yang dibuat Uwan tapi selalu saja gagal. Rasanya berbeda. Ada rasa yang tak muncul dari kaldu buatan saya. Padahal saya membuatnya persis sama dengan buatan Uwan. Sesekali, jika rindu saya akan merebus beberapa ekor ikan teri lalu memotong bawang merah dan putih sebagai tambahan rasanya.

Kemudian saya akan menikmatinya dengan sepiring nasi hangat. Begitu saja. Sudah cukup untuk menjawab kerinduan saya pada masakan Uwan walaupun rasanya benar-benar berbeda.

Ternyata di Korea juga ada kuah yang dibuat dari ikan teri. Kaldu ikan teri. Sama seperti ayam yang punya kaldu, ikan teri juga bisa dijadikan kaldu. Kaldu yang membuat saya kembali pada masa kecil saya dulu. Saat sarapan bersama keluarga. Dengan nasi putih hangat yang dimasak dengan tungku.

Pagi Sarapan Apa?





Setiap jam 6 lagi, waktu saya kecil dulu, sarapan sudah terhidang. Sebab Aki harus berangkat pagi-pagi ke sawah. Bercengkrama dengan padi yang dia tanam. Dia petani yang ulet. Meskipun kondisi tubuhnya tidak begitu kuat. Kadang napasnya tersengal. Dia penderita asma akut. Dulunya dia sempat menjadi perokok berat hingga akhirnya harus berhenti karena kondisi tubuhnya tidak kuat menghadapi rokok.


Sarapan yang paling sering disiapkan Uwan adalah nasi goreng teri. Berbumbu terasi, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah kering. Semuanya dijadikan satu untuk mengubah nasi dingin semalam jadi sarapan pagi yang enak setiap harinya. Jika tak ada nasi dingin sisa semalam Uwan biasanya mrmbuat sarapan dari nasi lemak.

Nasi lemak itu dibuat dari beras pulut yang dimasak dengan santan. Lalu atasnya akan ditaburi gula pasir sedikit sebagai pemanisnya. Sudah lama sekali saya tak sarapan seperti itu. Sekarang pun sudah tak memungkinkan karena saya tinggal jauh dari Uwan.

Uwan pun sudah tua. Dia sudah tak kuat lagi untuk menyiapkan berbagai sarapan seperti dulu. Terlebih lagi Aki sudah lama tak ada. Sudah 14tahun lebih berlalu sejak kepergiannya. Sejak saat itupula segalanya berubah. Segalanya tak lagi sama. Tak ada lagi perempuan yang bersemangat menyiapkan sarapan untuk suaminya.

Segelas kopi yang dibuat pagi dan didinginkan sampai sore pun tak ada lagi. Gelas bunga-bunga merah itu tak bertuan. Biasanya Aki akan menutup gelasnya itu dengan tutup plastik warna hijau supaya tak dihinggapi lalat. Saya suka menghirupnya sedikit kalau sudah dingin saat Aki belum pulang dari sawah.

Begitu banyak hal yang saya rindukan. Begitu cepat waktu berlalu. Saya pikir saya bisa menghentikan waktu dan tetap menjadi cucu kecilnya yang selalu dia gendong ke mana-mana. Kenangan-kenangan dengannya hanya berupa potongan-potongan kecil yang mulai terlupakan. Tak banyak yang saya ingat kecuali suara dan bau tubuhnya yang bercampur dengan minyak angin yang selalu dia gunakan.

Seandainya bisa mengembalikan waktu ke masa dia masih ada. Saya ingin memeluknya untuk yang terakhir kali. Sebelum dia benar-benar meninggalkan dunia ini. Saya ingin merekam dengan jelas adegan sarapannya setiap pagi. Sebelum dia mengenakan baju _kumme_-nya dan berangkat ke sawah dengan sepeda.

Jika saja saya bisa kembali ke masa itu. Saya akan lebih banyak bangun lebih pagi. Supaya bisa menumpang di sepedanya saat berangkat ke sekolah. Kenangan di rumah kayu itu. Dengan jendela yang sekarang sudah tak ada. Dari jendela itu saya bisa melihat rumah Boy, pohon nangka belanda, dan sumur yang sekarang sudah tak ada.

Semuanya perlahan menghilang. Satu-persatu berubah. Semua yang saya rindukan tak lagi ada.



 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design