7 November 2016

Ketuban Pecah?



Mau cerita nih soal pengalaman melahirkan Raza yang penuh drama. Saya memang paling tidak kuat nahan sakit. Itu sebabnya sepanjang menunggu pembukaan sempurna saya sebentar-sebentar mengeluh. Mengaduh. Rasanya dunia akan runtuh. Namun penantian 24 jam itu sebelum berbuah manis menyadarkan saya satu hal bahwa tak ada apa pun yang dapat saya berikan untuk menggantikan pengorbanan seorang ibu melahirkan anaknya. Belum lagi mengandung selama 9 bulan. Aduh tidak kuat rasanya. Rasanya ada bagian tubuh saya yang merenggang. Saya kepayahan terutama di dua bulan terakhir.

Anehnya saya ingin hamil lagi dan melahirkan anak lagi jika memang dapat kesempatan kedua untuk mendapatkan buah hati. Dulu saya sangat takut membayangkan akan hamil dan melahirkan. Saya membayangkan tubuh saya akan terbelah untuk mengeluarkan seorang anak manusia. Apalagi banyak sekali perempuan yang meninggal dunia karena melahirkan. Nyawa taruhannya. Tapi hamil dan melahirkan itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Saya membayangkan detik-detik akan melahirkan itu ketuban pecah kayak di film-film. Saya terduduk tak mampu berdiri karena air tumpah ruah dari sela paha. Kenyataannya ternyata jauh sekali dari yang saya bayangkan. Ketuban saya tidka pecah. Saya hanya keluar tanda. Sedikit darah keluar dari bawah bercampur lendir. Itu tanda saya akan melahirkan dan apakah ketuban pecah seperti yang selama ini ada dalam kepala saya? Tidak sama sekali.

Raza dilindungi ketuban yang sangat tebal dan tidak bisa pecah secara alami. Bidan terpaksa memecahkannya seperti menusuk balon udara. Saya mendengar suara letupan sebelum akhirnya saya beberapa menit kemudian melahirkan Raza. Tiga kali beteran atau mengejan Raza pun keluar. Perjuangan panjang selama 24 jam itu berakhir sudah. Tidak benar-benar berakhir sih soalnya saya kemudian harus dijahit dan dibersihkan.

Apa yang bisa membuat saya bertahan? Raza. Dia yang membuat saya kuat. Saya mengajaknya berbicara sepanjang saya menahan sakit. Saya mengatakan bahwa ini akan lewat. Hari ini akan berakhir. Segera berakhir. Saya hanya harus sabar menghadapi rasa sakitnya. Hari itu akan selesai dan saya tidak kesakitan lagi. Itu berulang-ulang. Raza juga kuat sekali. Detak jantungnya normal selama 24 jam itu. Oksigennya juga cukup. Kondisi janinnya baik-baik saja tapi saya yang kurang baik.

Sejujurnya saya hampir menyerah. Saya udah teriak mau dioperasi saja. Untungnya bidannya kekeh kalau saya bisa lahiran normal. Tak bisa saya bayangkan harus menyembuhkan diri pasca operasi. Itu perjuangan yang jauh lebih panjang dibandingkan penyembuhan kelahiran normal. Bahkan kadang setelah bertahun-tahun rasa sakitnya bisa kembali, kata teman saya yang sudah pernah dioperasi. Saya sendiri karena melahirkan normal besoknya sudah bisa berdiri walaupun masih perlahan takut jahitannya lepas. Beberapa minggu kemudian saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Ketubanpecah bukan satu-satunya tanda akan melahirkan ya. Jika terjadi kontraksi dan usia kandungan sudah cukup sebaiknya segera datang ke bidan terdekat atau rumah sakit bersalin. Jangan sampai penanganannya terlambat dan membuat ibu dan bayinya berada dalam bahaya. Saya ditangani dengan baik sebelum melahirkan dan bisa melahirkan dengan normal. Time flies. Sekarang Raza sudah setahun 5 bulan. Tak terasa waktu sedemikian cepat berlalu dan dia sudah besar. Mulai belajar berbicara beberapa kata.

Melahirkan anak itu adalah anugerah yang hanya dimiliki oleh perempuan. Keistimewaan yang benar-benar istimewa dan menunjukkan betapa kuatnya kita sebagai perempuan untuk mengandung lalu berjuang melahirkan zuriat kita ke dunia. Dukung kehamilan kita dengan Lactamil juga ya Bunda.

1 komentar:

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers