Langsung ke konten utama

Blogger Keren



Blogger keren? Pernah berpikir tentang "blogger keren" itu seperti apa? Saya punya banyak sekali definisi blogger keren sampai akhirnya definisi itu berubah seiring waktu. Kemudian saya merasa sama sekali bukan blogger keren, tepatnya belum menjadi blogger keren itu. Bahkan orang-orang yang sempat saya anggap keren ternyata bukanlah blogger keren yang sekarang ini ada di kepala saya. Bukan mereka, bukan saya, tapi ada beberapa yang ternyata sejak awal sampai sekarang menjadi blogger keren yang sebenarnya.


Tahun 2010-2011 saya beranggapan bahwa blogger keren itu yang punya domain berbayar. Keren banget pake domain sendiri apalagi kalau pendek-pendek. Tahun 2011, tepatnya 2 Mei, saya pun menggunakan domain ini, honeylizious.com. Beberapa waktu berlalu dengan perasaan "wah saya keren lho pakai domain sendiri". Jumawa sebentar sampai akhirnya kekerenan itu turun beberapa level karena ternyata definisi keren yang saya pikirkan berubah alias nambah faktor yang lain.



Blogger keren itu yang blognya banyak pengunjung dan komentar. Berburu komentar dan pengunjunglah saya selama setahunan. Komen di banyak blog orang dan kenalan dengan blogger lain. Dapat pengunjung dan komentar balasan dari banyak blogger. Saya merasa keren. Waktu itu saya rajin sekali baca blog orang lain. Banyak mampir ke blog orang saya akhirnya tahu bisa dapat duit dari blog.


Saya pikir blogger keren itu yang dapat duit dari blognya. Beberapa bulan ngeblog akhirnya beneran bisa dapat duit dari ngeblog. Wih senangnya bukan main. Maklum selama ini hanya ngiler ngeliat orang lain bisa dapat duit dari blog. Saya merasa keren abis tu bisa dapat penghasilan sendiri dari blog. Sudah merasa kayak blogger-blogger lain yang saya anggap keren dengan "prestasi"-nya tersebut.



Dapat duitnya macam-macam, ada yang dari nulis, dari pasang banner, dari terima endorse, dan ada juga yang dari menang lomba. Merasa di atas angin beberapa waktu sampai akhirnya saya mengubah pola pikir saya mengenai blogger keren. Setelah memiliki domain sendiri, dapat pengunjung dan komentar, dapat penghasilan dari blog ternyata blogger keren itu bukan yang kayak gitu.

Saya pernah kok bertemu dengan blogger yang tak peduli dengan domainnya berbayar atau enggak. Tak pernah menghitung jumlah pengunjung dan komentar di blognya. Sama sekali tak menulis untuk mencari uang. Berbagai lomba menulis dia lewatkan. Saya melihat mereka begitu keren. Menulis di blognya tanpa tendensi apa-apa. Tidak disetir oleh siapa pun kecuali pemikirannya sendiri.

Keren betul orang yang ngeblog dengan cara seperti ini. Sementara ada yang jumawa dan terbang ke angkasa hanya karena dirinya terkenal atau dapat banyak duit dari ngeblog. Sekarang semua itu terasa nggak ada keren-kerennya. Saya? Ternyata bukan blogger keren yang selama ini saya impikan. Saya salah menganggap segala hal itu adalah bagian dari kerennya seorang blogger.

Nanti, saya akan menjadi blogger keren itu. Blogger yang hanya memberikan manfaat yanpa berharap balasan apa-apa. Semoga saya, kita, bisa menjadi blogger yang keren itu. Blogger yang menebarkan kebaikan di dunia maya. Tanpa harapan balas jasa.

Sudah bertahun-tahun saya mencoba menemukan jati diri saya sendiri dan saya lupa siapa diri saya sebenarnya. Seorang anak kampung yang suka menulis dan bermimpi akan memiliki mesin tik ketika dia dewasa nanti. Itu saja. Sesederhana itu kebahagiaan yang ingin dia capai.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan