60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

8 Oktober 2016

Bukan Lagi Tentang Jakarta




Pernahkah selama ini membayangkan bahwa berada di mana pun, impian kita bisa terwujud?



Dulu Jakarta menjadi tanah impian banyak orang. Jakarta seakan adalah segalanya. Apa pun bisa diraih apabila kita berada di Jakarta. Di Jakarta kita bisa menemukan banyak hal. Saat saya kecil, di kampung saya, menemukan koran yang terbitan minggu lalu pun susahnya minta ampun. Pasti berbeda dengan di Jakarta. Segalanya tersedia.



Anak Kalimantan, berada di pelosok desa. Terpinggirkan. Tak terlihat oleh siapa pun. Listrik masuk ke desa kami saat saya usia belasan tahun. Sebelumnya, kami hidup dalam gulita. Penerangan lampu petromax sudah menjadi hal yang sangat mewah di sana. Televisi yang dinyalakan dengan aki mobil modifikasi sudah jadi keberuntungan. Dengan layar hitam putih dan kadang gambarnya tak jelas, asal ada suaranya ketika penayangan berita di TVRI, sudah cukup bagi kami.





Tak meminta lebih dari negeri ini.



Keinginan saya sejak dulu adalah menjadi penulis. Impian saya selanjutnya hanya membeli mesin tik. Bertahun-tahun saya membayangkan akan punya mesin tik. Namun waktu berputar sedemikian cepatnya. Banyak hal berubah ketika teknologi informasi menggempur dunia ini. Segala-galanya bisa tersebar hitungan jam, menit, bahkan detik. Siapa pun bisa menjadi penulis, tanpa perlu membeli mesin tik.



Coba lihat banyaknya orang yang berada di luar Jakarta, baik itu di kota kecil atau bahkan dari desa pelosok, akhirnya bisa mencuat ke permukaan tanpa perlu mendatangi ibu kota dan mengadu nasibnya di sana. Teknologi informasi dan komunikasi mengubah masa depan banyak orang. Lapangan pekerjaan pun terbuka lebar bagi banyak sekali orang-orang yang punya bakat dan keterampilan.



Saya pikir, untuk menjadi penulis saya harus bisa menembus penerbit mayor dan punya buku best seller di mana-mana. Setidaknya saya harus ke Jakarta. Meninggalkan Kalimantan, tanah kelahiran. Lalu saat teknologi menjadi pisau bermata dua, orang-orang yang mau mencapai impiannya, menggunakannya dengan bijaksana. Ingin jadi penulis mudah saja sekarang. Bergantung apa yang kamu inginkan. Jika sekadar ingin menulis dan tulisan dibaca orang, buat blog, tak sampai 5 menit, sudah punya media untuk menyalurkan keinginan menulis tersebut.



Selama yang ditulis bermanfaat ya tulis saja. Kadang kita tak tahu tulisan yang kita tulis hari ini akan membawa kita ke mana.



Setelah menggenggam teknologi saya sadar bahwa banyak sekali jalan untuk menjadi penulis. Kita bisa menjadi blogger, penulis buku, penulis novel, penulis pemburu lomba. Masih banyak sekali jenis penulis semenjak adanya sosial media yang mempertemukan kita tidak hanya dengan seratus dua ratus orang, tapi berjuta-juta orang bisa kita temui.



Saya yang dulunya anak kecil yang ingin punya mesin tik untuk menyiapkan diri menjadi penulis itu sekarang malah berubah haluan menjadi blogger. Menulis banyak hal. Mengikuti berbagai lomba. Satu hal yang paling penting, saya masih di Kalimantan. Di tanah tempat kelahiran saya. Tidak meninggalkannya demi Jakarta. Karena sekarang kita bisa menjadi apa saja yang kita mau dengan menggunakan teknologi informasi. Lomba menulis juga banyak sekali bisa kita ikuti tanpa perlu ke mana-mana. Cukup duduk di depan komputer dan kita bisa mengirimkan tulisan kita.





Teknologi informasi dan komunikasi menjadikan kita tak terkekang oleh ruang dan waktu. Kita bisa menjadi apa yang kita mau.



Saya tak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi satu-satunya orang di antara banyak peserta lomba menulis Tulis Nusantara pada tahun 2013 yang akan memenangkan piala juara pertamanya untuk kategori cerita pendek. Lomba yang saya temukan dari informasi di internet. Pengiriman naskah hanya lewat email. Begitu mudahnya menunjukkan diri kita pada dunia ini. Dulu? Entah bagaimana perjuangan orang yang ingin tulisannya bisa diterbitkan dan dibaca banyak orang. Sekarang? Status di sosial media pun bisa menjadi sesuatu yang viral.



Teknologi adalah pisau bermata dua. Hal baik dan buruk menjadi satu di dalamnya. Sementara yang lain berusaha memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai prestasi dan mengharumkan negeri ini, ada juga orang-orang yang menggunakannya untuk mencapai popularitas semata.



Di Pontianak ini juga banyak pengusaha makanan yang sukses karena memanfaatkan teknologi. Menggunakan dunia maya sebagai media untuk mempertemukannya dengan banyak pelanggan-pelanggan baru. Seperti Mbak Louis Wulandari yang sangat telaten membuat kue. Dia menggunakan website untuk mempromosikan karya seninya yang bisa dimakan. Tidak hanya indah tapi juga sedap di lidah. Siapa yang tak mengenal beliau? Berbagai jenis panganan bisa dia buat dengan dua tangan lentiknya.



Selain menulis saya juga senang sekali menjual makanan. Berbagai olahan makanan lokal yang ada di Pontianak sekarang sudah banyak yang saya jual ke luar negeri. Seperti Malaysia, Australia, dan Amerika. Awalnya saya hanya mengenal rupiah, semenjak adanya teknologi, dollar sekarang akrab di telinga saya. Tak ada lagi cerita tentang susahnya menjual lempok durian atau sotong pangkong di Kota Pontianak, karena pelanggan mereka di mana-mana.



Ketika teknologi sekarang menjadi hal yang biasa di dalam kehidupan kita, banyak hal yang berubah. Bahkan masa depan orang juga banyak yang berubah. Cara orang mencari uang berubah. Cara orang menyalurkan hobi berubah. Cara orang untuk terkenal juga berubah. Internet mengubah cara pandang dan juga cara kita hidup di dunia ini. Ada yang menjadi lebih dekat dengan adanya teknologi. Tak sedikit pula yang malah menjauh karena keberadaan teknologi ini. Bahkan banyak juga yang celaka karena menggunakan teknologi tanpa adanya filter di dalam dirinya.


Satu hal yang jelas semenjak kita menggunakan teknologi dalam kehidupan kita. Segalanya menjadi lebih mudah. Tak ada lagi cerita kita kesulitan mencari sesuatu atau mencari tahu tentang sesuatu hal yang tak kita pahami. Banyak sekali bantuan teknologi bagi kemajuan hidup kita. Saat rakyatnya semakin maju tentunya negaranya juga akan maju.

Anak-anak yang sekarang lahir, sudah menjadi generasi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka menjadi anak-anak yang berada di era internet. Segalanya menggunakan aplikasi di gadget. Berikan mereka keleluasaan untuk mengeksplorasi dunia ini dengan teknologi dan membuat perubahan besar demi negara ini tanpa perlu mengangkat bambu runcing kembali. Mereka hanya butuh jemarinya dan teknologi akan menyelesaikan sisanya.



Ide-ide brilian akan lahir dari kepala mereka. Hal-hal yang menakjubkan. Sekarang saja, teknologi informasi dan komunikasi sudah hadir dan berbagai keajaiban. Belum lagi dukungan yang diberikan PT XL Axiata Tbk untuk memberikan pengalaman penggunaan data dan internet yang lebih kuat dan lebih luas. Sehingga anak-anak di pelosok negeri tak perlu takut ketinggalan informasi. Tak ada lagi komunikasi yang tak bisa dijalin dari seluruh negeri. Teknologi mengubah segalanya.



Ini bukan lagi tentang Jakarta. Kamu bisa berada di mana saja, kapan saja. Karena kita tak terikat ruang dan waktu untuk mencapai apa yang kita mau di dunia ini. Tak perlu takut dan tak perlu ragu menjadi seseorang yang kamu inginkan. Masa depan itu bernama teknologi. Genggam yang erat, jangan pernah lepaskan.




Kita Indonesia. Manfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang kita miliki sekarang demi kemajuan negeri kita. Jangan sampai teknologi membuat kita menjadi orang yang tak lagi memiliki empati pada sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers