Langsung ke konten utama

Kaldu Ikan Teri





Dari Uwan (nenek) saya belajar banyak hal. Terutama kreativitas saat memasak di dapur. Uwan adalah koki paling hebat di mata saya. Selalu bisa masak enak. Selalu membuat saya rindu dengan masakannya. Walaupun sekarang dia sudah jarang masak. Dia sudah terlalu tua untuk melalukannya.

Makanan yang tak bisa saya lupakan dari Uwan adalah kaldu ikan teri. Jadi dia menyiapkan sarapan itu biasanya memang nasi. Jarang makanan lain. Selalu membuat sendiri. Karena di rumah banyak orang dan butuh banyak uang kalau setiap pagi beli sarapan.

Uwan biasanya merebus ikan teri dengan bawang merah dan putih. Saya tak pernah tahu berapa lama dia merebusnya. Tapi ikan teri yang direbusnya tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Entah mengapa setiap pagi saya bisa makan nasi hanya dengan kuah dari ikan teri rebus tersebut. Saya jarang makan ikan terinya. Karena ikan teri rebus, saya kurang suka. Saya cukup makan dengan kuahnya saja.

Berapa kali saya mencoba membuat kaldu ikan teri seperti yang dibuat Uwan tapi selalu saja gagal. Rasanya berbeda. Ada rasa yang tak muncul dari kaldu buatan saya. Padahal saya membuatnya persis sama dengan buatan Uwan. Sesekali, jika rindu saya akan merebus beberapa ekor ikan teri lalu memotong bawang merah dan putih sebagai tambahan rasanya.

Kemudian saya akan menikmatinya dengan sepiring nasi hangat. Begitu saja. Sudah cukup untuk menjawab kerinduan saya pada masakan Uwan walaupun rasanya benar-benar berbeda.

Ternyata di Korea juga ada kuah yang dibuat dari ikan teri. Kaldu ikan teri. Sama seperti ayam yang punya kaldu, ikan teri juga bisa dijadikan kaldu. Kaldu yang membuat saya kembali pada masa kecil saya dulu. Saat sarapan bersama keluarga. Dengan nasi putih hangat yang dimasak dengan tungku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan