60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

31 Desember 2016

Dinasti Freddy S


Membaca judulnya apa yang lewat di kepala Anda? Jika Anda merasakan getaran aneh membaca judul postingan kali ini, tenang, itu artinya kita seumuran atau seenggaknya umur kita tidak terpaut jauh. Freddy S, apa sih yang Anda ketahui mengenai dirinya? Saya? Mengenalnya lewat karyanya dan tak pernah benar-benar tahu siapa beliau sebenarnya. Meskipun sekarang ada beberapa website yang memuat beritanya tapi tetap saja kita tidak mengenalnya secara langsung seperti kita mengenal banyak orang melalui sosial medianya.

Waktu kecil di kampung saya susah sekali mendapatkan bahan bacaan. Saya senang sekali membaca. Apa pun saya baca. Potongan koran yang terbit berbulan-bulan lalu yang digunakan orang untuk membungkus dagangannya pun saya baca begitu bawang yang terbungkus di dalamnya dipindahkan Uwan ke wadah bumbu dapur. Dulu begitu haus dengan bacaan. Sampai akhirnya ada toko yang membuka tempat sewaan buku. Buku perpustakaan di sekolah tempat Umak mengajar sudah habis saya baca. Sampai ke buku-buku yang sudah aneh baunya pun saya lalap habis. Toko sewaan buku itu menjadi cahaya baru bagi keinginan saya untuk membaca.

Awalnya saya hanya menyewa komik Donald Bebek-nya. Beberapa komik lain juga ada dan ikut saya sewa sampai akhirnya komiknya sudah saya sewa semua. Memang komiknya tidak banyak. Lalu saya menemukan puluhan novel Freddy S. Novel yang seharusnya belum pantas saya baca tapi saya baca terus sembunyi-sembunyi dari Umak, takut dimarahi, soalnya ternyata ceritanya erotis.

Masa-masa duduk di bangku SMP itulah saya banyak sekali membaca novel karya Freddy S sampai akhirnya saya sekolah di SMA Negeri yang cukup lengkap buku perpustakaannya dan banyak sekali yang bisa saya baca. Perpustakaan di masa SMA menjadi tempat paling menarik yang bisa saya kunjungi. Berjam-jam habis untuk duduk di sana saat jam pelajaran kosong menjadi berkah yang selalu saya nikmati. Jangan harap ada kisah romantis dengan lawan jenis semasa saya SMA karena kesenangan saya kala itu kalau bukan membaca ya menulis.

Dulu saya menulis cerita fiksi menggunakan buku tulis dan pulpen. Berbeda dengan sekarang dengan mudahnya kita menulis secara digital dan menerbitkannya di blog. Tak terbayangkan jika saya lahir di era Freddy S dan menulis cerita menggunakan mesin tik. Kapan selesainya dan bisa diterbitkan? Jangankan mau menerbitkan, menyelesaikannya saja akan sulit karena saya tak punya mesin tik. Makanya saya bersyukur sekali saat saya dewasa saya bisa menikmati dunia digital ini dan menjadi bagian yang tak terpisahkan sebagai generasi yang merasakan peralihan dari jaman bukan digital ke jaman digital seperti sekarang.

Setelah sekarang mendapatkan beragam informasi saya baru sadar betapa bebasnya dulu Freddy S menulis. Saya membayangkan Freddy S berada di jaman sekarang dan menulis kisah erotis seperti dulu, apa yang akan terjadi dengan karyanya ya? Apakah akan disensor? Atau dihujat ramai-ramai karena penuh dengan adegan sensual? Atau akan dicap sebagai karya yang cabul?

Entahlah. Satu hal yang saya tahu bahwa Freddy S telah menyumbangkan banyak karya untuk saya baca. Walaupun semuanya hanya sewaan belaka. Masa-masa jaya Freddy S sudah lewat. Karyanya banyak yang difilmkan di jaman dulu. Dinasti Freddy S. Jika Anda lahir tahun 80-an kemungkinan besar mengenal dia.

1 komentar:

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers