9 Juni 2016

Ruang Reklamasi



Reklamasi, apa yang akan terlintas di pikiran teman-teman ketika mendengar kata tersebut. Sekarang sudah ada Ruang Reklamasi bahkan buat teman-teman yang tak tahu atau tak mau tahu mengenai reklamasi itu sendiri. Saya tahu reklamasi dari televisi. Sejak banyak sekali televisi yang menyiarkan tentang 'negatif'-nya reklamasi. Tapi saya sendiri tak ingin mempercayai segala sesuatunya dari sisi sebelah pihak saja. Sebab setiap langkah yang diambil pemerintah pastinya ada baik dan buruknya.


Pasti. Ada sisi baiknya dan akan ada sisi buruk yang mengikuti reklamasi itu sendiri. Apakah saya setuju dengan adanya reklamasi di Indonesia? Jika memang banyak positifnya dibanding negatifnya mengapa nggak dilakukan? Mengingat berapa banyak hutan yang sudah kita hancurkan hanya demi kepentingan manusia, kita sendiri. Bagaimana seandainya kita tak perlu menghancurkan daratan dengan hutan indahnya tetapi menciptakan daratan baru?

Masalahnya memang pada lautan. Mahluk yang hidup di air juga nggak kalah banyaknya dengan yang ada di daratan. Semuanya terancam karena keberadaan kita. Manusia yang memonopoli dunia ini dan melupakan hewan dan tumbuhan yang juga punya hak untuk hidup berdampingan dengan kita.

Lalu apakah reklamasi itu baik? Setiap langkah yang dilakukan pemerintah tentunya dengan perhitungan yang sangat baik. Tidak sembarangan dilakukan. Bukan membuat daratan tanpa perhitungan. Tentunya semuanya sudah melalui pengkajian karena reklamasi itu sendiri dimaksudkan untuk meningkatan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut pandang sosial ekonomi yang tentunya juga lingkungan itu sendiri dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Kawasan berair yang dimanfaatkan tersebut juga biasanya merupakan kawasan yang sudah rusak sehingga menjadi lebih menfaat jika dibiarkan menjadi kawasan yang sekadar berair.

Protes yang dilakukan di Indonesia saya rasa agak sedikit berlebihan karena sebelumnya di beberapa negara lainnya sudah banyak yang mereklamasi kawasan berair menjadi lahan yang lebih bisa memberikan manfaat bagi kelangsungan manusia dan sudah melalui pertimbangan yang matang sebelum dilakukan. Tentu saja pemerintah tidak ingin melakukan reklamasi yang membahayakan nyawa penduduknya. Bukankah membunuh rakyat Indonesia sama juga pemerintah membunuh dirinya sendiri?
 

Hotel di Yogyakarta

Sudah lama sekali rasanya terakhir kali saya ke Jogja. Tapi saya mau cerita pengalaman saya melakukan perjalanan ke Yogyakarta sekitar 7 tahun yang lalu. Sendirian di Jogja. Hotel di Yogyakarta murah-murah banget kalo memang teman-teman terbiasa dengan hotel yang ada di Pontianak. Bahkan saya bisa mendapatkan hotel sederhana dengan harga di bawah 100ribu dulu. Bahkan 80ribu masih tergolong mahal waktu itu.

Saya masih ingat betul saya naik kereta api dari ke Yogyakarta. Untuk tahu hotel yang paling oke yang bisa saya tempati waktu itu mutahil karena saya belum mengenal website seperti Mister Aladin yang bakalan ngasih info lengkap hotel di Yogyakarta. Namun waktu saya datang ke sana untuk pertama kalinya, saya bisa melihat banyak sekali hotel di Yogyakarta yang membuka pintunya lebar-lebar buat orang yang baru pertama kali datang ke sana.

Bahkan saya pernah tuh salah masuk hotel di Yogyakarta. Bukan salah gimana sih sebenarnya. Hotel tersebut terletak di pasar kembang dan saya sudah terlalu lelah selama perjalanan naik kereta. Saya hanya ingin tidur dan mengistirahatkan tubuh saya yang rasanya mau hancur karena berada di kereta api sekitar 7 jam. Lelah sekali. Apalagi saya tiba di Yogyakarta sekitar pukul 12 malam. Barang bawaan lumayan banyak. Hotel terdekat ya yang berada di Pasar Kembang yang beberapa hari kemudian saya ketahui sebagai hotel esek-esek.

Saya hanya menginap satu malam di hotel tersebut dan langsung pergi ke Magelang keesokan harinya karena saya ingin melihat Candi Borobudur. Selama ini hanya lihat candi tersebut dari buku pelajaran. Hanya baca buku sejarah dan lihat di televisi. Tak terbayangkan akhirnya saya sampai di sana. Dengan banyak sekali bantuan orang baik yang memberikan informasi mengenai harga hotel dan tempat wisata yang bisa dikunjungi.

Bahkan saya ingat betul dengan bapak yang mengantar saya ke hotel harga 50ribu satu malam dengan kamar yang luas dan lingkungan yang nyaman. Bahkan bonusnya saya punya abang becak yang mengantar saya ke mana aja selama di Yogyakarta sana. Ah seandainya bisa ke sana lagi saya ingin mampir ke hotel tersebut yang berada di Jalan Jlagranlor (semoga ini benar nama jalannya soalnya saya hanya ingat sedikit dengan nama jalannya). Ketemu lagi dengan abang becak yang sudah baik sekali mengantar saya keliling Jogja bahkan menikmati makan siang sama-sama.

Buat yang mau ke Yogyakarta, semoga mendapatkan hotel di Yogyakarta dengan harga yang terbaik dan fasilitas yang oke.

 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design